JAKARTA — Bayangkan sebuah negara yang diberkahi matahari tropis sepanjang tahun, angin yang tak henti-hentinya bertiup di pesisir timur, dan ribuan megawatt tenaga air yang terkurung di hulu-hulu sungai Kalimantan dan Papua. Namun, listriknya masih 42% bergantung pada batu bara yang harus diimpor dari luar negeri.
Inilah paradoks energi Indonesia.
Di tengah deru transisi energi global, Indonesia tidak sedang berjalan—ia berlari. Melalui PT PLN (Persero), negara ini meletakkan fondasi infrastruktur paling ambisius dalam sejarah kelistrikan nasional: Green Super Grid senilai USD 25 miliar (sekitar Rp 388 triliun) dan modernisasi Smart Grid yang akan mengubah total cara kita mengonsumsi dan mendistribusikan energi.
Ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ini adalah sebuah pertaruhan raksasa untuk memecahkan trilema energi bangsa: menjaga pasokan tetap aman, harga terjangkau, dan lingkungan berkelanjutan—sekaligus.
Namun, pertanyaan besarnya: mampukah jaringan transmisi sepanjang 63.000 kilometer sirkuit ini benar-benar merealisasikan janji kedaulatan energi, atau justru akan menjadi beban utang generasi mendatang?
Paradoks yang Mengunci Potensi Triliunan Rupiah

Pada sebuah forum investasi di Beijing, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan kalimat yang merangkum frustrasi puluhan tahun pembangunan energi Indonesia: “Kita punya energi melimpah, tapi di tempat yang salah.”
Angka-angkanya mencengangkan. Potensi tenaga air Indonesia mencapai 75 GW, sebagian besar terkunci di Kalimantan dan Papua. Panas bumi 23,9 GW tersebar di sepanjang cincin api Sumatra dan Jawa. Potensi surya dan angin? Nyaris tak terbatas.
Namun, lebih dari 70% permintaan listrik nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali—pulau yang justru minim sumber energi primer.
“Ini bukan soal teknologi pembangkit. Kami bisa membangun PLTA raksasa di Kalimantan besok pagi kalau mau,” ujar seorang pengembang EBT yang meminta anonim karena sensitivitas isu. “Masalahnya: siapa yang akan bayar transmisi ribuan kilometer ke Jawa? Bank mana yang mau biayai proyek dengan payback period 30 tahun?”
Inilah yang disebut ekonom energi sebagai “the last mile problem of renewable energy”—bukan pembangkitnya yang mahal, melainkan mengantarkan listriknya ke konsumen.
Tanpa transmisi, potensi EBT Indonesia senilai triliunan rupiah hanya akan menjadi angka cantik di atas kertas.
Solusi Raksasa: Negara Turun Tangan
Untuk memecahkan deadlock ini, PLN dan Kementerian ESDM mengambil langkah yang belum pernah dilakukan dalam sejarah kelistrikan Indonesia: negara akan membangun dan membiayai sendiri tulang punggung transmisi nasional.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit hingga 2034, kemudian diperpanjang hingga 63.000 kilometer pada 2040.
Untuk memberi gambaran skala: jika jaringan ini dibentangkan lurus, ia akan melingkari bumi lebih dari 1,5 kali.
Green Super Grid dirancang bukan sekadar menghubungkan kota-kota besar, tetapi menjahit pulau-pulau terpencil tempat energi terbarukan terbaik berada. Proyeksi kapasitas yang bisa diintegrasikan mencengangkan:
- 19,6 GW dari tenaga air (setara 13 PLTU Suralaya)
- 16,5 GW dari tenaga surya
- 11,3 GW dari tenaga angin
- 7,1 GW dari panas bumi
Total: 54,5 GW energi bersih—hampir dua kali lipat total kapasitas pembangkit yang ada saat ini.
“Dengan kehadiran negara melalui Green Super Grid, pengembang tidak lagi terbebani investasi transmisi yang besar,” jelas Darmawan Prasodjo. “Risiko berkurang drastis. Harga listrik dari EBT menjadi kompetitif. Bankability proyek meningkat.”
Ini adalah subsidi terselubung yang cerdas: alih-alih memberi insentif tunai yang menguras APBN, pemerintah membangun infrastruktur yang akan dipakai selama 50 tahun ke depan.
Otak Operasi: Smart Grid yang Belajar dari Cuaca

Namun, otot raksasa bernama Super Grid akan lumpuh tanpa otak yang cerdas.
Masalahnya sederhana tapi krusial: energi terbarukan tidak bisa diatur sesuka hati. Surya padam saat mendung. Angin tidak bertiup sesuai jadwal peak demand pukul 19.00. Ini yang disebut sebagai Variable Renewable Energy (VRE)—energi yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi seperti pembangkit fosil.
Jaringan listrik konvensional Indonesia dirancang untuk pembangkit yang stabil 24/7 seperti batu bara dan gas. Ketika ribuan megawatt VRE masuk ke sistem, jaringan bisa menjadi tidak stabil—dalam kasus terburuk, bisa menyebabkan blackout.
Di sinilah modernisasi JAMALI Control Center (Pusat Kendali Jawa-Madura-Bali) menjadi sangat krusial.
Dengan dukungan PBB melalui UNOPS, PLN memodernisasi pusat kendali yang mengelola 79% kapasitas pembangkitan nasional. Proyek yang ditargetkan rampung akhir 2025 ini akan mempersenjatai sistem dengan:
- Sistem peramalan cuaca ultra-akurat untuk memprediksi output surya dan angin 72 jam ke depan
- Advanced Energy Management System yang bisa menyeimbangkan supply-demand dalam hitungan milidetik
- AI-powered dispatch yang belajar dari pola konsumsi dan produksi energi
“Kami kini memiliki cetak biru untuk smart grid yang akan memungkinkan integrasi energi terbarukan secara mulus,” tegas Evy Haryadi, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN.
Tantangannya bukan main-main: pada 2030, sistem JAMALI harus mampu mengelola fluktuasi 3,2 GW VRE—setara dengan 2,5 kali kapasitas PLTU Jawa 7 Cirebon yang dinyalakan dan dimatikan dalam tempo menit.
Dari Konsumen Menjadi Eksportir: Visi Geopolitik

Tapi ambisi PLN tidak berhenti di perbatasan Indonesia.
Dalam roadmap jangka panjang, Super Grid dirancang dengan potensi interkoneksi ke Singapura dan Malaysia—sebuah langkah awal menuju realisasi ASEAN Power Grid, mimpi puluhan tahun negara-negara Asia Tenggara untuk saling berbagi energi.
Bayangkan: ketika matahari tenggelam di Singapura dan demand listrik melonjak, Indonesia bisa mengekspor energi dari PLTA Kalimantan. Ketika angin bertiup kencang di pesisir Sulawesi pada dini hari saat demand rendah, kelebihan listrik bisa dijual ke Malaysia.
Ini adalah transformasi fundamental peran Indonesia dalam peta energi regional—dari importir batu bara menjadi eksportir energi bersih.
“Energi bukan lagi sekadar komoditas utilitas. Ini adalah instrumen geopolitik,” kata Dr. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), sebuah think tank energi. “Negara yang mengontrol transmisi energi bersih akan memiliki bargaining power signifikan dalam ekonomi rendah karbon masa depan.”
Dengan total kebutuhan investasi mencapai USD 150 miliar untuk skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), peran swasta menjadi sangat vital. Pemerintah mengambil alih risiko infrastruktur transmisi yang return-nya rendah, sehingga proyek pembangkitan EBT menjadi lebih menarik bagi investor.
Ini adalah pembagian risiko yang cerdas: negara membangun jalan tol, swasta yang mengisi konten.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Namun, di balik optimisme resmi, sejumlah pertanyaan kritis masih menggantung:
- Dari mana uang Rp 388 triliun akan datang? APBN Indonesia tahun 2025 “hanya” Rp 3.621 triliun. Bahkan jika diasumsikan investasi disebar dalam 15 tahun, ini tetap membutuhkan lebih dari Rp 25 triliun per tahun—angka yang sangat besar di tengah kebutuhan belanja lain seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. PLN dan pemerintah berencana melibatkan swasta dan lembaga pembiayaan multilateral. Tapi pertanyaannya: dengan tingkat pengembalian investasi transmisi yang rendah (sekitar 8-10% per tahun), menarik kah ini bagi investor swasta?
- Apakah kita siap dengan kompleksitas operasional? Mengelola 63.000 km transmisi yang menghubungkan pulau-pulau dengan karakteristik geografis berbeda bukan perkara mudah. Satu gangguan di Sumatera bisa berdampak cascade ke Jawa jika tidak dikelola dengan baik.
- Bagaimana dengan ketahanan terhadap bencana? Indonesia adalah negara ring of fire dengan risiko gempa, tsunami, dan letusan gunung api yang tinggi. Apakah Super Grid sudah dirancang dengan redundancy yang cukup? Apa rencana kontinjensi jika terjadi bencana besar?
Kedaulatan yang Dipertaruhkan
Pada akhirnya, Super Grid dan Smart Grid bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah taruhan terhadap masa depan kedaulatan energi Indonesia.
Jika berhasil, Indonesia akan memiliki sistem energi yang tangguh, bersih, dan mandiri—sistem yang tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga batu bara global atau ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang menentukan harga minyak.
Jika gagal? Indonesia akan terjebak dalam middle-income trap dengan infrastruktur energi yang ketinggalan zaman, emisi karbon yang terus membengkak, dan ekonomi yang kalah bersaing dengan negara-negara yang lebih dulu go green.
Di bawah kabel-kabel tegangan tinggi yang akan membentang dari Aceh hingga Papua itu, terbentang nasib 280 juta jiwa yang kehidupannya akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana:
Mampukah kita mengubah paradoks geografis menjadi keunggulan strategis?
Jawabannya akan tertulis dalam kilowatt-jam yang mengalir melalui urat nadi baja di bawah nusantara ini, satu per satu, dalam dekade-dekade mendatang.
***
Catatan Penulis: Artikel ini disusun berdasarkan data dari RUPTL PLN 2025-2034, salinan wawancara dengan stakeholder energi di berbagai media cetak dan daring, dan analisis independen. Detail teknis dan finansial PLN hingga batas waktu penerbitan belum berhasil kami dapatkan.























