LUWU TIMUR, WARTAKITA.ID – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 3,2 mengguncang wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Kamis (6/11/2025) pagi, pukul 07.08 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan pusat gempa berada di darat dan tidak berpotensi tsunami, namun getaran yang berlangsung singkat memicu kepanikan sesaat di kalangan warga. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan material yang signifikan.
Berdasarkan analisis BMKG Wilayah IV Manado yang dirilis pada pukul 07.15 WITA, episentrum gempa terletak pada koordinat 2,37 Lintang Selatan dan 120,98 Bujur Timur. Lokasi pusat gempa berada di darat, sekitar 31 kilometer arah barat laut dari pusat Kabupaten Luwu Timur, pada kedalaman hiposentrum 10 kilometer. Guncangan dirasakan selama 5 hingga 10 detik di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Nuha dan Mangkutana, dengan skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity), di mana getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan tergantung bergoyang. Sebuah gempa susulan (aftershock) berkekuatan lebih kecil tercatat pada pukul 07.20 WITA.
Akibat guncangan tersebut, sebagian warga yang sedang beraktivitas di dalam rumah berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri ke area terbuka. Tim Reaksi Cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan segera melakukan asesmen cepat di lapangan, dengan fokus pada inspeksi infrastruktur vital seperti jembatan dan gedung sekolah, namun belum menemukan adanya kerusakan struktural.
Analisis Penyebab dan Konteks Geologis
Kepala Stasiun Geofisika BMKG menyatakan bahwa gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar atau patahan lokal. Wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Luwu Timur, berada di zona pertemuan lempeng tektonik yang kompleks, dipengaruhi oleh tekanan dari lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Aktivitas pada zona subduksi Sulawesi secara rutin menghasilkan gempa bumi dengan skala kecil hingga menengah.
Ancaman Ikutan: Peningkatan Risiko Longsor di Sekitar Danau Matano
Meskipun kekuatan gempa tergolong rendah, para ahli mengingatkan adanya potensi bahaya ikutan (collateral hazard), terutama tanah longsor. Lokasi episentrum yang berdekatan dengan kawasan Danau Matano, yang memiliki topografi curam, menjadi perhatian khusus. Faktor curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir disinyalir telah meningkatkan tingkat kejenuhan air dalam tanah, sehingga getaran gempa, sekecil apa pun, dapat menjadi pemicu longsoran.
Dampak dan Kesiapsiagaan Bencana di Sulawesi Selatan
Insiden ini kembali menegaskan status Sulawesi Selatan sebagai daerah rawan gempa. Data historis dan pemodelan BMKG memproyeksikan wilayah ini dapat mengalami hingga 20 kali gempa berskala kecil setiap bulannya. Bagi masyarakat di Luwu Timur, khususnya kelompok petani dan nelayan yang banyak beraktivitas di luar ruangan dan di area perbukitan atau pesisir, pemahaman mitigasi bencana menjadi sangat krusial. Guncangan gempa dapat memicu longsor di lahan pertanian perbukitan atau bahkan mengubah kontur dasar perairan dangkal yang memengaruhi area tangkapan ikan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebelumnya telah mengalokasikan dana sebesar Rp5 miliar untuk program retrofitting atau penguatan struktur bangunan publik yang dianggap rawan, seperti sekolah dan puskesmas di zona-zona merah gempa. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, di bawah pimpinan Bupati Hadi Oh Muis, juga telah mengaktifkan status siaga darurat dan mengintensifkan program edukasi siaga bencana melalui kanal-kanal komunitas seperti masjid dan sekolah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Gempa Magnitudo 3,2 di Luwu Timur pada Kamis pagi tidak menimbulkan dampak destruktif secara langsung. Namun, peristiwa ini berfungsi sebagai pengingat penting akan kerawanan seismik di wilayah Sulawesi Selatan. Fokus utama pasca-gempa adalah kewaspadaan terhadap potensi bencana ikutan seperti tanah longsor, serta percepatan program mitigasi struktural dan non-struktural untuk meminimalisir risiko di masa depan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan BPBD.























