LIMA, PERU – Langit di atas Lima, Peru, pada November 2025 terasa dingin, mencerminkan ketegangan global yang kerap menyelimuti forum-forum ekonomi tingkat tinggi. Para pemimpin negara-negara Asia-Pasifik berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC, sebuah panggung formal yang biasanya dipenuhi pidato-pidato berbobot dan jabat tangan kaku. Namun, di tengah suasana yang sarat protokol itu, sebuah momen tak terduga berhasil mencairkan suasana, bahkan memicu gelombang optimisme di pasar saham.
Kamera-kamera jurnalis dan mata para delegasi mungkin tertuju pada meja perundingan, namun perhatian publik seketika teralih pada sebuah video berdurasi singkat yang kemudian meledak di jagat maya. Dalam rekaman 10 detik yang diunggah ke Instagram dan kemudian menyebar bak api di padang rumput kering, terlihat Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dengan gestur yang lugas namun ramah, menggeser kursi di sampingnya. Bukan sembarang geseran, melainkan sebuah undangan tak terucap kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk berbincang santai di tengah keramaian KTT.
Prabowo, dengan senyum khasnya, merespons undangan itu. Suasana formal seketika luntur, digantikan kehangatan obrolan ringan yang terekam samar, namun cukup kuat untuk menyiratkan kedekatan. Video tersebut, yang viral dalam hitungan jam dan mencapai lebih dari 2 juta penayangan di platform X (sebelumnya Twitter), bukan hanya sekadar cuplikan interaksi antar pemimpin. Ia adalah simbol diplomasi modern yang berbicara lebih banyak melalui bahasa tubuh dan gestur personal, dibandingkan deretan kata-kata resmi.
Ketika Kursi Berbicara Lebih Keras dari Pidato
Momen “geser kursi” ini segera menjadi buah bibir. Netizen, yang selalu cepat tanggap, menjulukinya sebagai “diplomasi ala Gibran” – sebuah referensi pada gaya komunikasi yang informal, langsung, dan seringkali efektif. Meme-meme bertema “kursi diplomasi” pun bermunculan, menunjukkan bagaimana masyarakat mengapresiasi pendekatan yang lebih manusiawi dan tidak kaku dalam hubungan antarnegara. Ini adalah cerminan bahwa di era digital, politik bukan lagi hanya tentang podium dan pidato, tetapi juga tentang koneksi personal yang tulus.
Namun, di balik kesederhanaan gestur itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dan substansial. Obrolan santai antara Takaichi dan Prabowo, yang terekam dalam video, ternyata bukan hanya sekadar basa-basi. Informasi yang dihimpun Wartakita.id menyebutkan bahwa perbincangan singkat itu menyentuh isu krusial: potensi investasi Jepang di sektor kendaraan listrik (EV) Indonesia, dengan nilai fantastis mencapai Rp100 triliun. Angka ini bukan main-main, menunjukkan keseriusan kedua belah pihak dalam membangun kemitraan ekonomi strategis di masa depan.
Bagi Indonesia, investasi EV senilai Rp100 triliun adalah angin segar. Negeri ini memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, bahan baku vital untuk baterai EV, dan tengah gencar memposisikan diri sebagai hub produksi kendaraan listrik global. Kemitraan dengan Jepang, salah satu raksasa otomotif dunia dengan teknologi canggih dan pengalaman industri yang tak tertandingi, adalah langkah strategis untuk mewujudkan ambisi tersebut. Ini bukan hanya tentang membangun pabrik, tetapi juga mentransfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong ekosistem industri yang lebih maju.
Aliansi Asia yang Kuat di Tengah Badai Proteksionisme
Momen hangat di APEC ini terasa semakin signifikan mengingat konteks global yang penuh tantangan. Di tengah gelombang proteksionisme yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi yang membayangi, KTT APEC di Peru menjadi ajang penting untuk menegaskan kembali komitmen terhadap perdagangan bebas dan kerja sama regional. Tindakan PM Takaichi yang proaktif dan respons positif dari Presiden Prabowo menjadi bukti nyata bahwa aliansi Asia, khususnya antara Indonesia dan Jepang, tetap kuat dan relevan.
Jepang, sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia, telah lama menjadi mitra strategis. Sejarah panjang kerja sama di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga manufaktur, menjadi fondasi kokoh bagi kemitraan ini. Momen “geser kursi” itu menegaskan bahwa hubungan bilateral tidak hanya berjalan di level pemerintahan, tetapi juga terbangun atas dasar rasa saling percaya dan persahabatan personal antar pemimpin.
Dampak dari momen viral ini pun tak butuh waktu lama untuk terasa di pasar. Sehari setelah video itu menyebar, saham-saham perusahaan otomotif di Indonesia mengalami kenaikan signifikan, rata-rata mencapai 5%. Ini menunjukkan bagaimana sentimen positif dari sebuah interaksi diplomatik informal dapat langsung diterjemahkan menjadi kepercayaan investor dan pergerakan pasar yang menguntungkan. Pasar merespons sinyal kuat bahwa kedua negara siap melangkah maju dalam agenda ekonomi yang ambisius.
Diplomasi Modern: Senyuman, Kepercayaan, dan Hasil Nyata
November 2025 di Peru mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang diplomasi di era kontemporer. Bukan lagi melulu tentang pidato-pidato panjang yang menguras energi atau negosiasi alot di balik pintu tertutup. Terkadang, sebuah senyuman tulus, gestur sederhana seperti menggeser kursi, atau candaan ringan tentang sushi, bisa menjadi katalisator bagi kesepakatan besar yang bernilai triliunan rupiah.
Momen antara PM Sanae Takaichi dan Presiden Prabowo Subianto adalah pengingat bahwa di balik gelar dan jabatan, ada individu-individu yang dapat menjalin koneksi personal. Koneksi inilah yang seringkali menjadi fondasi terkuat bagi kerja sama bilateral yang langgeng dan produktif. Kisah “kursi diplomasi” ini akan dikenang bukan hanya sebagai viralitas sesaat, melainkan sebagai sebuah narasi inspiratif tentang bagaimana kehangatan personal dapat membuka jalan bagi kemajuan ekonomi dan penguatan aliansi di panggung global.























