Menyusul peringatan dini BMKG tentang potensi banjir akibat curah hujan tinggi, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta telah mengambil langkah proaktif dengan menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tim gawat darurat. Kesiapan ini krusial untuk menghadapi lonjakan kebutuhan medis dan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.
Kesiapsiagaan Penuh Faskes DKI Jakarta
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menekankan pentingnya kesiapan setiap pimpinan faskes, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit. Beliau menegaskan bahwa tim kegawatdaruratan harus selalu siap siaga untuk bertugas kapan saja.
“Saya betul-betul menekankan pada semua pimpinan faskes apakah itu Puskesmas atau rumah sakit, untuk selalu menyiagakan tim kegawatdaruratannya yang bisa setiap saat siap untuk bertugas,” ujar Ani di Jakarta, Rabu.
Mengapa Kesiapsiagaan Ini Sangat Krusial?
Peringatan BMKG memprediksi curah hujan tinggi akan berlanjut selama beberapa hari ke depan, yang secara signifikan meningkatkan risiko banjir dan genangan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu mobilitas warga tetapi juga akses vital ke fasilitas kesehatan. Lebih lanjut, diperkirakan akan terjadi lonjakan kasus penyakit yang berkaitan erat dengan banjir, seperti infeksi akibat air tercemar dan berbagai penyakit pasca-banjir.
Tantangan Tenaga Kesehatan dan Manajemen Sumber Daya
Ani Ruspitawati juga mengingatkan bahwa tenaga kesehatan harus memiliki kompetensi manajemen bencana yang memadai dan senantiasa memperbarui pengetahuan mereka. Dalam penanganan bencana, tenaga kesehatan, bersama tim BPBD, menjadi garda terdepan. Tanpa kesiapan dan kompetensi yang memadai, mereka berisiko menjadi korban.
Selain itu, faskes berpotensi menghadapi kendala sumber daya manusia (SDM) saat bencana terjadi. Jam kerja yang lebih panjang dan hambatan akses bagi tenaga kesehatan dapat membatasi ketersediaan personel. Oleh karena itu, manajemen SDM yang efektif menjadi kunci utama.
Kepala Pusat Pelatihan Kesehatan Daerah (Puslatkesda) DKI Jakarta, Fify Mulyani, menambahkan bahwa dalam situasi darurat seperti banjir, faskes dihadapkan pada tantangan besar untuk mempertahankan pelayanan optimal di tengah keterbatasan sumber daya, peningkatan jumlah pasien, dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif.
Potensi Risiko Kesehatan Akibat Banjir
Cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan banjir di DKI Jakarta membawa sejumlah permasalahan kesehatan serius. Risiko-risiko tersebut meliputi:
- Peningkatan jumlah korban, baik yang terdampak langsung oleh banjir maupun akibat luka-luka.
- Paparan terhadap air tercemar yang dapat memicu berbagai penyakit.
- Potensi peningkatan penyakit menular yang sering muncul saat dan setelah banjir terjadi.
- Gangguan signifikan pada kelancaran pelayanan kesehatan.
Oleh karena itu, peningkatan kesiapan dan kemampuan tenaga kesehatan dalam manajemen kesehatan darurat, termasuk penanganan luka akibat air tercemar dan upaya pencegahan penyakit menular, menjadi prioritas utama.























