Di tengah hiruk pikuk proyeksi ekonomi makro dan manuver politik menjelang pergantian tahun 2025, lensa redaksi Wartakita.id memilih untuk menyorot sebuah kisah yang bekerja dalam sunyi, jauh dari gemerlap panggung nasional. Ini adalah kisah tentang disrupsi, pengorbanan, dan visi yang melampaui batas-batas geografis serta birokrasi. Sosok itu bernama Daeng Naba (58 tahun), seorang “Profesor” tanpa gelar yang mendirikan “Sekolah Langit” di Pulau Liukang Tangaya, Pangkep, sebuah kepulauan terluar yang secara geografis lebih dekat ke NTB/Bali daripada ke pusat pemerintahan Makassar.
Daeng Naba bukanlah seorang akademisi, apalagi pejabat publik. Ia hanyalah mantan nelayan yang bahkan tidak sempat menamatkan pendidikan SMP. Namun, di balik kerutan wajah dan tangan kasarnya, tersembunyi kekhawatiran mendalam terhadap masa depan anak-anak di pulaunya. Ia melihat jurang ketertinggalan pendidikan yang menganga lebar, sebuah kondisi yang seolah menjadi takdir bagi mereka yang lahir dan besar di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kekhawatiran inilah yang kemudian memantik sebuah keputusan radikal, sebuah pengorbanan yang tak terduga.
Sebuah Pengorbanan, Sebuah Lompatan Teknologi
Dengan tabungan haji yang telah ia kumpulkan selama sepuluh tahun, Daeng Naba membuat pilihan yang akan mengubah trajectory hidup banyak anak di pulau itu. Ia tidak berangkat ke Tanah Suci. Sebaliknya, ia menginvestasikan seluruh dana tersebut untuk membeli perangkat internet satelit Starlink dan lima unit laptop bekas. Sebuah keputusan yang, bagi sebagian orang, mungkin terdengar gila. Namun bagi Daeng Naba, ini adalah investasi pada masa depan yang lebih cerah, sebuah “haji” yang berbeda, yang pahalanya ia yakini akan terus mengalir melalui setiap ilmu yang diserap anak-anak didiknya.
Di teras rumah panggungnya yang sederhana, Daeng Naba mendirikan apa yang ia sebut “Sekolah Langit”. Konsepnya jauh dari institusi pendidikan formal: tanpa guru bergelar, tanpa kurikulum baku yang rumit, dan tanpa bangunan megah. Ironisnya, Daeng Naba sendiri tidak bisa berbahasa Inggris—sebuah prasyarat umum dalam dunia teknologi. Namun, ia tidak membiarkan keterbatasan itu menjadi penghalang. Ia memanfaatkan kekuatan teknologi yang baru saja dibawanya: Artificial Intelligence (AI) dan ribuan video tutorial gratis yang tersebar di jagat maya. Dengan AI sebagai “penerjemah” dan “mentor”, serta video-video tersebut sebagai “kurikulum”, ia membimbing anak-anak pulau untuk belajar koding dasar dan bahasa asing.
“Saya bodoh, tapi cucu saya tidak boleh bodoh. Laut kita luas, tapi kalau otak kita sempit, kita cuma jadi kuli di laut sendiri,” tuturnya saat diwawancarai kontributor kami via panggilan video. Sebuah kalimat yang menusuk, mengandung kearifan lokal sekaligus kritik tajam terhadap kondisi yang ada. Ini adalah manifesto dari seorang nelayan yang menolak menyerah pada keterbatasan, yang melihat potensi tak terbatas di balik layar laptop dan koneksi internet yang ia perjuangkan sendiri.
Disrupsi Pendidikan dan Tamparan bagi Birokrasi
Kisah Daeng Naba bukanlah sekadar narasi inspiratif, melainkan sebuah studi kasus nyata tentang disrupsi pendidikan di era digital. Ia membuktikan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas, bahkan yang paling mutakhir sekalipun seperti AI dan koding, tidak lagi terhalang oleh sekat geografis atau minimnya infrastruktur fisik. Starlink, sebagai teknologi internet satelit, menjadi jembatan vital yang menghubungkan pulau terpencil itu dengan lautan informasi global, memangkas jarak yang selama ini menjadi momok bagi daerah 3T.
Lebih dari itu, “Sekolah Langit” Daeng Naba adalah sebuah tamparan telak bagi wajah birokrasi pendidikan yang kerap lamban dan terpaku pada paradigma konvensional. Inisiatifnya secara terang-terangan menyoroti kegagalan sistematis negara dalam menjangkau dan memberikan layanan pendidikan yang merata hingga ke pelosok terjauh. Ketika pemerintah masih berkutat dengan perencanaan pembangunan sekolah fisik atau pengiriman guru ke daerah terpencil, Daeng Naba telah melompat jauh ke depan, membawa teknologi masa depan langsung ke tangan anak-anak didiknya. Ia menunjukkan bahwa solusi inovatif seringkali muncul dari akar rumput, dari individu-individu yang memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak di luar kerangka formal.
Wajah Harapan Sulawesi Selatan dan Indonesia
Kisah Daeng Naba yang viral di akhir 2025 ini menjadi penanda bahwa semangat literasi dan inovasi tidak mengenal batas. Ia adalah bukti nyata bahwa di atas karang gersang sekalipun, benih-benih kemajuan bisa tumbuh subur, asalkan disiram dengan ketulusan dan keberanian. Daeng Naba bukan hanya pahlawan lokal; ia adalah simbol ketahanan, adaptasi, dan visi jauh ke depan yang patut diteladani secara nasional.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia Indonesia, Daeng Naba adalah arsitek masa depan yang tak disengaja. Ia tidak hanya mengajar anak-anak bagaimana mengoperasikan komputer atau menulis kode, tetapi juga menanamkan benih kemandirian berpikir, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri bahwa mereka, anak-anak pulau terluar, juga memiliki tempat di era digital yang kompetitif. Ia mengubah “kuli laut” menjadi calon-calon inovator, mengubah keterbatasan menjadi peluang, dan mengubah isolasi geografis menjadi gerbang menuju pengetahuan global.
Daeng Naba adalah wajah harapan Sulawesi Selatan di masa depan, sebuah narasi yang menegaskan bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari gedung-gedung pencakar langit atau megahnya infrastruktur, melainkan dari kapasitas individu untuk menciptakan perubahan positif, satu anak pulau pada satu waktu. Ia adalah “Profesor” sejati, bukan karena gelar yang tersemat di namanya, melainkan karena kearifan, pengorbanan, dan dampak transformatif yang ia hadirkan bagi generasi mendatang.























