Wartakita.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah strategis dengan mengerahkan mahasiswa teknik ke lokasi bencana di Sumatera. Langkah ini bertujuan mempercepat dan memvalidasi pendataan rumah rusak akibat bencana, memastikan bantuan tepat sasaran.
Peristiwa bencana alam tak henti-hentinya melanda berbagai wilayah di Indonesia, menimbulkan kerugian materiil dan immateriil yang tak sedikit. Di tengah upaya pemulihan pascabencana, akurasi data menjadi kunci utama untuk memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Menyadari hal ini, BNPB kini menggandeng kekuatan intelektual muda dari perguruan tinggi.
Mahasiswa Teknik, Tulang Punggung Validasi Data Bencana
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari (Aam), menjelaskan bahwa mahasiswa dari fakultas teknik, khususnya Teknik Sipil dan Arsitektur, akan diberdayakan. Tugas utama mereka adalah melakukan validasi terhadap data kerusakan rumah yang telah dilaporkan.
“Kita juga akan menurunkan mahasiswa-mahasiswa keteknikan, khususnya Sipil dan Arsitektur, untuk memvalidasi data ini,” ungkap Aam dalam sebuah jumpa pers pada Selasa (6/1). Langkah ini bukan sekadar menambah jumlah personel, melainkan memastikan setiap kriteria kerusakan rumah terverifikasi secara profesional.
Dampak Validasi Data bagi Korban Bencana
Peran mahasiswa teknik ini sangat krusial karena data yang mereka kumpulkan akan menentukan hak-hak warga terdampak. Kriteria kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat, akan menjadi dasar penentuan besaran insentif yang berhak diterima. Rinciannya adalah Rp 30 juta untuk rumah rusak sedang dan Rp 15 juta untuk rumah rusak ringan.
Selain itu, validasi data ini juga akan menentukan prioritas warga yang membutuhkan hunian sementara (huntara) atau bahkan hunian tetap (rutilahu). Hal ini penting agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih terstruktur dan efektif, serta menghindari potensi tumpang tindih data atau kesalahan penyaluran bantuan.
Angka Kerusakan dan Kebutuhan Mendesak
Aam memaparkan data terkini yang masuk ke BNPB, total rumah yang mengalami rusak berat mencapai 48.786 unit. Angka ini menjadi dasar identifikasi kebutuhan mendesak untuk penyediaan hunian sementara dan dukungan rumah layak huni bagi para penyintas bencana.
Sebagai contoh nyata, di Sumatera Barat, sekitar 400 mahasiswa teknik dari Universitas Andalas telah diturunkan untuk melakukan tugas serupa. Keberadaan mereka di lapangan memungkinkan adanya pengukuran dan penilaian kerusakan yang lebih objektif, sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
Pesan untuk Relawan dan Masyarakat
Langkah BNPB ini menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas penanganan bencana. Keterlibatan mahasiswa teknik diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan memberikan kepastian bagi para korban bencana.
Bagi mahasiswa teknik yang terlibat, ini adalah kesempatan berharga untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah demi kemanusiaan. Bagi masyarakat terdampak, ini adalah harapan baru untuk mendapatkan hak-hak mereka secara adil dan transparan.
Tanya Jawab Seputar Peran Mahasiswa Teknik di Zona Bencana
1. Mengapa BNPB melibatkan mahasiswa teknik dalam pendataan pascabencana?
BNPB melibatkan mahasiswa teknik, khususnya Sipil dan Arsitektur, karena keahlian mereka dalam menilai dan memvalidasi tingkat kerusakan bangunan secara teknis. Ini memastikan data yang akurat untuk penyaluran bantuan.
2. Insentif apa saja yang akan diterima warga berdasarkan data validasi mahasiswa teknik?
Warga yang rumahnya terverifikasi rusak sedang akan menerima insentif Rp 30 juta, sementara yang rusak ringan akan menerima Rp 15 juta. Data ini juga menentukan kebutuhan hunian sementara atau tetap.
3. Berapa jumlah rumah rusak berat yang terdata oleh BNPB hingga saat ini?
Hingga saat ini, total rumah yang terdata mengalami rusak berat mencapai 48.786 unit.
4. Apakah sudah ada daerah di Sumatera yang menerapkan strategi ini?
Ya, strategi ini telah diterapkan di Sumatera Barat, dengan pengerahan sekitar 400 mahasiswa teknik dari Universitas Andalas.
5. Bagaimana memastikan data yang dikumpulkan mahasiswa teknik bersifat objektif?
Proses validasi dilakukan berdasarkan kriteria kerusakan yang telah ditetapkan secara profesional dan standar teknis, sehingga meminimalkan bias dan memastikan objektivitas.























