Wartakita.id – Kawasan Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Padang, kembali dilanda banjir susulan pada Jumat, 2 Januari 2026. Peristiwa ini memaksa puluhan warga mengungsi dan menyisakan lumpur tebal di permukiman.
Duka kembali menyelimuti warga Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Aliran Sungai Batang Kuranji yang meluap pada Jumat (2/1/2026) bukan sekadar membawa air, melainkan juga ancaman nyata dan kerusakan yang mendalam. Pasca banjir, warga terpaksa kembali ke rumah mereka yang dipenuhi lumpur, dengan sebagian bangunan masih dalam kondisi memprihatinkan.
Ancaman Sungai Batang Kuranji Kian Nyata
Banjir yang terjadi pada Jumat sore itu menerjang permukiman warga dengan cepat. Debit air Sungai Batang Kuranji yang meningkat drastis membuat bantaran sungai terkikis, bahkan menghanyutkan sejumlah bangunan rumah. Warga melaporkan air mencapai ketinggian sepinggang orang dewasa hanya dalam hitungan jam.
Desni (54), salah seorang warga Kampung Chaniago, menuturkan bagaimana banjir mulai meluap sekitar pukul 18.00 WIB dan dalam dua jam kemudian sudah merendam rumah warga. “Air sudah setinggi sepinggang orang dewasa,” ungkapnya getir.
Rumah Rusak, Pengungsian Jadi Pilihan
Meski banjir mulai surut sekitar pukul 23.00 WIB pada malam yang sama, sebagian besar warga belum bisa kembali menempati rumah mereka. Endapan lumpur tebal membuat hunian tidak layak pakai. Akibatnya, banyak yang memilih untuk bertahan di lokasi pengungsian sementara, menunggu kondisi rumah benar-benar pulih.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Warga berhasil dievakuasi lebih awal sebelum air bah mencapai pemukiman mereka. Namun, kerugian material tak bisa dihindari, dengan beberapa rumah dilaporkan rusak parah dan hanyut terbawa arus deras sungai.
Erosi Sungai Mengikis Kehidupan
Yang lebih mengkhawatirkan, banjir kali ini memperlihatkan dampak jangka panjang yang serius. Bendungan tanah yang sempat dibuat warga pascabanjir sebelumnya kini telah hilang. Akibatnya, aliran Sungai Batang Kuranji kini merangsek lebih dekat ke permukiman, menyempit dari jarak 30-40 meter menjadi hanya 5-10 meter.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar akan ancaman erosi sungai yang semakin parah. Desni dan warga lainnya berharap agar pemerintah dan pihak terkait segera mengambil tindakan nyata. Penanganan serius dibutuhkan untuk mencegah permukiman mereka terkikis habis oleh aliran sungai yang semakin agresif, demi keselamatan dan kelangsungan hidup warga.
Harapan Warga untuk Solusi Konkret
Peristiwa ini bukan hanya tentang genangan air dan lumpur, tetapi tentang keberlangsungan hidup puluhan keluarga yang bergantung pada bantaran sungai. Respons cepat dan solusi permanen dari pemerintah sangat dinantikan. Penataan bantaran sungai, normalisasi, atau pembangunan tanggul yang kuat menjadi prioritas mendesak agar mimpi buruk banjir tidak terus menghantui Kelurahan Gurun Laweh.























