MAKASSAR, WartaKita.id – Kobaran api hebat melahap sebagian Asrama TNI Bara-Barayya di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar, pada Minggu sore, 27 Desember 2015, sekitar pukul 15.30 WITA. Insiden ini tak hanya meninggalkan puing dan abu, tetapi juga menyoroti kerentanan infrastruktur lama serta kesiapsiagaan darurat di lingkungan padat penduduk seperti kompleks militer. Respons cepat namun terbatas dari warga dengan peralatan seadanya menjadi saksi bisu betapa gentingnya situasi, memicu pertanyaan mendalam tentang standar keamanan dan dampak jangka panjang bagi para penghuni, terutama keluarga prajurit yang menjadi tulang punggung pertahanan negara.
Skala Kebakaran dan Respon Awal Komunitas di Bara-Barayya

Api yang menyala pada Minggu sore itu dengan cepat menyebar, menciptakan kepanikan di antara penghuni Asrama TNI Bara-Barayya. Saksi mata melaporkan bahwa jilatan api terlihat membesar dalam hitungan menit, mengancam bangunan-bangunan lain yang berdekatan. Dalam kondisi darurat tersebut, warga setempat, termasuk anggota keluarga prajurit, menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa. Dengan ember berisi air, karung basah, dan alat sealatnya, mereka bahu-membahu mencoba memadamkan api sebelum bantuan profesional tiba. Upaya heroik ini, meskipun terbatas, berhasil mencegah penyebaran api yang lebih luas ke unit-unit asrama lainnya, menunjukkan ketangguhan komunitas di tengah musibah.
Bagi penghuni Asrama TNI Bara-Barayya, yang sebagian besar adalah keluarga prajurit, insiden ini bukan hanya kehilangan materi, tetapi juga mengguncang fondasi keamanan dan kenyamanan rumah tangga yang menjadi penopang tugas negara para prajurit. Ketergantungan pada alat seadanya dalam menghadapi amukan api ini menggarisbawahi tantangan krusial dalam sistem tanggap darurat awal di lingkungan asrama, menuntut evaluasi menyeluruh terhadap ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran internal dan pelatihan mitigasi bencana bagi penghuni.
Menggali Penyebab: Kerentanan di Balik Dinding Asrama

Investigasi Awal dan Dugaan Sumber Api
Meskipun data resmi penyebab pasti kebakaran Asrama Bara-Barayya pada 2015 belum dirilis secara luas, pengalaman menunjukkan bahwa kebakaran di kompleks perumahan padat seringkali berakar pada beberapa faktor umum. Dugaan awal seringkali mengarah pada korsleting listrik, mengingat usia bangunan asrama yang mungkin sudah tua dengan instalasi listrik yang belum diperbarui. Selain itu, kelalaian penggunaan peralatan rumah tangga yang menghasilkan panas tinggi atau kompor yang tidak diawasi juga menjadi potensi pemicu. Penyelidikan mendalam dari pihak berwenang, seperti kepolisian dan tim forensik, adalah kunci untuk mengungkap “mengapa” di balik musibah ini, memastikan pembelajaran dapat diambil untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Tantangan Infrastruktur Lama dan Standar Keamanan Kebakaran
Asrama TNI, termasuk Bara-Barayya, seringkali merupakan bangunan yang telah berdiri puluhan tahun. Usia bangunan membawa serta tantangan infrastruktur yang signifikan, terutama terkait sistem kelistrikan dan material bangunan. Instalasi listrik yang usang, beban listrik berlebih akibat penggunaan peralatan modern, serta minimnya sistem deteksi dan pemadam api otomatis seringkali menjadi kerentanan fatal. Standar keamanan kebakaran modern seringkali tidak terpenuhi di bangunan lama, yang bisa mempercepat penyebaran api dan mempersulit upaya pemadaman. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pimpinan TNI dan pemerintah daerah untuk audit keamanan komprehensif serta program revitalisasi infrastruktur, bukan hanya di Bara-Barayya, tetapi juga di seluruh kompleks asrama militer.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang bagi Penghuni Bara-Barayya
Kerugian Material dan Trauma Psikologis
Kebakaran di Asrama Bara-Barayya mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit, mulai dari perabotan rumah tangga, dokumen penting, hingga kenangan berharga yang ikut hangus terbakar. Lebih dari sekadar kerugian fisik, insiden ini juga menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi para korban. Rasa kehilangan, ketidakpastian akan masa depan, dan trauma menyaksikan rumah dilahap api dapat menghantui penghuni, terutama anak-anak. Kebutuhan akan bantuan psikososial, selain bantuan sandang pangan, menjadi krusial untuk memulihkan kondisi mental dan emosional keluarga prajurit yang terdampak.
Respon Pemerintah dan TNI: Bantuan dan Rekonstruksi
Pasca-kejadian, respon dari institusi TNI dan pemerintah daerah sangat dinantikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, bersama satuan TNI setempat, diharapkan bergerak cepat dalam memberikan bantuan darurat seperti penampungan sementara, makanan, dan kebutuhan dasar lainnya. Rencana rekonstruksi atau relokasi bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal menjadi prioritas utama. Kejadian ini juga menjadi momentum bagi pimpinan TNI untuk mengevaluasi dan meningkatkan program kesejahteraan prajurit, termasuk aspek keamanan hunian mereka, serta memastikan dukungan penuh bagi keluarga yang terdampak musibah.
Pelajaran dari Bara-Barayya: Mendesak Revitalisasi Keamanan Kebakaran
Kebakaran di Asrama TNI Bara-Barayya, meski terjadi bertahun-tahun lalu, tetap menjadi pengingat penting akan urgensi mitigasi bencana dan peningkatan standar keamanan kebakaran di lingkungan padat penduduk, khususnya di kompleks militer. Ini bukan hanya tentang respons pasca-kejadian, tetapi tentang investasi proaktif dalam pencegahan. Program audit keamanan bangunan berkala, pembaruan instalasi listrik, penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap unit, serta pelatihan evakuasi dan penanganan kebakaran bagi seluruh penghuni asrama harus menjadi agenda prioritas. Kejadian di Bara-Barayya menjadi cermin bagi asrama-asrama TNI sejenis di Makassar dan seluruh Indonesia, mengingatkan akan urgensi audit keamanan bangunan dan peningkatan fasilitas proteksi kebakaran, mengingat banyak bangunan asrama yang telah berdiri puluhan tahun dan membutuhkan perhatian serius.
Pemerintah daerah, bersama TNI, memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa rumah tangga para prajurit dilindungi dari ancaman kebakaran, sehingga mereka dapat menjalankan tugas negara dengan tenang dan optimal. Mengabaikan pelajaran dari Bara-Barayya sama dengan membiarkan kerentanan yang sama terus menghantui.
Kesimpulan: Insiden kebakaran di Asrama TNI Bara-Barayya pada 2015 adalah lebih dari sekadar berita duka; ia adalah panggilan darurat untuk reformasi sistemik dalam keamanan kebakaran di seluruh kompleks hunian militer. Dengan menelaah penyebab, menganalisis dampak, dan mengambil pelajaran berharga, kita dapat membangun fondasi keamanan yang lebih kuat, memastikan bahwa setiap keluarga prajurit hidup dalam lingkungan yang aman dan terlindungi dari ancaman “jago merah” di masa mendatang.






















