Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan upaya terkoordinasi di seluruh dunia untuk menangkal sentimen negatif yang dianggap sebagai ‘permusuhan’ asing. Langkah ini melibatkan pengerahan staf kedutaan, unit operasi psikologis militer, dan pemanfaatan platform digital.
AS Lancarkan Kampanye Kontra-Sentimen Global
Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan mulai terganggu oleh sentimen negatif yang timbul akibat tindakan sepihaknya terhadap Republik Islam Iran. Sebagai respons, otoritas AS mengarahkan kedutaan besar dan konsulat di seluruh dunia untuk secara aktif melawan apa yang mereka sebut sebagai ‘permusuhan’ asing terhadap citra Amerika Serikat.
Rekrutmen Tokoh Lokal dan Pemanfaatan Platform X
Upaya ini tidak hanya melibatkan aparatur diplomatik, tetapi juga merambah ke ranah pengaruh lokal. AS dilaporkan merekrut tokoh masyarakat, influencer, pemimpin komunitas, dan akademisi di berbagai negara. Tugas mereka adalah mengendalikan opini publik setempat agar memandang Amerika Serikat sebagai negara yang tidak tercela. Platform X milik Elon Musk disebut menjadi arena utama dalam kampanye ‘melawan propaganda anti-Amerika’ ini.
Instruksi Telegram dari Menteri Luar Negeri Rubio
Sebuah telegram yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menginstruksikan staf kedutaan untuk bekerja sama dengan unit operasi psikologis Pentagon. Telegram bertanggal Senin (30/03) tersebut menjabarkan serangkaian arahan rinci mengenai bagaimana staf diplomatik harus melawan pelemahan kepentingan Amerika di luar negeri.
“Kampanye-kampanye (anti AS) ini berupaya mengalihkan kesalahan kepada Amerika Serikat, menabur perpecahan di antara sekutu, mempromosikan pandangan dunia alternatif yang bertentangan dengan kepentingan Amerika, dan bahkan merusak kepentingan ekonomi dan kebebasan politik Amerika,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Perang Melawan Iran dan Dampak Opini Publik
Ketegangan ini muncul setelah Amerika Serikat bersekutu dengan Israel dalam serangan terhadap Iran yang dimulai akhir Februari lalu. Serangan yang dilaporkan menewaskan para pemimpin Iran, anak-anak, dan warga sipil tersebut menuai kecaman dari masyarakat dunia. Sebuah jajak pendapat di platform X bahkan menunjukkan Israel sebagai negara paling dibenci secara global.
Persepsi AS Terhadap Sentimen Anti-AS dan Israel
Dalam telegram tersebut, AS menganggap sentimen anti-AS dan Israel sebagai tindakan yang disengaja, bukan sebagai konsekuensi dari perang yang sedang dilancarkan. Pihak AS berargumen bahwa ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka dan permusuhan terhadap kepentingan Amerika ditimbulkan melalui platform digital, media yang dikendalikan negara, dan operasi pengaruh lainnya.
Sejarah Panjang Operasi Disinformasi AS
Laporan The Guardian juga menyoroti bahwa pemerintah AS telah lama mengoperasikan salah satu aparatus disinformasi negara yang paling canggih di dunia. Aparatus ini terutama ditujukan untuk melawan operasi pengaruh dari Rusia dan Tiongkok yang diklaim menargetkan sekutu Amerika di berbagai benua.
Lima Tujuan Utama Operasi Diplomatik
Telegram tersebut menguraikan lima tujuan utama yang harus dikejar oleh kedutaan dan konsulat AS:
- Melawan pesan-pesan yang bernada bermusuhan dengan AS.
- Memperluas akses informasi yang positif terhadap AS.
- Mengungkap perilaku negara-negara yang dianggap sebagai musuh AS.
- Mengangkat suara-suara lokal yang mendukung kepentingan Amerika.
- Mempromosikan narasi yang disebut sebagai ‘menceritakan kisah Amerika’.
Koordinasi dengan Unit Operasi Psikologis Militer
Instruksi diplomatik tersebut secara eksplisit meminta kantor-kantor diplomatik untuk mengoordinasikan pekerjaan mereka dengan ‘Operasi Psikologis Departemen Perang’. Unit militer ini dikenal sebagai Miso (sebelumnya Psyop) atau Operasi Dukungan Informasi Militer, yang merupakan bagian dari Pentagon. Hal ini menandakan adanya integrasi antara diplomasi publik dan operasi psikologis militer, sebuah langkah yang tidak biasa bagi Departemen Luar Negeri AS.
Prioritas Penanggulangan Propaganda Asing
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengkonfirmasi bahwa Wakil Menteri Luar Negeri, Sarah B. Rogers, telah menjadikan penanggulangan propaganda ‘anti-Amerika’ asing sebagai prioritas utama. Ia menyatakan bahwa AS akan mengambil sikap tegas dan memanfaatkan seluruh perangkat diplomasi untuk menghadapi isu berbahaya ini.
Platform X dan ‘Catatan Komunitas’
Telegram tersebut secara khusus menyebut platform X milik Elon Musk, terutama fitur ‘Catatan Komunitasnya’, sebagai arena kampanye yang inovatif. Fitur ini dianggap sebagai instrumen berbasis kontribusi masyarakat yang dapat menangkal operasi propaganda anti-Amerika tanpa mengorbankan kebebasan berbicara atau privasi.
Branding Bantuan Luar Negeri dan Distribusi Media
Staf kedutaan diinstruksikan untuk memastikan bahwa setiap bantuan luar negeri AS diberi merek yang jelas dan menonjol, termasuk menampilkan bendera AS di bagian depan. Tujuannya adalah agar khalayak asing mengetahui asal-usul bantuan tersebut. Selain itu, kantor-kantor diplomatik diminta meningkatkan ketersediaan berita internasional dan analisis independen yang diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, bertindak sebagai pusat distribusi media berbahasa asing di negara-negara yang dianggap ‘terkendali propaganda anti-Amerika’.






















