JAKARTA, WARTAKITA.ID – Indonesia kembali menunjukkan statusnya sebagai salah satu kawasan geologi paling aktif di dunia pada Jumat pagi, 7 November 2025. Laporan konsolidasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi aktivitas vulkanik persisten di sejumlah gunung api utama, bersamaan dengan guncangan gempa tektonik dangkal yang dirasakan di perairan Kalimantan Utara. Peristiwa ini menggarisbawahi realitas kehidupan di Cincin Api Pasifik yang menuntut kewaspadaan konstan.
Hingga pagi ini, PVMBG melaporkan bahwa aktivitas erupsi di beberapa gunung api, terutama Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Ibu di Maluku Utara, terus berlanjut. Secara kumulatif, tahun 2025 telah menjadi tahun vulkanik paling produktif sejak 2020, dengan lebih dari 5.300 kali letusan tercatat di seluruh nusantara. Di sisi lain, BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,8 pada pukul 05:28 WIB yang berpusat di laut, namun getarannya cukup untuk dirasakan oleh sebagian penduduk di Tarakan.
Analisis Mendalam Aktivitas Vulkanik: Semeru Pimpin Statistik Erupsi Nasional
Data yang dirilis PVMBG melalui portal MAGMA Indonesia menunjukkan dominasi aktivitas Gunung Semeru sepanjang tahun 2025. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat telah mengalami 2.153 kali letusan hingga akhir Oktober. Aktivitas ini menempatkan Semeru sebagai gunung api paling aktif di Indonesia saat ini, diikuti oleh Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara, dengan 1.639 kali letusan, dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur dengan 201 kali letusan.
“Peningkatan frekuensi erupsi ini merupakan bagian dari siklus pelepasan energi magma yang wajar untuk gunung api strato seperti Semeru,” jelas Anselmus Bobyson Lamanepa, seorang vulkanolog dari PVMBG, dalam laporan hariannya. “Pemantauan deformasi, seismik, dan gas vulkanik kami lakukan 24 jam untuk mendeteksi potensi eskalasi.”
Status Siaga dan Rekomendasi Mitigasi
Gunung Semeru hingga saat ini masih mempertahankan status Siaga (Level III). PVMBG secara tegas mengeluarkan rekomendasi kepada masyarakat, wisatawan, dan penambang untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar area tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Dampak langsung dari status Siaga ini dirasakan oleh lebih dari 10.000 penduduk yang tinggal di radius rawan. Pemerintah daerah Lumajang, Jawa Timur, telah melakukan relokasi parsial terhadap warga di desa-desa paling rentan. Selain itu, aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran lahar Semeru dihentikan sementara, yang berdampak signifikan pada ekonomi lokal para penambang dan pengusaha material bangunan di wilayah tersebut.
Gempa Tektonik Kalimantan Utara: Pengingat Aktivitas Sesar Regional
Sementara fokus utama tertuju pada gunung berapi, BMKG melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik dangkal pada pukul 05:28:29 WIB. Pusat gempa terletak di koordinat 3,30° Lintang Utara dan 117,73° Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 15 km arah Tenggara Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada kedalaman 5 km.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si., dalam rilis resminya menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya yang dangkal, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar lokal. Guncangan dirasakan di Tarakan dalam skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang), dan hingga kini belum ada laporan mengenai kerusakan,” paparnya.
Meskipun berkekuatan kecil, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Kalimantan yang secara historis dianggap lebih stabil secara seismik tetap memiliki potensi gempa akibat aktivitas sesar aktif dan kedekatannya dengan zona subduksi lempeng Filipina.
Kewaspadaan Berbasis Sains adalah Kunci
Aktivitas geologi simultan yang terpantau pada 7 November 2025 menegaskan kembali kompleksitas dan dinamika lempeng tektonik di Indonesia. Peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sepanjang tahun, yang didominasi oleh Semeru, menuntut kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi PVMBG. Di sisi lain, gempa minor di Kalimantan Utara berfungsi sebagai pengingat akan risiko seismik yang tersebar di seluruh nusantara, bukan hanya di zona subduksi utama.
Kolaborasi antara PVMBG dan BMKG dalam menyediakan data real-time dan analisis ahli menjadi pilar utama dalam upaya mitigasi bencana nasional. Masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada informasi dari sumber resmi dan tidak terpengaruh oleh berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kewaspadaan yang didasarkan pada pemahaman ilmiah dan kepatuhan pada arahan otoritas adalah kunci untuk hidup selaras dengan alam di Cincin Api Pasifik.























