Senin, 27 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2022

Agama dan Kejadian Alam

by Redaktur
02/12/2022
in Arsip 2022, Opini
Reading Time: 7 mins read
A A
rekaman raqib dan atid

rekaman raqib dan atid

Menjelang berbuka puasa di Palu tahun 2009, kami menerima kabar Garut diguncang gempa bumi, siang sekitar pukul 15.55 WITA.

Subuh menjelang sahur, beberapa baris kalimat meminta kami agar menulis, mengungkapkan apa yang kami rasakan dengan jujur, ketimbang kami ikut menambah penderita Skizophrenia di Indonesia yang jumlahnya sedang menempati tempat pertama di Asia Tenggara.

Kami memang memiliki banyak kenangan dan momen emosional dengan kota-kota di Jawa Barat.

Pernah mendaki gunung Salak via kebun raya Cibodas, semasa tinggal setahun Cipanas teratur ngeliwet hampir setiap akhir pekan di Cianjur dan Garut, ngaso di stasiun kereta Purwakarta, main hujan di Bogor, dan jatuh cinta setiap hari di Bandung.

Ikatan yang membuat kami pepuisian sebelum sahur.

N a k . . .

“Tahun ini kita lebaran tanpa baju baru..”
“Ayah tidak sanggup, bila kita berjalan ke tanah lapang dengan derap sepatu kulit baru, sementara di Tasik, Abah, Ujang dan Asep berjalan tanpa alas kaki..”
“Tahun ini kita lebaran tanpa mengecat rumah..”
“Ibumu tidak kuat mencium bau tajam cat baru plafon rumah, sementara di Garut saudara kita tidur beratapkan langit, menatap bintang, mewasapadai hujan..”
Anakku terdiam dan tersenyum mengangguk. Aku yakin dia mengerti bahwa ada baju dan rumah lebih bagus yang menantinya di atas sana.
— Dialog imajiner dengan bakal anakku yang masih tidur dalam tulang sumsum. Palu, 29 September 2009.

Gempa Garut kejadian alam ketiga yang berhasil menggetarkan kami ketika itu.

Pertama gempa dan tsunami Aceh, lalu gempa Padang. Belum tahu mengapa, padahal ada banyak kejadian alam lainnya sebelum itu di berbagai belahan bumi, tetapi hanya ketiga kejadian alam tersebut, kemudian menyusul kejadian alam keempat gempa Yogyakarta, yang berhasil membuat kami surut, mengecilkan diri lebih kecil lagi dari sekadar makhluk penghuni bumi. Kami, semua makhluk dan ciptaan lain cuma massa, materi dan energi di suatu masa.

Bagi kami, kejadian alam dan agama tidak dapat dipisahkan. Memisahkannya sama saja tidak memahami kata ‘agama’ dan hubungan manusia dengan alam.

Lebih erat lagi hubungan antara manusia dengan kejadian alam. Agama menjadi erat hubungannya dengan kejadian alam, karena ‘hanya’ manusia yang diwajibkan ‘beragama formal’. Ajaran agama Islam juga menegaskan, tidak ada paksaan dalam beragama. Kali ini ahli bahasa Indonesia lebih arif ketimbang ahli bahasa Inggris ketika memutuskan menggunakan kata ‘agama’ ketimbang ‘religion’.

Menurut kamus Cambridge, agama atau ‘religion’ termasuk kata benda: “the belief in the existence of a god or gods, and the activities that are connected with the worship of them.”

Agama dan Kejadian Alam - image 1

Sementara menurut bahasa Indonesia, kata ‘agama’ yang disadur dari bahasa Sansekerta, terdiri atas dua kata dan dua makna yang menjadi satu, ‘a’ berarti tidak dan ‘gama’ berarti kacau. Lebih ke kata kerja dan kata sifat, lebih menyatu ketimbang kata benda atau objek yang berjarak dengan subjek.

Agama dalam konteks arti, dan asal usul kata tidak melihat perbedaan keyakinan dan iman, semua yang membuat kekacauan, sumber, sebab, dan pelaku kekacauan dikategorikan tidak beragama.

Sebaliknya, mereka yang menjadi sumber keteraturan, keseimbangan dalam harmoni dan keadilan, adalah orang-orang yang beragama dengan baik, benar lagi indah.

Kata ‘agama’ sama sekali tidak mengandung ambisi dan keinginan mendominasi, baik dalam jumlah, ras, suku bangsa, reputasi, nasab, maupun banyaknya fakta-fakta empiris pendukung klaim keyakinan atau golongan yang paling benar, atau mendukung klaim paling banyak mendapatkan legitimasi dari Tuhan langsung, yang bukan tujuan dari beragama.

Gempa adalah kejadian alam biasa. Benar.

Namun, mereka yang belum mencapai tujuan utama beragama (agama apa pun itu) selain menjadi bagian dari keteraturan, yaitu supaya tidak menuhankan dirinya, golongannya, nasabnya, agamanya, dan manusia lain, biasanya sedang melihat kejadian alam tersebut dari wilayah dan jarak fisik juga psikis yang tidak memberi dampak langsung pada diri dan keluarganya, membenarkan gempa kejadian alam biasa, sembari lupa kalau setiap massa, materi dan energi adalah bagian dari alam semesta.

Untuk sementara, hanya manusia yang sanggup memutuskan, apakah dirinya akan menjadi bagian dari kekacauan atau keteraturan di alam semesta. Makhluk dan ciptaan lain, tanpa kebebasan berpikir dan memilih, menerima nasib dan tujuan penciptaannya begitu saja.

BACA JUGA:

Belajar dari Venezuela: Jangan Sampai Jari Kelingking Kita Jadi Pemicu Kebangkrutan Negara

Qurban dan Keberanian Melepaskan yang Kita Cintai

Perayaan Hari Pers Nasional 2024: Menjelajahi Era Baru Pers, Pewarta Warga dan Kecerdasan Buatan

Ketika Udara Bersih Harus Diperjuangkan

Belikan Anak-Anak Komputer, Informatika Nanti Jadi Kebutuhan Manusia Keempat

Satu kekacauan (ketidak-beragama-an) akan ikut mengakumulasi besaran kekacauan hingga sanggup membuat alam bereaksi menyeimbangkan kekacauan dan keteraturan, yang kemudian manusia sebut sebagai bencana. Begitu pula sebaliknya dengan keteraturan (keber-agama-an).

Kalau mau mencari bukti ilmiah bagaimana kekacauan kecil akibat laku manusia atau bukan, bisa membuat mega kekacauan, silakan cari dan baca teori ‘butterfly effect’ atau catatan percobaan Nicola Tesla di labnya, bagaimana getaran kecil yang menginterferensi getaran harmonis sebuah gelombang, sanggup menimbulkan chaos serupa gerak liar partikel Brown, sebelum atom-atom kembali tenang setelah energi potensial tersalurkan. Bom nuklir yang sedemikian dahsyat, akibat memaksa memindahkan satu elektron dari takdirnya (garis edar).

Kekacauan baru timbul dan mewujud, jika dan hanya jika ada komponen alam semesta yang melampaui batas, dalam konteks apapun. Kondisi chaos atau kacau sebagai bagian dari mencari keseimbangan baru, pasti terjadi ketika sebuah batasan terlampaui. Ada yang menganggapnya sebagai ‘ongkos’ kemajuan, upgrade kemapanan, kemampuan dan seterusnya. Wajar dan tidak akan ada yang menyalahkan, selama hanya yang ingin mencapai keseimbangan baru yang menanggung ‘ongkos’, tidak mengorbankan orang lain kecuali dirinya sendiri, mengambil risiko yang memang dia sendiri yang menanggung.

Seorang kawan penyair, melihat kejadian alam gempa dan tsunami Aceh dari sudut yang lain lagi, pendapatnya menguatkan pendapat kami, bahwa alam semesta dan penghuninya adalah satu kesatuan.

Katanya kepada kami saat akan meluncurkan buku kumpulan tulisan, “Aceh Duka Kami”, “Sebenarnya bukan orang-orang yang diguncang tsunami dan disapu gempa saja, tetapi kita semua sedang dihukum —sedang diseimbangkan—. Ratusan kilometer dari sana, aku yang dicabik-cabik ombak, dihempaskan kesana-kemari.”

Dalam ajaran agama Islam, kejadian alam yang biasa kita sebut bencana itu, digolongkan menjadi azab, ujian, dan hukuman. Kisah-kisah dalam kitab-kitab suci tentang kejadian alam luar biasa, menyebutkan dua sebab utama mengapa pembinasaan (azab) dan hukuman ditimpakan kepada manusia melalui kejadian alam.

Pertama, karena menolak meninggalkan perbuatan buruk dan yang kedua, menolak ajakan mengerjakan kebaikan. Kedua hal tersebut jika ditarik menjadi satu benang merah, kami simpulkan ada batasan yang dilampaui manusia dengan sengaja, sehingga alam harus melaksanakan sunnatullah selalu seimbang, teratur, harmonis bergerak dalam garis edar takdir.

Bumi sudah melewati banyak peristiwa luar biasa, dari zaman beku, hujan asteroid, terakhir tertimbun plastik dan diselimuti polusi sisa pembakaran. Sudah 6 milyar tahun dan bumi masih bertahan, manusia yang akan punah, sumber dan penyebab kekacauan yang akan musnah.

Saat kami mengalami kejadian alam, perahu Jolloro dihantam ombak, hujan badai dan angin kencang hingga nyaris karam semasa bekerja di pulau-pulau di sekitar pesisir pantai Sulawesi Selatan. Tidak sempat memikirkan penggolongan kejadian alam menurut sebab atau pemicu mengapa takdir tersebut mewujud, yang ada cuma ingin selamat.

Setiba di pelabuhan rakyat Kayu Bangkoa, di warung kopi kecil dekat warung ikan bakar di sana, barulah kami bisa termenung dan tepekur. Dalam diam, ada masa di mana kami merasa benar dan tidak punya salah atau dosa, kami lalu menyebut kejadian yang membuat nyawa kami bagai tergantung di seutas benang sebagai ‘ujian’, sebelum tersadar sebagian modal proyek ada yang kami pakai untuk berjudi, walaupun menang, tetap sebuah perilaku yang pantas mendapatkan hukuman. Karena masih merasa benar dan menolak disalahkan yakin tidak punya salah, padahal kami tahu pasti cuma Baginda Nabi Muhammad salallahualaihisalam yang dijamin maksum, kami merasa ini memang ujian kami, lalu diam-diam menuding ini hukuman untuk nakhoda kapal Jolloro yang menolak menurunkan harga sewa pulang-pergi kapalnya. Tidak peduli, sarannya agar melewatkan waktu magrib dulu, menunggu ombak lebih tenang. Kalau azab jelas tidak, kami berdua selamat dan hidup, tidak ada yang binasa lewat kejadian tersebut.

Menjelang kopi kami habis, baru menyadari apa pun yang barusan berlalu, azab atau hukuman, akhirnya bernilai ujian, ada batasan yang kami langgar dengan sengaja, yang kelulusannya baru akan terlihat bila kami menjadi lebih baik (menjadi bagian dari keteraturan) atau harus ujian remedial karena menjadi lebih buruk (bagian dari kekacauan).

Agak sedih ketika membaca berita beberapa ormas membuka label bantuan dari gereja dan agama lain untuk korban gempa bumi di Cianjur. Serapuh itukah iman sebagian umat Islam di sana? Sementara penganut agama lain di Indonesia sehari lima kali mendengar panggilan salat dari masjid, tidak berusaha membungkam pengeras suara masjid.

Sepengetahuan kami, hampir semua kejadian alam luar biasa di Al Qur’an, tidak ada yang dikisahkan karena perbedaan keyakinan dan iman. Hampir semua disebut karena perilaku segolongan manusia yang melampaui batas.

Wallahu’alam.

 

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: Opini
Share7Tweet4Send

ARTIKEL TERKAIT

Agama dan Kejadian Alam - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Pajak Kekayaan 2%: Solusi Rasional Mengurai Ketimpangan Rp4.651 Triliun Milik Oligarki

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Modus “Kencing di Laut” dan Transfer Pricing: Mengurai Menguapnya Rp16.144 Triliun dari Ekspor SDA

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Anatomi Kebocoran Triliunan Rupiah: Saat Negara Gagal Memajaki Oligarki dan Sektor Ekstraktif

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Beban Pajak Kelas Menengah 2026: Saat Korporasi Dapat Karpet Merah

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Jebakan Bunga Utang Rp599 Triliun: Mengapa SBN Mematikan Akses Kredit Swasta dan UMKM?

27/07/2026
Agama dan Kejadian Alam - Featured

Paradoks APBN 2026: Ancam Fiskal & Kelas Menengah

27/07/2026
ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Agama dan Kejadian Alam - Featured

    Kalla Toyota Palopo Hadirkan KIDDO ART-venture: Dealer Berubah Jadi Taman Bermain & Belajar Anak

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    175 shares
    Share 70 Tweet 44
  • PTUN Bandung Perintahkan Gubernur Jabar Pecat Bupati Bogor, Ada Apa?

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    704 shares
    Share 282 Tweet 176
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    267 shares
    Share 107 Tweet 67
  • 7 Ide Potongan Rambut Pria dengan Aksen Garis (Line Up) Keren

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • 5 Rekomendasi Potongan Rambut Pria saat Melamar Kerja, Rapi, Simpel dan Stylish

    498 shares
    Share 199 Tweet 125
  • Hore! Markas PSM Makassar Stadion BJ Habibie Parepare Akan Direnovasi

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Beban Pajak Kelas Menengah 2026: Saat Korporasi Dapat Karpet Merah

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • DJP Bisa Intip Rekening Keluarga Wajib Pajak: Analisis Mendalam Kewenangan Baru, Tujuannya, dan Perlindungan Data

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.