TORAJA-BIRA, Wartakita.id – Setelah sempat “mati suri” pasca-pandemi dan lambatnya pemulihan di 2023-2024, pariwisata Sulawesi Selatan akhirnya menemukan momentum emasnya di tahun 2025.
Kunci kebangkitan ini ada pada satu kata: Konektivitas.
Di Utara, Tana Toraja tidak lagi menjadi destinasi yang “sulit dijangkau”. Dengan perpanjangan landasan pacu Bandara Buntu Kunik yang rampung awal 2025, penerbangan charter langsung dari Singapura dan Bali mulai mendarat.
Wisatawan asing tak perlu lagi menempuh 8 jam perjalanan darat yang melelahkan dari Makassar. Toraja kini masuk dalam sirkuit wisata premium Indonesia, bersanding dengan Labuan Bajo.
Di Selatan, Tanjung Bira mengalami rebranding total. Citra “pantai rakyat” yang semrawut perlahan digeser. Tahun 2025 menandai lahirnya ekosistem wisata bahari kelas dunia di Bulukumba. Industri pembuatan kapal Phinisi di Tanah Beru kebanjiran pesanan, bukan hanya untuk kargo, tapi untuk luxury liveaboard.
Festival “Phinisi River Cruise” yang digelar perdana di Sungai Pangkajene pada pertengahan tahun juga menjadi sorotan unik, menawarkan wisata susur sungai ala Amazon namun dengan kearifan lokal.
Meski demikian, tantangan SDM masih terasa. Kemampuan bahasa asing pramuwisata lokal dan standar kebersihan toilet umum masih menjadi keluhan di ulasan-ulasan travel blog. Sulsel punya alam kelas satu, tugas di 2026 adalah memastikan layanannya tidak kelas melati.
























