Kabupaten Rejang Lebong, dengan lanskap perbukitan suburnya, memegang peranan vital sebagai pemasok utama sayuran di Sumatera Bagian Selatan. Namun, di balik produktivitasnya, sektor pertanian daerah ini tengah bergulat dengan ancaman fluktuasi harga yang merugikan petani dan memicu lonjakan limbah.
- Rejang Lebong merupakan lumbung sayuran regional bagi Sumatera Bagian Selatan, berkat topografi dataran tinggi dan suhu sejuk yang ideal untuk hortikultura.
- Komoditas utama meliputi tomat, kol, cabai, sayuran daun, serta kopi dan teh.
- Petani sering menghadapi anjloknya harga saat panen raya, menyebabkan kerugian finansial dan lonjakan limbah pertanian.
- Fenomena ini pernah menyebabkan tumpukan tomat busuk menutup jalan dan pembuangan limbah ke jurang.
- Solusi potensial mencakup diversifikasi produk, pengembangan sistem pemasaran yang stabil, dan advokasi kebijakan harga yang berpihak pada petani.
Rejang Lebong: Jantung Hortikultura Regional yang Rentan
Dikenal dengan udaranya yang sejuk dan bentang alam perbukitan yang subur di kawasan Bukit Barisan, Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu telah lama mengukuhkan posisinya sebagai lumbung sayuran terkemuka untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan. Topografi yang bervariasi, mulai dari dataran tinggi, lembah yang subur, hingga aliran sungai yang terhubung dengan sistem daerah aliran sungai penting, menjadikan Rejang Lebong sebagai surga bagi budidaya hortikultura.
Suhu yang relatif lebih dingin dibandingkan daerah pesisir memberikan keuntungan tersendiri, memungkinkan pengembangan komoditas unggulan seperti tomat, kol, cabai, berbagai jenis sayuran daun, serta perkebunan kopi dan teh yang melimpah. Lahan pertanian yang membentang di kaki perbukitan ini bukan hanya menjadi tulang punggung pasokan untuk Provinsi Bengkulu, tetapi juga meluas hingga menjangkau sebagian besar wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Peran Rejang Lebong sebagai sentra produksi hortikultura regional menjadi sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasokan pangan lintas provinsi.
Ancaman Nyata: Fluktuasi Harga dan Banjir Limbah Pertanian
Namun, di balik citra produktivitasnya yang tinggi, para petani di Rejang Lebong kerap dihadapkan pada kenyataan pahit berupa fluktuasi harga yang tidak menentu. Puncak dari permasalahan ini seringkali terjadi bersamaan dengan datangnya musim panen raya. Ketika produksi sayuran melimpah ruah, harga di tingkat petani berpotensi anjlok secara drastis. Situasi ini sangat merugikan, bahkan harga jual yang didapat tidak lagi mampu menutupi biaya tanam, perawatan, hingga distribusi. Fenomena ini sempat terekam signifikan pada periode tahun 2021 hingga 2022, meninggalkan luka mendalam bagi para petani.
Konsekuensi langsung dari anjloknya harga saat panen raya ini adalah munculnya persoalan baru yang tak kalah mengkhawatirkan: lonjakan limbah sayuran dalam jumlah yang masif. Tumpukan tomat yang membusuk bahkan pernah sampai menutup satu ruas jalan di daerah tersebut, menjadi saksi bisu keputusasaan petani yang terpaksa membuang hasil panen mereka. Sebagian limbah sayuran lainnya juga kerap dibuang begitu saja ke area terbuka, termasuk jurang-jurang yang menganga di sekitar wilayah itu, menciptakan masalah lingkungan yang serius.
Dampak Luas dan Harapan Solusi Keberlanjutan
Lonjakan limbah sayuran yang disebabkan oleh anjloknya harga jual tidak hanya menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, tetapi juga kerugian ekonomi yang signifikan bagi para petani. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya pengelolaan pasca-panen yang lebih baik dan upaya menjaga stabilitas harga sebagai tantangan krusial yang harus segera diatasi demi keberlanjutan sektor pertanian di Rejang Lebong.
Beberapa upaya strategis yang dapat ditempuh meliputi diversifikasi produk pertanian untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal, pengembangan sistem pemasaran yang lebih stabil dan efisien yang mampu menyerap hasil panen dalam jumlah besar, serta advokasi kebijakan harga yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan petani. Dengan demikian, Rejang Lebong diharapkan dapat terus menjalankan fungsinya sebagai lumbung pangan regional yang vital, tanpa harus mengorbankan nasib dan kesejahteraan para petani yang telah berjuang keras di tanah subur mereka.























