Tragedi longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, yang merenggut lima nyawa pada Maret 2026, menggarisbawahi urgensi penanganan darurat masalah persampahan nasional. Fenomena ini menarik perhatian serius Presiden Prabowo Subianto yang telah lama menyuarakan kekhawatiran.
Sorotan Kritis Presiden Prabowo Terhadap Krisis Sampah Bantargebang
Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan penumpukan sampah yang mengkhawatirkan di TPST Bantargebang. Ia melaporkan bahwa timbunan sampah di lokasi tersebut telah mencapai volume fantastis, diperkirakan mencapai sekitar 55 juta ton. Prabowo secara tegas memperingatkan potensi ancaman serius bagi masyarakat sekitar jika persoalan ini tidak segera ditangani dengan baik.
“Kalau tidak salah di Bantargebang itu saya dapat laporan sudah mencapai puluhan juta ton, 55 juta ton sudah menggunung. Kalau terjadi hujan deras dia bisa bisa membahayakan banyak kampung di sekitar situ,” ujar Presiden Prabowo, menekankan skala permasalahan dan risiko yang menyertainya.
Solusi Strategis: 34 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)
Menyikapi situasi genting ini, pemerintah, melalui Badan Pengelola Investasi Danantara, merencanakan pembangunan 34 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek ambisius ini tidak hanya terfokus di Bantargebang, tetapi juga akan diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa dalam pengelolaan sampah. Pembangunan PLTSa dipandang sebagai langkah strategis yang memiliki manfaat ganda.
Manfaat Ganda PLTSa: Lingkungan, Kesehatan, dan Pariwisata
Presiden Prabowo menilai proyek PLTSa memiliki signifikansi strategis yang mendalam. Selain berfungsi sebagai solusi efektif untuk mengatasi masalah lingkungan dan meningkatkan aspek kebersihan serta kesehatan masyarakat, inisiatif ini juga berpotensi mendongkrak sektor pariwisata. Ia menekankan, “Ini sangat strategis karena ini menyangkut kebersihan kesehatan ya, bagaimana kita berharap paling tidak bisa membersihkan sampahnya. Bisa kita bayangkan mau enggak turis datang ke tempat yang kotor yang jorok. Jadi ini strategis,” tegasnya.
Target Pengolahan Sampah dan Wilayah Prioritas Implementasi
Pemerintah menargetkan sistem waste to energy melalui PLTSa mampu mengolah sekitar 33.000 ton sampah per hari. Sistem ini akan diprioritaskan di daerah-daerah yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar, yaitu lebih dari 1.000 ton setiap harinya. Daftar kota dan wilayah yang menjadi prioritas awal implementasi mencakup:
- Yogyakarta
- Kabupaten Sleman
- Kabupaten Bantul
- Denpasar
- Kabupaten Badung
- Kota Bogor
- Kabupaten Bogor
- Depok
- Kota Bekasi
- Kabupaten Bekasi
- Kabupaten Tangerang
- Kota Tangerang Selatan
- Kota Tangerang
- Medan
- Kabupaten Deli Serdang
- Kota Semarang
- Kabupaten Semarang
Dengan langkah konkret ini, pemerintah berupaya keras mengantisipasi bencana seperti longsor sampah Bantargebang dan mengubah tantangan sampah menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan.























