Wartakita.id – Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon yang jatuh pada 10 Januari 2026. Aksi penanaman pohon serentak ini menjadi simbol perjuangan melawan deforestasi dan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Poin Penting:
- Pemerintah Indonesia, melalui KLHK, memimpin aksi penanaman sejuta pohon pada 10 Januari 2026.
- Gerakan ini bertujuan memerangi deforestasi, perubahan iklim, dan merestorasi hutan pasca-bencana.
- Melibatkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat luas, siswa, dan organisasi lingkungan.
- Aksi ini juga menjadi momentum Hari Lingkungan Hidup Indonesia, menekankan pentingnya menjaga alam.
- Manfaat mencakup penyerapan CO2, udara bersih, pencegahan banjir, dan ketahanan ekologis.
Gerakan Nasional Melawan Degradasi Lingkungan
Hari Gerakan Satu Juta Pohon yang diperingati setiap tanggal 10 Januari, tahun ini mencapai puncaknya pada 10 Januari 2026 dengan target ambisius: menanam satu juta pohon dalam satu hari di seluruh penjuru Indonesia. Aksi ini digagas sebagai respons mendesak terhadap masalah degradasi lingkungan yang kian mengkhawatirkan, dipicu oleh urbanisasi masif, aktivitas industri, serta perubahan iklim global.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjadi motor penggerak utama peringatan ini, didukung penuh oleh partisipasi aktif dari berbagai elemen bangsa. Mulai dari tingkat kepresidenan, para gubernur, hingga jutaan masyarakat umum, termasuk ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, turut mengulurkan tangan. Organisasi lingkungan terkemuka seperti WALHI, bersama dengan para aktivis lingkungan dan tokoh masyarakat, juga berbaur dalam semangat penanaman pohon massal.
Fokus pada Restorasi dan Mitigasi Bencana
Pada peringatan tahun 2026 ini, fokus utama diarahkan pada upaya restorasi hutan yang rusak, terutama akibat bencana alam seperti banjir dan longsor yang kerap melanda berbagai provinsi di Indonesia. Penanaman pohon tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk mencegah erosi, menjaga keseimbangan ekosistem, dan mengurangi risiko bencana di masa depan.
Acara peringatan tidak terbatas pada aksi penanaman pohon. Berbagai kegiatan pendukung diselenggarakan, mencakup seminar edukatif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang isu lingkungan, kampanye masif melalui media sosial untuk mendorong partisipasi lebih luas, serta distribusi bibit pohon gratis bagi masyarakat. Peringatan ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Indonesia, menegaskan kembali komitmen nasional untuk menjaga dan melestarikan alam.
Konteks Lokal dan Global yang Mendesak
Gerakan ini memiliki akar sejarah sejak tahun 1993, namun relevansinya semakin mendesak di era sekarang. Indonesia, sebagai negara kepulauan, rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti peningkatan permukaan air laut, gelombang tinggi, dan intensitas banjir. Di tengah komitmen global terhadap pembangunan berkelanjutan, seperti yang digaungkan oleh forum BRICS, aksi nyata penanaman pohon menjadi krusial.
Secara spesifik, aksi penanaman dilakukan di berbagai lokasi strategis, termasuk hutan kota, area pinggir sungai, hingga lahan-lahan kritis yang memerlukan pemulihan ekologis. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan mendesak untuk mitigasi bencana dan perbaikan kualitas lingkungan.
Manfaat Nyata bagi Kehidupan
Penanaman pohon memiliki manfaat ekologis yang sangat luas. Pohon berperan vital dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, berkontribusi pada udara yang lebih bersih dan sehat. Selain itu, keberadaan pepohonan lebat, terutama di daerah aliran sungai dan bantaran, mampu menahan laju air dan mencegah terjadinya banjir serta tanah longsor. Gerakan ini menjadi pengingat penting akan fungsi ekologis hutan, terlepas dari berbagai kebijakan yang mungkin menuai kritik, seperti kebijakan terkait lahan sawit yang terkadang dipertanyakan fungsinya sebagai ‘hutan’.
Pelaksanaan yang Inklusif dan Terukur
Pelaksanaan Hari Gerakan Satu Juta Pohon mengedepankan prinsip kolaborasi. Pemerintah daerah berkoordinasi erat dengan masyarakat untuk memastikan kelancaran aksi. Penggunaan bibit pohon lokal, seperti mangga dan durian, dipilih untuk mendukung keanekaragaman hayati dan potensi ekonomi lokal. Kampanye daring melalui platform seperti X dan peliputan oleh media nasional turut berperan penting dalam memobilisasi partisipasi publik.
Demi keberlanjutan gerakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertanggung jawab untuk memantau kelangsungan hidup pohon-pohon yang telah ditanam. Popularitas isu lingkungan yang sedang tren, terutama pasca serangkaian bencana alam di akhir tahun 2025, menjadikan gerakan ini mendapat perhatian besar dari publik, terbukti dari ribuan kali pembagian konten di berbagai platform media.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari ini berlangsung hingga sore, menyesuaikan dengan kondisi musim hujan yang turut meningkatkan risiko bencana alam di berbagai provinsi. Partisipasi aktif dari masyarakat dari Sabang sampai Merauke menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.























