MAKASSAR, WartaKita.id – Insiden kebakaran hebat yang melanda kompleks Asrama TNI Barabaraya di Makassar, Sulawesi Selatan pada Senin (28/12), bukan sekadar catatan kerugian materi. Lebih dari itu, tragedi yang menghanguskan 42 unit rumah prajurit ini membuka lembaran investigasi mendalam terhadap keamanan hunian militer, khususnya di tengah kota besar seperti Makassar, serta menyoroti ancaman senyap korsleting listrik yang kerap diabaikan. Pasca-kobaran api mereda, sejumlah anggota TNI bahu-membahu membersihkan sisa-sisa reruntuhan, namun pertanyaan besar menggantung: “mengapa” insiden ini terjadi dan “apa dampaknya” bagi para abdi negara serta masyarakat luas di Barabaraya?
Kronologi dan Dampak Awal: 42 Rumah Rata dengan Tanah
Pada pagi yang nahas itu, kompleks Asrama TNI Barabaraya, yang terletak strategis di jantung kota Makassar, berubah menjadi lautan api. Api menyebar dengan cepat, melahap deretan rumah-rumah yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar. Data awal menyebutkan sedikitnya 42 unit rumah prajurit dan keluarga ludes terbakar. Sumber api, menurut dugaan awal dari pihak berwenang, berasal dari hubungan pendek arus listrik atau korsleting, sebuah penyebab klasik yang seringkali menjadi pemicu kebakaran di permukiman padat atau bangunan tua.
Dampak langsungnya tak hanya pada bangunan fisik, melainkan juga pada ratusan jiwa yang kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda mereka dalam sekejap. Barang-barang berharga, kenangan, dokumen penting, semua lenyap ditelan jilatan api. Peristiwa ini bukan hanya merenggut aset materi, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi para penghuni, yang sebagian besar adalah keluarga prajurit TNI yang mengabdikan hidupnya untuk negara.
Menguak Akar Masalah: Bahaya Korsleting Listrik di Hunian Lama
Mengapa Korsleting Sering Terjadi?
Dugaan penyebab kebakaran di Asrama Barabaraya akibat korsleting listrik seharusnya memicu alarm nasional. Di Indonesia, korsleting listrik merupakan salah satu penyebab utama kebakaran, menyumbang persentase signifikan dari total kasus. Faktor utamanya seringkali adalah instalasi listrik yang sudah tua, tidak terawat, penggunaan peralatan listrik yang melebihi kapasitas (overload), kabel yang usang atau kualitas rendah, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan berkala.
Dalam konteks asrama militer yang mungkin telah berdiri puluhan tahun, seperti di Barabaraya, infrastruktur kelistrikan kemungkinan besar belum mengalami pembaruan menyeluruh. Kabel-kabel lama, stop kontak usang, dan sistem kelistrikan yang tidak didesain untuk menopang kebutuhan daya modern (misalnya, penggunaan AC, kulkas, televisi, dan berbagai gawai elektronik secara bersamaan) bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Minimnya pemeliharaan rutin dan audit kelistrikan oleh pihak yang berwenang, baik dari internal TNI maupun otoritas sipil, turut memperparuk risiko.
Konteks Lokal Barabaraya: Tantangan Permukiman Lama di Makassar
Barabaraya adalah salah satu kawasan padat penduduk di Makassar, dengan sejarah panjang. Banyak bangunan di area ini, termasuk kompleks asrama, merupakan konstruksi lama. Infrastruktur kota yang berkembang pesat seringkali tidak diiringi dengan pembaruan masif pada jaringan utilitas di permukiman yang sudah eksis. Kondisi ini membuat area seperti Barabaraya rentan terhadap berbagai masalah, termasuk risiko kebakaran akibat infrastruktur listrik yang menua.
Pemerintah Kota Makassar, bersama PLN dan institusi terkait, memiliki peran krusial dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya listrik dan mendorong pembaruan instalasi. Namun, untuk kompleks militer, tanggung jawab utama berada di tangan kesatuan yang membawahinya. Kejadian di Barabaraya harus menjadi momentum bagi Komando Daerah Militer (Kodam) XIV/Hasanuddin dan Mabes TNI untuk melakukan audit menyeluruh terhadap semua fasilitas hunian prajurit di wilayahnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Penghuni Barabaraya
Kehilangan tempat tinggal adalah pukulan telak. Bagi keluarga prajurit, yang hidupnya seringkali diwarnai mobilitas dan pengabdian, asrama adalah satu-satunya rumah yang mereka miliki. Tragedi ini tidak hanya berarti kehilangan tempat tidur atau lemari, tetapi juga hilangnya rasa aman, stabilitas, dan privasi yang fundamental.
Secara ekonomi, kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Meskipun ada upaya pembersihan dan penanggulangan darurat, proses pemulihan jangka panjang membutuhkan bantuan dan koordinasi yang kuat. Pertanyaan tentang relokasi, bantuan finansial untuk membangun kembali kehidupan, serta dukungan psikologis bagi anak-anak dan keluarga yang trauma, menjadi sangat mendesak. Bagaimana pihak TNI memastikan bahwa para prajurit yang terdampak dapat melanjutkan tugas negara tanpa beban pikiran yang berlarut-larut? Ini adalah ujian bagi komitmen institusi terhadap kesejahteraan anggotanya.
Di level komunitas, insiden ini memicu gelombang solidaritas. Masyarakat Barabaraya, dan warga Makassar pada umumnya, dikenal memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi. Inisiatif penggalangan dana, sumbangan pakaian, dan makanan darurat mungkin akan muncul, namun solusi jangka panjang tetap berada di pundak pihak berwenang.
Mendesak Evaluasi Keamanan Hunian Militer: Pelajaran dari Barabaraya
Tragedi di Asrama Barabaraya harus menjadi titik balik. Ini adalah panggilan untuk evaluasi komprehensif terhadap standar keselamatan dan pemeliharaan di seluruh fasilitas hunian militer di Indonesia. Penting untuk:
- Audit Instalasi Listrik Berkala: Menerapkan program audit dan pembaruan instalasi listrik secara rutin, terutama di bangunan-bangunan tua.
- Edukasi Keselamatan Listrik: Meningkatkan kesadaran penghuni akan praktik penggunaan listrik yang aman, termasuk tidak membebani stop kontak berlebihan dan memastikan peralatan elektronik berfungsi dengan baik.
- Peningkatan Anggaran Pemeliharaan: Mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pemeliharaan infrastruktur vital, termasuk sistem kelistrikan, di asrama-asrama TNI.
- Standar Bangunan Tahan Api: Memastikan bahwa material bangunan memenuhi standar keamanan kebakaran, terutama di area padat penduduk.
- Koordinasi Lintas Sektoral: Membangun koordinasi yang lebih baik antara pihak militer, PLN, dan pemerintah daerah dalam pengawasan dan penanganan isu keselamatan di permukiman.
Peristiwa ini bukan hanya tentang kerugian materi, tetapi juga tentang kepercayaan publik terhadap kemampuan negara melindungi warga negara, termasuk para prajurit yang mengabdi. Ini adalah kesempatan untuk memperkuat prinsip E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) dalam tata kelola hunian militer, memastikan bahwa pengalaman pahit ini tidak terulang di masa depan.
Kesimpulan
Kebakaran di Asrama TNI Barabaraya adalah alarm keras bagi kita semua. Ia mengungkap kerapuhan infrastruktur di tengah modernisasi perkotaan dan bahaya laten dari kelalaian pemeliharaan. Lebih dari sekadar pembersihan puing, yang dibutuhkan adalah investigasi tuntas, pembaruan kebijakan yang radikal, dan komitmen kuat dari semua pihak untuk menjamin keamanan hunian, terutama bagi mereka yang telah berkorban demi bangsa. Makassar harus belajar dari tragedi ini, bukan hanya untuk membangun kembali Asrama Barabaraya, tetapi untuk membangun fondasi keamanan yang lebih kokoh bagi masa depan.






















