Wartakita.id, MAKASSAR — Langit Kota Makassar pada malam pergantian tahun 2025 ke 2026 tampak berbeda. Meski tidak ada dentuman meriah pesta kembang api resmi dari pemerintah, semangat warga Kota Daeng tidak surut. Ribuan manusia tetap tumpah ruah memadati kawasan ikonik Pantai Losari dan Center Point of Indonesia (CPI), menciptakan paradoks antara euforia perayaan dan seruan solidaritas nasional.
Suasana malam itu diwarnai dua narasi besar: upaya pemerintah menahan diri demi empati terhadap bencana di Sumatera, dan antusiasme warga yang rindu akan tradisi berkumpul di pusat kota.
Solidaritas Tanpa Pesta Kembang Api
Pemerintah Kota Makassar dan Polda Sulawesi Selatan tahun ini mengambil langkah tegas. Tidak ada izin pesta kembang api. Kebijakan ini, yang diumumkan langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro dan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Appi), bukan tanpa alasan.
Ini adalah bentuk solidaritas nasional. Indonesia sedang berduka atas bencana banjir dan longsor yang melanda saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kita tidak ingin berpesta di atas penderitaan saudara kita,” ujar salah satu pejabat dalam keterangannya. Aparat kepolisian bahkan tidak menerbitkan izin penggunaan bahan peledak komersial dan melakukan razia pedagang petasan di berbagai titik. Warga diimbau untuk mengganti pesta pora dengan doa bersama dan kegiatan keagamaan yang lebih khidmat.
Namun, pantauan lapangan menunjukkan dinamika yang kompleks. Meski pemerintah meniadakan pesta resmi, letupan kembang api “kucing-kucingan” dari warga sipil masih terlihat menghiasi langit Losari hingga dini hari, menandakan sulitnya membendung euforia masyarakat sepenuhnya.
Rekayasa Lalu Lintas dan Lautan Manusia
Untuk mengantisipasi lonjakan massa yang sudah diprediksi, Satlantas Polrestabes Makassar di bawah komando AKBP H. Andi Husnaeni memberlakukan rekayasa lalu lintas ketat. Mulai pukul 17.00 WITA, delapan ruas jalan utama—termasuk Jalan Penghibur, Somba Opu, dan Haji Bau—ditutup total atau dialihkan.
Langkah ini efektif mencegah stuck total di jantung kota, meskipun kepadatan ekstrem tak terhindarkan. Kawasan CPI menjadi magnet utama. Ribuan warga rela berjalan kaki menembus barikade demi menikmati angin malam pertama tahun 2026 di tepi pantai.
Tidak ada konvoi kendaraan yang mencolok atau arak-arakan ugal-ugalan. Pola pengamanan yang diterapkan berhasil memaksa masyarakat untuk memarkir kendaraan jauh dari lokasi dan berjalan kaki, meminimalisir risiko kecelakaan lalu lintas yang biasanya tinggi di malam tahun baru.
Keamanan Kondusif di Bawah Operasi Lilin 2025
Di balik keramaian tersebut, ribuan pasang mata aparat berjaga. Melalui Operasi Lilin 2025, Polda Sulsel mengerahkan kekuatan penuh. Pos-pos pengamanan didirikan di titik vital, mulai dari perbatasan kota hingga pusat keramaian.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bersama jajaran Forkopimda turun langsung memantau situasi. Fokus utama mereka bukan hanya kemacetan, tetapi juga potensi gangguan Kamtibmas seperti balap liar, konsumsi minuman keras, dan ancaman cuaca ekstrem.
Hingga berita ini diturunkan pada pagi 1 Januari 2026, situasi dilaporkan aman dan terkendali. Tidak ada insiden besar yang mencoreng wajah Kota Makassar. Sinergi antara TNI, Polri, dan Pemkot Makassar berhasil menjaga malam pergantian tahun tetap kondusif, meski diwarnai dengan dualisme antara larangan resmi dan antusiasme warga.
Makassar telah menyambut 2026. Bukan dengan ledakan besar yang memekakkan telinga, melainkan dengan keramaian yang tertib dan doa tersirat bagi negeri yang sedang memulihkan diri.























