Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, baru-baru ini menyampaikan pandangan yang signifikan mengenai pergeseran lanskap teknologi dan ekonomi global. Ia menilai bahwa Tiongkok kini telah mencapai atau bahkan melampaui Korea Selatan dalam berbagai sektor teknologi dan permodalan. Perubahan fundamental ini, menurutnya, tengah membentuk ulang fondasi kerja sama ekonomi antara kedua negara.
Poin-Poin Utama:
- Tiongkok dinilai telah menyamai, bahkan melampaui Korea Selatan dalam sektor teknologi dan permodalan.
- Pola kerja sama ekonomi bergeser dari vertikal (Korsel sebagai penyedia teknologi) menjadi horizontal dan setara.
- Sektor otomotif, kendaraan listrik, AI, dan teknologi tinggi menjadi arena persaingan sekaligus kolaborasi utama.
- Integrasi rantai pasok antara kedua negara sangat dalam, menekankan pentingnya menghindari konfrontasi.
- Korea Selatan perlu berinvestasi pada kendaraan berbasis perangkat lunak dan AI untuk menjaga daya saing.
Pernyataan ini diungkapkan Lee dalam sebuah wawancara dengan China Media Group (CMG) menjelang kunjungan resminya ke Tiongkok. Lawatan ini krusial karena dipimpin langsung oleh Lee bersama delegasi yang terdiri dari sekitar 200 perwakilan perusahaan Korea Selatan. Kunjungan ini dilakukan di tengah meningkatnya intensitas persaingan industri antara kedua negara, khususnya dalam sektor otomotif dan kendaraan listrik yang semakin dinamis.
Pergeseran Model Kerja Sama Ekonomi
Warteknet, Founder repiw.com yang intens mengamati perkembangan dan tren teknologi dunia, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang teknologi digital, memberikan perspektif tambahan. “Dulu, skema kerja sama ekonomi antara Korea Selatan dan Tiongkok dapat digambarkan sebagai hubungan vertikal. Korea Selatan memosisikan diri sebagai penyedia teknologi canggih dan modal, sementara Tiongkok mengandalkan kekuatan tenaga kerja masifnya. Namun, tren ini kini berbalik arah,” jelasnya.
Lee Jae-myung turut menjelaskan evolusi ini. Jika di masa lalu kerja sama ekonomi kedua negara bersifat vertikal, di mana Korea Selatan berperan sebagai penyedia teknologi maju dan modal sementara Tiongkok mengandalkan tenaga kerja, pesatnya kemajuan Tiongkok kini telah mengubah pola tersebut. Hal ini menuntut adanya model kerja sama baru yang lebih setara dan bersifat horizontal.
Ia menekankan bahwa kolaborasi ke depan harus difokuskan pada sektor-sektor maju seperti kecerdasan buatan (AI) dan industri teknologi tinggi. Sektor-sektor ini semakin terhubung erat dengan industri manufaktur otomotif serta pengembangan perangkat lunak kendaraan, yang menjadi medan pertempuran teknologi masa depan.
Persaingan dan Ketergantungan di Sektor Kunci
Otomotif dan Kendaraan Listrik
Dinamika perubahan ini sangat kentara dalam industri otomotif. Tiongkok telah berhasil memantapkan diri sebagai produsen sekaligus eksportir kendaraan energi baru (NEV) terbesar di dunia. Sementara itu, Korea Selatan tetap memegang posisi penting dalam industri otomotif global, terutama dalam manufaktur kendaraan konvensional, elektronika daya, dan rantai pasok baterai.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil Tiongkok secara agresif memperluas ekspor dan penetrasi pasar internasional. Sebaliknya, perusahaan Korea Selatan masih menjadikan Tiongkok sebagai basis produksi utama dan pasar penjualan vital, baik untuk kendaraan maupun komponennya. Data perdagangan terbaru menunjukkan tren peningkatan ekspor kendaraan Tiongkok ke Korea Selatan, sementara pemasok komponen Korea Selatan menghadapi tekanan yang semakin besar dari produsen Tiongkok, terutama di sektor motor listrik, elektronika daya, dan material baterai.
Rantai Pasok Baterai
Rantai pasok baterai menjadi salah satu titik krusial yang menunjukkan persaingan sekaligus ketergantungan. Perusahaan-perusahaan Tiongkok saat ini mendominasi produksi global baterai lithium besi fosfat (LFP) dan menguasai sebagian besar proses hulu bahan baku vital seperti lithium, kobalt, dan grafit. Di sisi lain, perusahaan Korea Selatan masih menjadi pemasok utama baterai lithium ternary untuk produsen mobil global, termasuk raksasa seperti Hyundai Motor Group. Namun, posisi ini terus menghadapi tantangan dari produk Tiongkok yang menawarkan harga lebih kompetitif seiring meluasnya adopsi kendaraan listrik.
Perangkat Lunak Kendaraan dan AI
Di bidang perangkat lunak kendaraan dan sistem penggerak cerdas, persaingan juga semakin memanas. Produsen mobil Tiongkok menunjukkan kecepatan luar biasa dalam mengadopsi sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS), sistem operasi kendaraan (OS), serta fitur-fitur berbasis kecerdasan buatan untuk model pasar massal. Sebagai respons, produsen Korea Selatan meningkatkan investasi pada kendaraan berbasis perangkat lunak, riset pengemudian otonom, dan pengembangan kecerdasan buatan demi mempertahankan daya saingnya di pasar domestik maupun global.
Menuju Kerja Sama yang Setara
Lee Jae-myung menegaskan bahwa rantai pasok industri Korea Selatan dan Tiongkok telah terintegrasi secara mendalam. Oleh karena itu, sangat penting bagi kedua negara untuk menghindari konfrontasi dalam hubungan ekonomi mereka. Selama kunjungannya, Lee dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin dan pelaku bisnis Tiongkok. Agenda utama pembahasan mencakup pembentukan kerangka kerja sama di sektor manufaktur maju, yang meliputi industri otomotif dan energi baru, untuk menghadapi tantangan dan peluang di era baru persaingan teknologi.























