Pemerintah Korea Selatan meluncurkan reformasi kebijakan pariwisata radikal, termasuk fasilitas bebas visa bagi wisatawan Indonesia. Langkah ini adalah bagian dari strategi ambisius menargetkan 30 juta kunjungan asing, memanfaatkan momentum budaya global.
Reformasi Pariwisata Korea Selatan: Bebas Visa dan Inisiatif Penarik Wisatawan
Dalam Rapat Strategi Pariwisata Nasional ke-11 yang dipimpin oleh Presiden Lee Jae Myung, pemerintah Korea Selatan mengumumkan serangkaian kebijakan baru yang dirancang untuk mendorong kunjungan wisatawan asing. Inisiatif utama mencakup pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan Indonesia dan perluasan opsi visa multiple-entry bagi warga negara dari negara-negara Asia Tenggara dan Tiongkok.
Fasilitas Bebas Visa dan Visa Multiple-Entry
Dalam skema uji coba, wisatawan Indonesia yang bepergian dalam grup minimal tiga orang akan mendapatkan keringanan bebas visa. Lebih lanjut, warga negara Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara yang sebelumnya pernah berkunjung ke Korea berhak mengajukan visa multiple-entry yang berlaku selama lima tahun. Bahkan, penduduk kota-kota besar di negara-negara tersebut memiliki potensi untuk mendapatkan visa dengan masa berlaku sepuluh tahun.
Perluasan Akses Gerbang Imigrasi Otomatis
Untuk memperlancar proses imigrasi, sistem gerbang otomatis yang sebelumnya hanya melayani warga dari negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan Australia, kini akan diperluas untuk mencakup seluruh warga negara Uni Eropa.
Rekap Kunjungan Wisatawan dan Perbandingan dengan Jepang
Pada tahun 2025, Korea Selatan berhasil menarik lebih dari 18 juta wisatawan asing, melampaui angka pra-pandemi yang berada di kisaran 17 juta. Pertumbuhan ini mencapai sekitar 15% dibandingkan tahun 2024. Namun, capaian ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Jepang, yang mencetak rekor 43 juta kunjungan pada periode yang sama. Keberhasilan Jepang sebagian besar didorong oleh pelemahan mata uang yen yang membuat biaya wisata di sana menjadi lebih kompetitif.
Memanfaatkan Momentum Budaya Populer (K-Wave)
Menteri Kebudayaan Chae Hwi-young menekankan bahwa momentum global K-pop, K-drama, dan budaya populer Korea lainnya merupakan peluang emas bagi industri pariwisata domestik. Untuk mengoptimalkan potensi ini, pemerintah meluncurkan inisiatif bertajuk “K-Tourism Embraces the World”, sebuah kampanye yang diharapkan dapat menarik minat global terhadap destinasi Korea.
Strategi Diversifikasi Destinasi dan Aksesibilitas
Salah satu fokus utama strategi baru ini adalah mengurangi kepadatan wisatawan di Seoul. Pemerintah berencana untuk menambah rute penerbangan internasional langsung ke bandara-bandara regional melalui pemberian insentif biaya dan hak lalu lintas udara khusus. Selain itu, frekuensi penerbangan domestik penghubung dari Incheon ke bandara-bandara daerah juga akan ditingkatkan. Layanan bus bandara malam hari akan diperluas ke Provinsi Chungcheong dan Gangwon, serta tiket kereta cepat KTX dapat dipesan lebih awal dari batas satu bulan, memudahkan mobilitas wisatawan.
Pemberantasan Praktik “Harga Getok” dan Perlindungan Konsumen
Pemerintah Korea Selatan menunjukkan komitmen kuat untuk memberantas praktik harga yang tidak wajar atau dikenal sebagai “harga getok” terhadap wisatawan. Kebijakan tanpa toleransi akan diterapkan bagi pelaku usaha yang kedapatan tidak mencantumkan harga atau melanggar tarif yang sudah ditetapkan. Sistem pelaporan mandiri harga akan diimplementasikan untuk akomodasi, termasuk kewajiban mendaftarkan tarif musiman. Perusahaan rental mobil di Pulau Jeju akan dibatasi kenaikan harganya saat musim puncak, dan hotel yang melakukan pembatalan reservasi tanpa alasan yang jelas akan dikenai sanksi.
Pengembangan Model Akomodasi Premium
Untuk meningkatkan kualitas pengalaman menginap, pemerintah berencana mengesahkan Undang-Undang Promosi Akomodasi dan mengembangkan model penginapan premium yang terinspirasi dari konsep “parador” Spanyol. Inisiatif ini akan melibatkan konversi hanok tradisional, kuil, dan desa rakyat menjadi destinasi penginapan kelas atas yang menawarkan pengalaman otentik dan mewah.
Pariwisata sebagai Industri Strategis Nasional
Presiden Lee Jae Myung menegaskan pandangan strategisnya bahwa pariwisata bukan sekadar sektor penjual produk perjalanan, melainkan harus dipandang sebagai industri strategis nasional. Tujuannya adalah menciptakan kenangan berharga bagi setiap wisatawan dan secara efektif mengubah penggemar K-culture menjadi pengunjung nyata ke Korea, yang berkontribusi pada perekonomian dan citra negara.
Kampanye “Visit Korea Year” 2027-2029
Sebagai bagian dari upaya jangka panjang, pemerintah sedang menyiapkan kampanye besar bertajuk ‘Visit Korea Year’ yang akan diselenggarakan pada periode 2027-2029. Kampanye ini akan difokuskan pada wisata berbasis gaya hidup, yang mencakup berbagai pengalaman unik seperti jalur K-beauty, tur kuliner K-food, hingga pengalaman hiking ala Korea, yang dirancang untuk menarik segmen pasar yang lebih luas dan beragam.























