Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali memamerkan putrinya, Kim Ju Ae, dalam sebuah uji coba sistem peluncur roket ganda. Tindakan ini dilaporkan sebagai respons langsung terhadap latihan gabungan militer yang sedang digelar oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat, meningkatkan ketegangan di kawasan.
- Kim Jong Un bersama putrinya, Kim Ju Ae, menyaksikan uji coba peluncur roket ganda di lepas pantai timur Korea Utara.
- Pyongyang menyebut latihan gabungan AS-Korea Selatan sebagai upaya ‘invasi’ dan ‘provokasi’.
- Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan mengecam keras peluncuran rudal sebagai pelanggaran resolusi PBB.
- Kim Jong Un mengancam musuh dalam jarak 420 kilometer dan menekankan kekuatan nuklir taktis.
- Kehadiran Kim Ju Ae memicu spekulasi persiapan suksesi kepemimpinan.
- Sistem peluncur roket Korea Utara dinilai mengaburkan batas antara artileri konvensional dan rudal balistik.
- Latihan gabungan AS-Korea Selatan, Freedom Shield, merupakan simulasi pos komando komputer.
- Korea Utara konsisten bereaksi keras terhadap latihan militer gabungan AS-Korsel.
Uji Coba Sistem Peluncur Roket Ganda di Tengah Ketegangan
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali terlihat mendampingi putrinya, Kim Ju Ae, dalam sebuah uji coba sistem peluncur roket ganda. Tindakan ini dilaporkan sebagai respons langsung terhadap latihan gabungan militer yang sedang digelar oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Latar Belakang dan Pernyataan Keras Pyongyang
Media pemerintah Korea Utara, KCNA, seperti dilansir Associated Press pada Minggu (15/3/2026), menyebut latihan gabungan antara AS dan Korea Selatan sebagai upaya ‘invasi’ terhadap Korea Utara. Pernyataan ini menegaskan sikap keras Pyongyang terhadap aktivitas militer di semenanjung tersebut dan menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap kerjasama pertahanan kedua negara.
Kronologi Detil Uji Coba Rudal
Kim Jong Un dilaporkan menyaksikan langsung latihan serangan yang melibatkan dua belas peluncur roket ultra-presisi kaliber 600 mm di lepas pantai timur Korea Utara pada hari Sabtu (14/3). Militer Korea Selatan sebelumnya telah mendeteksi penembakan sekitar 10 rudal balistik dari wilayah ibu kota Korea Utara menuju laut timur, mengindikasikan persiapan matang dari pihak Pyongyang.
Respons Internasional dan Pelanggaran Resolusi Dewan Keamanan PBB
Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan mengecam keras peluncuran rudal tersebut, menyebutnya sebagai sebuah provokasi yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Resolusi tersebut secara tegas melarang segala bentuk aktivitas balistik yang dilakukan oleh Korea Utara, menunjukkan upaya komunitas internasional untuk mengendalikan program senjata negara tersebut.
Ancaman Kim Jong Un: ‘Ketidaknyamanan’ dan Kekuatan Nuklir Taktis
Dalam laporannya, KCNA mengutip Kim Jong Un yang menyatakan bahwa latihan tersebut akan membuat musuh dalam jangkauan 420 kilometer merasa ‘tidak nyaman’. Ia juga menegaskan bahwa latihan ini memberikan ‘pemahaman mendalam tentang kekuatan penghancur senjata nuklir taktis’, yang tampaknya ditujukan kepada Korea Selatan dan pasukan AS yang berlokasi di sana, sebagai peringatan keras.
Munculnya Kim Ju Ae di Acara Militer Penting: Isyarat Suksesi?
Foto-foto yang dirilis oleh KCNA menunjukkan Kim Jong Un dan Kim Ju Ae, yang diperkirakan berusia sekitar 13 tahun, berjalan di dekat truk peluncur roket besar berwarna hijau dan mengamati senjata yang diluncurkan. Kehadiran Kim Ju Ae di berbagai acara militer penting, termasuk uji coba rudal dan parade, sejak akhir tahun 2022 telah memicu spekulasi bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan Korea Utara, sebuah fenomena yang terus menarik perhatian pengamat internasional.
Teknologi Peluncur Roket Korea Utara yang Membingungkan
Para ahli militer menilai sistem peluncur roket berukuran besar milik Korea Utara telah mengaburkan batas antara sistem artileri konvensional dan rudal balistik. Sistem ini diklaim mampu menghasilkan daya dorong mandiri dan dipandu selama peluncuran. Korea Utara juga mengklaim beberapa sistem ini mampu mengirimkan hulu ledak nuklir, menambah dimensi kekhawatiran terhadap kapabilitas militernya.
Latihan Gabungan AS-Korea Selatan: Freedom Shield
Latihan gabungan Freedom Shield yang dilakukan oleh AS dan Korea Selatan merupakan latihan pos komando yang disimulasikan melalui komputer. Latihan ini dijadwalkan berlangsung hingga tanggal 19 Maret, sebagai bagian dari upaya rutin untuk memperkuat pertahanan bersama di tengah ancaman regional.
Reaksi Rutin Korea Utara terhadap Latihan Militer Gabungan
Korea Utara memiliki pola reaksi yang konsisten terhadap latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan, yaitu dengan melakukan uji coba senjata dan mengeluarkan retorika yang keras. Siklus ini terus berulang, menunjukkan tantangan berkelanjutan dalam upaya menciptakan stabilitas di Semenanjung Korea.























