Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menyerahkan program penyediaan air bersih di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Langkah ini krusial untuk mendukung pemulihan masyarakat pasca-bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Akses Air Bersih: Fondasi Pemulihan Pasca-Bencana
Rektor ITB, Tata Cipta Dirgantara, menekankan bahwa penyediaan akses air bersih merupakan langkah fundamental yang tak terpisahkan dari upaya pemulihan. “Penyediaan akses air bersih adalah langkah fundamental untuk mendukung kesehatan masyarakat serta mempercepat pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga,” ujar Rektor ITB.
Kolaborasi Multisektor untuk Kemanusiaan
Program ini merupakan bukti nyata sinergi antarlembaga, melibatkan kolaborasi antara ITB dengan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI). Dukungan kuat juga datang dari Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Rumah Amal Salman yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur, serta Paragon Corp yang menyalurkan bantuan pangan.
Detail Infrastruktur dan Jangkauan Program
Usanti, Ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia, menjelaskan bahwa pembangunan kembali jaringan pipa air yang rusak akibat bencana dilakukan menggandeng Rumah Amal Salman. Pendanaan program ini berasal dari donasi masyarakat yang dikumpulkan untuk korban bencana di Sumatera.
- Panjang Jaringan Pipa: Terpasang infrastruktur jaringan pipa berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) sepanjang 4,1 kilometer.
- Jumlah Penerima Manfaat: Menjangkau permukiman warga di Salareh Aia, melayani 281 keluarga atau sekitar 1.000 jiwa.
- Kapasitas Distribusi: Mampu mendistribusikan air bersih dengan kapasitas mencapai 35.000 liter per hari.
- Titik Akses Publik: Pembangunan lebih dari 10 titik keran hidran untuk memudahkan akses masyarakat.
Dampak Luas: Kesehatan, Ekonomi, dan Pemberdayaan Lokal
Ketua Pengurus Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma, menyoroti aspek keberlanjutan program ini. “Program ini merupakan upaya pemulihan berkelanjutan yang bertujuan memulihkan martabat warga terdampak bencana,” jelasnya. Sistem penyediaan air bersih ini juga terintegrasi dengan fasilitas layanan kesehatan setempat, termasuk Puskesmas Koto Alam yang kini dapat kembali melayani sekitar 150 pasien.
Proses pembangunan jaringan pipa ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga melibatkan lebih dari 50 warga setempat. Keterlibatan mereka memberikan dampak ekonomi langsung dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap infrastruktur yang dibangun, memperkuat potensi pemulihan mandiri.
Harapan dan Dukungan Pemerintah Daerah
Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Sekretariat Daerah Agam, Yunilson, menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan yang diberikan. “Kami berterima kasih atas bantuan air bersih dari IIDI bekerja sama dengan ITB dan Rumah Amal Salman,” ujarnya. Ia mengakui krisis air bersih sempat menghentikan pelayanan Puskesmas Koto Alam selama dua bulan.
Yunilson berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut, mengingat Agam merupakan daerah terparah di Sumatera Barat terdampak bencana dengan kerugian yang ditaksir mencapai Rp7,9 triliun akibat kerusakan infrastruktur, rumah, dan lahan pertanian. Program ini diharapkan menjadi fondasi awal pemulihan dan contoh kolaborasi efektif dalam penanganan pascabencana.























