Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah melancarkan enam proyek hilirisasi monumental dengan total investasi mencapai Rp 110 triliun. Inisiatif ambisius ini mencakup sektor vital seperti energi, pertambangan, pertanian, dan peternakan, dengan target utama memperkuat perekonomian nasional dan membuka ribuan peluang kerja.
- Investasi senilai Rp110 triliun untuk 6 proyek hilirisasi strategis.
- Perkiraan penciptaan 3.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.
- Melibatkan UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta nasional.
- Memperkuat sektor mineral, energi, dan agroindustri sebagai tulang punggung transformasi ekonomi.
- Detail 6 proyek meliputi pengolahan mineral, bioethanol, SAF dari minyak jelantah, garam industri, dan hilirisasi peternakan.
Tonggak Sejarah Investasi: 6 Proyek Hilirisasi Senilai Rp110 Triliun
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi menandai dimulainya enam proyek hilirisasi yang tersebar di berbagai sektor strategis. Dengan nilai investasi mencapai Rp 110 triliun, proyek-proyek ini diharapkan menjadi katalisator utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tujuan dan Dampak Berlipat Ganda dari Inisiatif Hilirisasi
Lebih dari sekadar akumulasi modal, keenam proyek hilirisasi ini dirancang untuk menciptakan efek berlipat ganda (*multiplier effect*) yang signifikan. Dampak yang paling dinantikan adalah penciptaan sekitar 3.000 lapangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, inisiatif ini berkomitmen untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah operasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang pada akhirnya berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, mengonfirmasi bahwa total investasi yang digelontorkan untuk keenam proyek ini mencapai US$ 7 miliar, setara dengan Rp 110 triliun. Proyek-proyek tersebut berlokasi di 13 daerah berbeda, salah satunya adalah proyek hilirisasi peternakan ayam yang distribusinya mencakup enam kota.
Sektor-Sektor Kunci yang Mendapat Dorongan
Proyek-proyek hilirisasi ini difokuskan pada tiga sektor utama yang dianggap sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional: mineral, energi, dan agroindustri. Perhatian khusus dari Presiden RI, Prabowo Subianto, menegaskan signifikansi proyek ini dalam memberikan dampak langsung terhadap kemajuan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Peran Krusial Hilirisasi dalam Perekonomian Indonesia
Hilirisasi telah menunjukkan peningkatan kontribusi yang substansial terhadap lanskap investasi di Indonesia. Pada tahun 2025, proyek hilirisasi diproyeksikan menyumbang sekitar 30% dari total investasi masuk ke Indonesia, yang nilainya mencapai Rp 584,1 triliun, dengan pertumbuhan tahunan yang mengesankan sebesar 43,3%. Jika sebelumnya hilirisasi cenderung terkonsentrasi di wilayah Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi, kini diharapkan penyebarannya akan menjadi lebih merata di seluruh nusantara.
Rincian Enam Proyek Hilirisasi Unggulan
1. Proyek Pengolahan Mineral dan Logam (MIND ID)
- Lokasi: Mempawah, Kalimantan Barat.
- Cakupan: Pembangunan pabrik aluminium dengan kapasitas 600.000 metrik ton per tahun dan *Smelter Grade Alumina Refinery* Fase II berkapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun.
- Pelaksana: MIND ID berkolaborasi dengan Inalum dan Antam.
- Tujuan Strategis: Memperkuat ketahanan mineral nasional, menjamin pasokan bahan baku bagi industri manufaktur, serta mengokohkan rantai nilai industri di tanah air. Proyek ini diperkirakan akan meningkatkan nilai tambah bauksit secara drastis, mencapai 70 kali lipat, dari sekitar US$40 menjadi US$2.800-US$3.000 per metrik ton setelah diolah menjadi aluminium. Cadangan devisa diprediksi meningkat 394%, dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun pasca-optimalisasi *smelter* aluminium.
2. Proyek Bioethanol Glenmore (PTPN III & Pertamina)
- Kapasitas Produksi: 100 KLPD (Kilo Liter Per Day).
- Pelaksana: PTPN III (Persero) bekerja sama dengan Pertamina.
- Tujuan Utama: Mendukung sektor energi, mendiversifikasi lini bisnis, meningkatkan nilai tambah, menghemat devisa negara, dan memenuhi komitmen pengurangan emisi karbon.
3. Proyek Pengolahan Minyak Jelantah menjadi SAF (Pertamina)
- Kapasitas Pengolahan: 6 ribu barel per hari (KBPD) minyak jelantah.
- Produksi Saat Ini: 27 KL (kilo liter) *Sustainable Aviation Fuel* (SAF) per hari.
- Proyeksi 2029: 887 KL SAF per hari.
- Pelaksana: PT Pertamina (Persero).
- Tujuan Strategis: Mendorong sektor energi dan penerbangan berkelanjutan, berkontribusi pada pelestarian lingkungan, mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan impor Avtur, mendukung penggunaan SAF, mencapai swasembada energi, dan menekan emisi hingga 600 ribu ton setara CO2 per tahun. Proyek ini diperkirakan mendongkrak PDB sebesar Rp199 triliun per tahun dan menciptakan sekitar 5.900 tenaga kerja tidak langsung.
4. Proyek Bioethanol Berbasis Tebu (Pertamina & PT SGN)
- Kapasitas Produksi: 30 ribu KL per tahun bioethanol berbasis tebu.
- Pelaksana: PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
- Tujuan Komprehensif: Mendukung transisi energi, sektor pertanian, pelestarian lingkungan, penguatan rantai nilai industri nasional, menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), dan mengurangi emisi sebesar 66 ribu ton setara CO2 per tahun. Proyek ini diharapkan memberikan manfaat langsung bagi lebih dari 4.000 petani dan tenaga kerja lokal.
5. Proyek Garam Bahan Baku Industri (PT Garam)
- Pelaksana: PT Garam.
- Teknologi Unggulan: MVR (Mechanical Vapor Recompression).
- Fase I Meliputi Tiga Proyek:
- Pabrik Garam Bahan Baku Industri di Sampang dengan kapasitas 200.000 ton per tahun.
- Pabrik Garam Bahan Baku Industri MVR di Manyar, Gresik, berkapasitas 100.000 ton per tahun (bekerja sama dengan Unilever).
- Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 di Gresik dengan kapasitas 80.000 ton per tahun.
- Total Kapasitas Produksi Fase I: Sekitar 380.000 ton per tahun.
- Sasaran Utama: Memastikan ketersediaan pasokan garam untuk industri, meningkatkan kualitas produk, mengoptimalkan utilisasi produksi, dan membuka lapangan kerja baru. Proyek ini menandai evolusi PT Garam menuju hilirisasi dan mendukung upaya swasembada garam nasional.
6. Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi (ID FOOD/PT Berdikari)
- Luas Lahan: 5,6 hektar.
- Lokasi: Kabupaten Malang, serta lima lokasi strategis lainnya di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.
- Pelaksana: PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD melalui anak usahanya, PT Berdikari.
- Fokus Utama: Memperkuat sektor pangan nasional dan meningkatkan daya saing rantai nilai industri pertanian.
Memperkuat Momentum Hilirisasi Nasional
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah memproyeksikan 18 proyek hilirisasi dengan nilai Rp618 triliun, yang diperkirakan akan menciptakan 276.000 lapangan kerja berkualitas. Beliau secara konsisten menekankan pentingnya hilirisasi sebagai strategi fundamental untuk mengelola kekayaan sumber daya alam negara secara optimal dan mengurangi ketergantungan pada investasi asing.
Menangani Sampah dengan Solusi Inovatif Waste-to-Energy
Presiden Prabowo juga menggarisbawahi isu krusial mengenai pengelolaan sampah yang diprediksi akan mencapai kapasitas maksimalnya pada tahun 2028. Sebagai respons, pemerintah tengah mempersiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (*Waste to Energy*) di 34 titik kabupaten/kota. Dengan total investasi US$3,5 miliar, proyek ini diharapkan dapat mulai beroperasi dalam dua tahun ke depan, mengubah tantangan sampah menjadi sumber energi terbarukan.























