Di tengah memanasnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengeluarkan seruan yang cukup diplomatis kepada Iran. Permintaan ini muncul saat Iran terlibat dalam konfrontasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel, yang secara tidak langsung juga memengaruhi situasi di Gaza.
- Hamas meminta Iran untuk menahan diri dari menargetkan negara-negara tetangga di tengah konflik yang sedang berlangsung.
- Kelompok ini mengakui dan menghargai dukungan politik, diplomatik, dan militer yang telah diberikan oleh mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- Seruan ini menggarisbawahi kompleksitas aliansi dan konflik di kawasan yang bergejolak.
Dinamika Seruan Hamas untuk Iran
Pada Sabtu (14/3/2026), Hamas mendesak Iran untuk menunjukkan pengekangan dalam tindakan militernya terhadap negara-negara tetangga. Pernyataan ini dilontarkan meskipun Iran sedang melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap negara-negara yang diketahui memiliki aset militer Amerika Serikat, seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Klaim Iran adalah balasan atas serangan yang dilancarkan oleh AS dan sekutunya, Israel, yang telah menimbulkan kerusakan dan korban jiwa di beberapa negara Teluk. Situasi ini menambah lapisan kompleksitas pada konflik yang telah berlangsung lama antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Menyeimbangkan Hak Pertahanan Diri dan Stabilitas Regional
Dalam rilis pernyataannya, Hamas secara eksplisit mengakui hak Iran untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional dari serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Namun, terdapat penekanan kuat pada permintaan agar Iran tidak menjadikan negara-negara tetangga sebagai sasaran serangan mereka. Pernyataan ini juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah konkret guna menghentikan perang yang sedang berlangsung di berbagai lini konflik di Timur Tengah.
Pengakuan Dukungan dari Ayatollah Khamenei
Seruan Hamas ini datang tidak lama setelah mereka secara tegas mengecam pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang dilaporkan tewas dalam serangan awal yang dilakukan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Hamas tidak ragu menyebut peristiwa tersebut sebagai “kejahatan keji” dan pada saat yang sama mengakui secara terbuka besarnya dukungan yang telah diberikan oleh Khamenei kepada perjuangan kelompok militan di Gaza tersebut. Pernyataan Hamas secara gamblang menyebutkan bahwa Khamenei telah memberikan “semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer” kepada rakyat Palestina, perjuangan mereka, serta gerakan perlawanan.
Konteks Lebih Luas: Kerawanan Stabilitas Timur Tengah
Pernyataan Hamas ini menjadi sorotan penting yang menyingkap dinamika regional Timur Tengah yang sangat kompleks. Berbagai faksi yang ada di kawasan tersebut saling terkait, baik melalui aliansi strategis maupun konflik yang terus menerus terjadi. Perang yang masih berkecamuk di Gaza, ditambah dengan meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, menciptakan sebuah situasi yang sangat rapuh bagi stabilitas regional secara keseluruhan. Keputusan dan pernyataan dari aktor-aktor kunci seperti Hamas dan Iran memiliki implikasi yang luas terhadap upaya perdamaian dan keamanan di seluruh Timur Tengah.























