Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, dengan Hizbullah menegaskan sikapnya yang ‘tidak netral’ dalam eskalasi konflik regional yang melibatkan AS dan Israel, sementara seorang komandan senior milisi pro-Iran di Irak dilaporkan tewas dalam serangan.
Hizbullah Nyatakan Sikap: ‘Tidak Netral’ dalam Konflik Regional
Di tengah memuncaknya ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, Hizbullah secara tegas menyatakan posisinya. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, merespons peringatan utusan khusus AS untuk Suriah agar tidak terlibat perang dengan menyatakan bahwa kelompoknya ‘tidak netral’.
Qassem menekankan bahwa Hizbullah akan bertindak sesuai yang kami anggap tepat dalam menghadapi agresi brutal Israel-Amerika ini. Pernyataan ini menggarisbawahi keterlibatan aktif kelompok yang dikenal sebagai proksi Iran tersebut dalam dinamika konflik regional yang semakin kompleks.
Latar Belakang Eskalasi Hizbullah dan Israel
Hizbullah sendiri telah mengalami peningkatan eskalasi konflik dengan Israel. Kematian pemimpin terdahulunya, Hassan Nasrallah, pada akhir tahun 2024 dalam serangan yang diduga dilakukan oleh Tel Aviv, menjadi catatan penting. Meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata, serangan Israel ke Lebanon selatan, wilayah basis Hizbullah, dilaporkan masih terus terjadi.
Komandan Senior Kataeb Hizbullah Tewas dalam Serangan di Irak
Menambah daftar korban di berbagai front Timur Tengah, seorang komandan senior dari kelompok milisi pro-Iran di Irak, Kataeb Hizbullah, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan di wilayah selatan negara tersebut. Sekretaris Jenderal Kataeb Hizbullah, Ahmad al‑Hamidawi, mengonfirmasi kematian komandan mereka, Ali Hussein al‑Freiji, yang disebut sebagai ‘seorang komandan besar’ dengan pengalaman lebih dari dua dekade di kelompok itu.
Sumber dari faksi tersebut menyebutkan bahwa serangan tersebut menghantam sebuah kendaraan di dekat markas utama mereka di Irak selatan. Serangan yang awalnya dilaporkan menewaskan dua orang, kemudian dipastikan merenggut tiga nyawa, termasuk Ali Hussein al-Freiji. Pihak Kataeb Hizbullah mengidentifikasi serangan ini sebagai ‘serangan Zionis-AS’.
Basis Jurf al-Nasr Menjadi Target Berulang
Markas Kataeb Hizbullah, yang berlokasi di Jurf al-Nasr, sebelumnya juga dilaporkan telah menjadi target serangan Israel dan Amerika Serikat sebelum konflik meluas ke wilayah lain. Hal ini menunjukkan adanya perhatian strategis terhadap basis kelompok tersebut dalam upaya menekan kekuatan milisi pro-Iran di kawasan tersebut.
Mengapa Israel Gencar Menargetkan Hizbullah? Analisis Mendalam
Hizbullah, partai politik dan kelompok militan Muslim Syiah yang berbasis di Lebanon, memiliki sejarah panjang konfrontasi dengan Israel dan penolakan terhadap pengaruh Barat di Timur Tengah. Didirikan pada masa Perang Saudara Lebanon, kelompok ini didukung secara militer dan finansial oleh Iran.
Sejarah Konfrontasi dan Tujuan Strategis
- Organisasi Teroris dan Aliansi Kuat: Dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS dan banyak negara lain, Hizbullah memiliki aliansi militer yang kokoh dengan Iran dan Suriah.
- Penolakan Keberadaan Israel: Sejak awal, Hizbullah menyerukan pemerintahan Islam di Lebanon dan secara eksplisit menyatakan bahwa konfrontasi mereka dengan Israel ‘hanya akan berakhir ketika Israel telah dihapus dari keberadaan’.
- Peran Krusial dalam Penarikan Israel: Serangan Hizbullah pada tahun 2000 berkontribusi signifikan terhadap keputusan Israel untuk mengakhiri pendudukan 18 tahun di Lebanon selatan, yang kini diperingati sebagai Hari Perlawanan dan Pembebasan di Lebanon.
- Penolakan Pelucutan Senjata dan Peningkatan Kapasitas: Pasca-penarikan Israel, Hizbullah menolak tekanan untuk melucuti senjata dan terus membangun infrastruktur militer yang kuat, didukung pendanaan, pelatihan, dan persenjataan dari Iran. Kapasitas mereka kini dianggap lebih kuat dari tentara Lebanon.
- Pengalaman Perang Suriah: Pejuang Hizbullah memperoleh pengalaman tempur berharga dalam perang saudara di Suriah, memberikan kontribusi signifikan bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad.
- Aktivitas di Luar Lebanon: Kelompok ini juga dituduh terlibat dalam berbagai aksi terorisme dan rencana jahat terhadap target Yahudi dan Israel di luar batas negara mereka.
Perang Lebanon 2006 dan Resolusi PBB
Pada Juli 2006, serangan lintas batas Hizbullah memicu perang selama 34 hari dengan Israel, menewaskan lebih dari 1.125 warga Lebanon dan 119 tentara serta 45 warga sipil Israel. Perang ini diakhiri dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang menyerukan gencatan senjata dan pembentukan zona penyangga, serta menuntut pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara di Lebanon.
Gencatan Senjata Rapuh dan Bentrokan Terbaru
Bentrokan lintas batas antara Hizbullah dan Israel telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak perang Israel dengan Hamas di Gaza meletus pada Oktober 2023 dan perang yang lebih luas antara Iran melawan koalisi AS-Israel. Kematian Hassan Nasrallah pada akhir 2024 dan serangan darat Israel di Lebanon selatan menandai fase baru konflik.
Meskipun kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata, kesepakatan tersebut runtuh pada Februari 2026. Hizbullah melancarkan serangan balasan ke Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam kampanye militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel. Situasi ini menegaskan kembali rapuhnya upaya perdamaian dan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan yang bergejolak ini.






















