Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon, dilaporkan berhasil keluar dari zona konflik yang memanas di Timur Tengah pada Selasa, 10 Maret 2026.
Pertamina secara tegas menyatakan bahwa kepulangan kedua kapal tersebut tidak mengganggu kelancaran pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi kebutuhan domestik, menegaskan stabilitas pasokan energi nasional.
- Dua kapal PIS, PIS Rinjani dan PIS Paragon, berhasil keluar dari zona konflik Timur Tengah.
- Kepulangan kapal ini menegaskan keamanan pasokan BBM nasional.
- Konflik dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran akhir Februari 2026.
- Dua kapal PIS lainnya, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih di Teluk Arab menunggu kondisi aman.
- Keselamatan kru dan aset menjadi prioritas utama Pertamina.
Wartakita.id – Situasi geopolitik yang memburuk di Timur Tengah, dipicu oleh serangan militer bersama antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, telah menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap operasi kapal tanker Indonesia yang beroperasi di kawasan Teluk Arab dan sekitarnya. Dua dari empat kapal PIS yang beroperasi di wilayah rawan tersebut, yaitu PIS Rinjani dan PIS Paragon, kini telah berhasil meninggalkan area yang dinilai berpotensi berbahaya dan telah menepi ke lokasi yang lebih aman.
Detil Evakuasi Kapal PIS
PIS Rinjani, kapal yang berhasil dievakuasi, sebelumnya dilaporkan tengah berlabuh di Khor Fakkan, sebuah pelabuhan strategis di Uni Emirat Arab. Sementara itu, PIS Paragon, kapal kedua yang kini telah keluar dari zona berbahaya, tercatat sedang dalam proses pemuatan barang di Oman. Lokasi kedua kapal ini relatif lebih aman dan menjauh dari pusat eskalasi konflik yang semakin menghangat.
Vega Pita, yang menjabat sebagai Pjs Corporate Secretary PIS, memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan ini. Beliau menegaskan bahwa kedua kapal tersebut kini telah berhasil menempuh rute yang aman dan menjauhi titik-titik konflik aktif. Pihak PIS terus melakukan pemantauan ketat terhadap situasi di lapangan.
Kondisi Kapal Lain dan Prioritas Keselamatan
Namun demikian, situasi belum sepenuhnya pulih bagi seluruh armada PIS di kawasan tersebut. Dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih dilaporkan berada di Teluk Arab. Kedua kapal ini tengah dalam posisi menunggu kondisi keamanan yang memadai untuk dapat melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis dan kini menjadi sangat krusial untuk dilalui dengan hati-hati mengingat situasi keamanan yang tidak menentu.
VLCC Pertamina Pride saat ini diketahui tengah mengangkut muatan minyak mentah jenis light crude oil. Kargo ini memiliki peranan vital dalam memenuhi kebutuhan energi domestik Indonesia, menandakan pentingnya kapal ini dalam menjaga pasokan bahan bakar nasional. Sementara itu, kapal Gamsunoro membawa kargo yang telah dipesan oleh pelanggan pihak ketiga, menunjukkan diversifikasi operasi dan komitmen PIS dalam melayani berbagai kebutuhan pasar, baik domestik maupun internasional.
Vega Pita menambahkan, kondisi keselamatan kedua kapal yang masih berada di Teluk Arab tersebut terus dipantau secara intensif. “Kami terus memantau situasi dengan sangat ketat. Prioritas utama kami adalah memastikan keselamatan seluruh kru yang berada di atas kapal, serta menjaga aset perusahaan agar terhindar dari segala risiko yang tidak diinginkan,” ujar Vega Pita. Pertamina melalui PIS berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah preventif dan responsif demi menjamin kelancaran operasi dan keamanan maritim, terutama dalam menghadapi situasi global yang dinamis.
Dampak Geopolitik dan Keandalan Pasokan Energi
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi pada akhir Februari 2026 lalu, menjadi pemicu utama eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Kawasan ini, yang dikenal sebagai jantung produksi dan distribusi minyak global, memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas harga energi dunia. Jalur pelayaran di sekitar Teluk Arab, termasuk Selat Hormuz, merupakan urat nadi penting bagi pengiriman minyak mentah ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi, terutama minyak mentah dan produk BBM, sangat beralasan mengingat dominasi kawasan tersebut dalam rantai pasok energi global. Namun, dengan berhasilnya kedua kapal PIS keluar dari zona konflik, Pertamina melalui PIS menunjukkan kapabilitasnya dalam mengelola risiko dan menjaga keberlangsungan operasi di tengah situasi yang menantang. Hal ini penting untuk meredakan kekhawatiran publik dan para pemangku kepentingan mengenai stabilitas pasokan energi nasional.
Peran PIS dalam Keamanan Energi Nasional
PT Pertamina International Shipping (PIS) memegang peranan krusial dalam menjaga ketahanan energi Indonesia. Sebagai subholding Integrated Shipping and Logistics Pertamina, PIS bertanggung jawab atas operasional kapal tanker dan logistik energi nasional. Keberhasilan dalam menavigasi jalur pelayaran yang berisiko di Timur Tengah, meskipun sebagian kecil dari armada, menunjukkan dedikasi dan profesionalisme perusahaan dalam menjalankan mandatnya.
Perusahaan terus berinvestasi dalam teknologi pemantauan dan sistem keamanan untuk mengantisipasi berbagai ancaman yang mungkin muncul di jalur pelayaran internasional. Selain itu, koordinasi erat dengan badan maritim internasional, kementerian terkait, dan kedutaan besar di negara-negara yang bersinggungan dengan rute pelayaran menjadi kunci dalam memastikan keselamatan kapal dan kru.
Dengan dua kapal yang kini berada di zona aman, Pertamina menegaskan kembali komitmennya untuk terus mengamankan pasokan energi nasional. Meskipun dua kapal lainnya masih dalam posisi siaga, perhatian penuh dan strategi mitigasi risiko terus diterapkan. Situasi ini menjadi bukti bahwa PIS mampu beradaptasi dan beroperasi secara efektif bahkan dalam kondisi geopolitik yang tidak kondusif, demi menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat Indonesia.























