Wartakita.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem untuk seluruh Sulawesi Selatan pada 8 Januari 2026. Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat disertai angin kencang berpotensi menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah wilayah, mengharuskan kewaspadaan tinggi dari pemerintah daerah hingga masyarakat.
Musim penghujan yang kini memasuki puncaknya menjadi penyebab utama dari peringatan dini ini. Intensitas hujan yang tinggi, ditambah dengan adanya bibit siklon dan dampak perubahan iklim, menciptakan kondisi yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. BMKG menekankan bahwa ini bukan sekadar prediksi, melainkan imbauan serius untuk mencegah terulangnya korban jiwa dan kerugian materiil seperti pada bencana sebelumnya.
Ancaman Nyata: Wilayah Paling Rawan Terkena Dampak
Seluruh wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) teridentifikasi memiliki potensi terdampak. Namun, beberapa daerah diprediksi akan merasakan dampaknya lebih intens. Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, Pangkep, Takalar, Luwu Timur, Tana Toraja, dan Enrekang menjadi sorotan utama karena lokasinya yang secara geografis lebih rentan terhadap genangan air dan pergerakan tanah.
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, bersama dengan tim tanggap darurat BNPB, telah diinstruksikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Pemantauan berbasis satelit secara rutin terus dilakukan oleh BMKG untuk memberikan informasi terkini. Imbauan telah disebarkan melalui berbagai kanal, termasuk aplikasi resmi BMKG dan media massa, guna memastikan informasi sampai ke tangan masyarakat secara cepat dan akurat.
Respons Kota Makassar: Kesiapsiagaan Penuh Menghadapi Hujan Seharian
Khusus di Kota Makassar, Pemerintah Kota (Pemkot) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) telah menyiapkan strategi mitigasi banjir yang komprehensif. Prakiraan cuaca untuk tanggal 8 Januari 2026 memprediksi hujan akan mengguyur kota sepanjang hari, dari pagi hingga dini hari berikutnya, dengan intensitas yang bervariasi.
Imbauan khusus diberikan kepada warga yang tinggal di kawasan pinggiran sungai, pusat kota yang rentan tergenang, serta pemukiman padat penduduk seperti di Kecamatan Tamalate. Aktivitas pembersihan saluran air dan gorong-gorong secara masif telah dilakukan untuk memastikan sistem drainase kota berfungsi optimal. Tim darurat disiagakan 24 jam penuh untuk merespons setiap laporan genangan atau potensi bencana.
Peran Warga dalam Mitigasi Bencana
Keaktifan masyarakat dalam berbagi informasi cuaca melalui media sosial menjadi salah satu poin penting yang diamati. Tren ini menunjukkan kesadaran kolektif akan pentingnya informasi terkini dalam menghadapi potensi bencana. Di tengah kondisi kelembapan udara yang tinggi dan suhu yang berkisar antara 19-33°C, risiko kesehatan dan kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem semakin meningkat di awal tahun 2026.
Oleh karena itu, kesadaran dan partisipasi warga sangat krusial. Berikut beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan:
- Periksa Kesiapan Rumah: Pastikan atap, dinding, dan pondasi rumah dalam kondisi baik. Perbaiki kebocoran yang mungkin terjadi.
- Amankan Barang Berharga: Pindahkan barang-barang elektronik dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
- Siapkan Tas Siaga Bencana: Isi dengan perlengkapan dasar seperti obat-obatan, pakaian ganti, senter, dan makanan ringan.
- Pantau Informasi Resmi: Selalu ikuti perkembangan cuaca dan instruksi dari BMKG serta pemerintah daerah melalui kanal resmi.
- Periksa Sistem Drainase Lingkungan: Pastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat sampah.
Pakar Berbicara: Memahami Pola Cuaca Ekstrem
Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca global secara signifikan. Fenomena seperti La Nina dan El Nino kini hadir dengan intensitas yang lebih ekstrem. BMKG menggunakan berbagai model prediksi yang didukung data satelit untuk menganalisis pergerakan awan, tekanan udara, dan kelembapan. Bibit siklon tropis, meskipun belum tentu berkembang menjadi siklon, dapat memicu hujan lebat dan angin kencang di wilayah sekitarnya.
“Kewaspadaan dini ini adalah investasi kita untuk keselamatan. Jangan menunggu air datang baru bergerak. Persiapan yang matang dari sekarang akan sangat membantu mengurangi dampak buruk saat bencana terjadi,” ujar seorang analis cuaca BMKG.
Fakta Penting: Mitigasi Banjir dan Kesehatan
Kondisi cuaca lembap yang diprediksi dapat memicu pertumbuhan bakteri dan virus lebih cepat. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan diri untuk mencegah penyakit yang kerap muncul pasca-banjir.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Kapan peringatan cuaca ekstrem ini berlaku?
Peringatan dini ini berlaku untuk prakiraan aktif pada tanggal 8 Januari 2026, mulai dari pagi hari hingga malam hari, dengan pembaruan informasi berkala.
2. Wilayah mana saja di Sulsel yang paling berpotensi terdampak banjir?
Wilayah yang paling rentan meliputi Kota Makassar, Gowa, Maros, Pangkep, Takalar, Luwu Timur, Tana Toraja, dan Enrekang.
3. Apa yang harus dilakukan warga jika terjadi banjir?
Segera amankan diri dan keluarga ke tempat yang lebih tinggi. Ikuti instruksi dari tim SAR dan petugas penanggulangan bencana. Hindari berjalan atau berkendara di area banjir.
4. Bagaimana cara memantau informasi cuaca terkini dari BMKG?
Anda dapat memantau informasi melalui aplikasi resmi BMKG, situs web BMKG, serta media sosial resmi BMKG dan instansi terkait pemerintah daerah.
5. Apakah perubahan iklim berperan dalam cuaca ekstrem ini?
Ya, perubahan iklim disebut sebagai salah satu faktor yang memperburuk intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang terjadi.
6. Selain banjir, ancaman cuaca ekstrem apa lagi yang perlu diwaspadai?
Selain banjir, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi longsor, terutama di daerah perbukitan, serta angin kencang yang dapat merusak properti.
Menghadapi peringatan cuaca ekstrem ini, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci. Dengan informasi yang akurat dan kesiapsiagaan yang optimal, diharapkan dampak buruk dari potensi banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya dapat diminimalisir. Mari bersama-sama menjaga keselamatan diri dan lingkungan.























