Wartakita.id, MAKASSAR – Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Hujan lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi melanda sebagian besar Sulawesi Selatan pada 2 hingga 4 Desember 2025. Ada ancaman banjir bandang dan tanah longsor.
Peringatan ini menyasar warga di 12 kabupaten rawan. Wilayah seperti Bone, Sinjai, Gowa, dan Makassar menjadi fokus utama. Daerah pegunungan dan bantaran sungai juga perlu waspada. Potensi curah hujan mencapai 50-150 mm per jam di wilayah selatan.
Puncak hujan diperkirakan terjadi pada Selasa, 2 Desember 2025. Hujan deras diprediksi mengguyur pada siang hingga sore hari, sekitar pukul 14:00 hingga 18:00 WITA. Kondisi ini dipicu oleh pengaruh monsun Asia dan fenomena La Nina yang melemah. Kedua faktor ini meningkatkan curah hujan hingga 20% di atas normal.
Dampak dan Antisipasi
Peringatan ini muncul setelah peristiwa banjir besar pada tahun 2024. Saat itu, kerugian ditaksir mencapai Rp500 miliar. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat. Mereka mengerahkan 500 personel dan 100 tim evakuator.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman, telah memerintahkan status siaga darurat. Kesiapan logistik untuk 10.000 pengungsi juga dipastikan. BPBD telah menyiarkan informasi melalui aplikasi BMKG, sirene peringatan dini, dan posko 24 jam.
Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Evakuasi dini sangat disarankan bagi yang tinggal di daerah rawan. Hindari aktivitas di dekat sungai. Pantau prakiraan cuaca terkini melalui situs resmi BMKG.
Tantangan dan Solusi Lokal
Peringatan cuaca ekstrem ini menjadi topik hangat di media sosial Sulawesi Selatan. Warga diingatkan akan pentingnya kesiapsiagaan memasuki musim hujan akhir tahun. Prediksi menunjukkan sekitar 70% wilayah Sulsel berpotensi tergenang.
Di Kabupaten Bone, warga melaporkan kondisi drainase yang mulai penuh. Namun, upaya edukasi pencegahan melalui masjid mendapat apresiasi. Hal ini dinilai efektif mengurangi risiko bencana di tingkat komunitas.
Urbanisasi yang cepat menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan banjir. Pemerintah merencanakan normalisasi sungai dengan anggaran Rp200 miliar pada tahun 2026. Upaya ini diharapkan dapat mengatasi masalah genangan di perkotaan.
Meski begitu, akurasi prakiraan cuaca terbukti memberikan dampak positif. Sejak tahun 2023, jumlah korban jiwa akibat bencana alam dilaporkan menurun hingga 40%. Peringatan ini menjadi pelajaran berharga. Sulawesi Selatan terus berupaya membangun resiliensi bencana melalui teknologi dan kerja sama masyarakat. Tujuannya adalah memastikan akhir tahun yang aman bagi seluruh warganya.























