Kamis, 15 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Alam dan Lingkungan Hidup

Banjir dan Longsor: Alam Tak Peduli, Ini Akar Masalahnya

Sehebat apa pun kalkulasi ROI manusia dalam 'merusak' alam, hukum alam tetap memandang manusia dan makhluk hidup lain adalah materi dan energi yang pada titik ketidakimbangan tertentu akan diseimbangkan paksa.

by Warteknet
07/12/2025
in Alam dan Lingkungan Hidup
Reading Time: 7 mins read
A A
img 1765089702 d88e018a4e77c79e

Gelombang bencana banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Sumatera di akhir 2025 lalu telah menyisakan luka mendalam. Ribuan rumah rata dengan tanah, lahan pertanian hancur, dan lebih dari 800 nyawa melayang. Namun, di tengah kepiluan dan kepanikan, ada satu kerusakan dahsyat yang kerap luput dari perhatian utama: hutan di bagian hulu sungai yang merupakan ‘produsen’ utama dari risiko bencana ini.

Mengapa Hujan Selalu Disalahkan, Hutan Tidak?

Setiap kali bencana datang, narasi klasik yang paling sering kita dengar adalah tentang ‘hujan ekstrem’ atau ‘curah hujan yang tinggi’. Memang benar, hujan adalah pemicunya. Namun, patut kita renungkan, apakah hujan benar-benar ‘bersalah’? Peluru bencana ini sudah lama kita siapkan sendiri ketika Sumatera kehilangan lebih dari 3,6 juta hektare hutan dalam 15 tahun terakhir. Di daerah-daerah yang kini paling parah terdampak seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tutupan hutan menurun drastis hingga 16-28 persen dalam satu dekade terakhir.

Hutan memiliki fungsi vital sebagai penyangga hidrologis. Akar-akar pohon yang kuat menahan tanah, menyerap air hujan, mengendalikan erosi, dan memperlambat aliran permukaan. Ketika vegetasi ini hilang, tak ada lagi yang bisa menahan air. Akibatnya, air hujan tidak terserap oleh tanah, melainkan mengalir deras ke hilir, mempercepat datangnya banjir besar dan meningkatkan risiko longsor.

  • Hilangnya Penyangga Hidrologis: Hutan berperan penting dalam menyerap air hujan. Tanpa hutan, tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air.
  • Peningkatan Erosi dan Sedimentasi: Hilangnya akar dan kanopi hutan mempercepat erosi tanah dari lereng-lereng bukit. Lumpur ini kemudian mengalir ke sungai, mendangkalkannya, dan mengurangi kapasitas tampungnya.
  • Aliran Permukaan yang Deras: Tanpa vegetasi, air hujan tidak meresap ke dalam tanah melainkan langsung mengalir di permukaan, memperparah banjir di daerah hilir.

Jadi, bukan hujan yang bersalah. Kita sendirilah yang telah menyiapkan panggung agar bencana datang menimpa. Alam memiliki hukumnya sendiri; ia tidak peduli siapa yang kita jadikan kambing hitam.

Bencana yang Diproduksi Kebijakan: Ketidakadilan Ekologis

Kerusakan hutan di hulu sungai Sumatera bukan terjadi begitu saja. Ribuan hektare hutan telah beralih fungsi menjadi perkebunan skala besar, area pertambangan, dan jalan logistik industri. Data menunjukkan adanya ribuan izin usaha ekstraktif yang aktif di wilayah Sumatera, banyak di antaranya berada di kawasan penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS).

Pemberian izin ini bukan hanya merusak ekologi, tetapi juga memindahkan risiko bencana dari pegunungan ke permukiman warga di hilir. Kajian internasional mengkonfirmasi bahwa tingkat fatalitas bencana meningkat ketika penggunaan lahan dikuasai oleh aktor ekonomi semata, sementara masyarakat lokal yang paling rentan justru tidak memiliki akses terhadap keputusan tata ruang.

Di Sumatera, kawasan hulu yang mengalami deforestasi mayoritas dikuasai oleh konsesi perusahaan yang meraih keuntungan. Sementara itu, masyarakat di hilir—petani kecil, penduduk desa, buruh perkotaan—tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan tata ruang, namun merekalah yang paling merasakan dampak kehancuran saat bencana datang.

Mengapa Ini Disebut Ketidakadilan Ekologis?

Bencana Sumatera harus dibaca sebagai cerminan ketidakadilan ekologis. Ini adalah kondisi di mana kelompok masyarakat yang paling rentan harus menanggung beban risiko akibat keputusan ekonomi-politik yang dibuat oleh pihak lain. Keuntungan dinikmati segelintir pihak, sementara kerugian dan penderitaan ditanggung oleh mayoritas. Korban bencana tidak pernah ikut menandatangani izin tambang atau perkebunan yang merusak hutan, tetapi justru merekalah yang harus kehilangan keluarga, harta benda, dan terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat.

Manajemen Bencana: Kita Terlambat, Selalu Terlambat

Setiap kali banjir besar melanda, kita melihat petugas dikerahkan, bantuan disalurkan, dan media memberitakan aksi heroik kemanusiaan. Namun, ada satu pertanyaan krusial yang seringkali terlupakan: mengapa kita begitu sibuk *setelah* bencana terjadi, sementara begitu minim tindakan pencegahan *sebelum* bencana?

Indonesia masih mengalokasikan sebagian besar anggaran penanggulangan bencana untuk respons darurat, bukan untuk pencegahan. Dari data yang ada, hanya sebagian kecil anggaran yang dialokasikan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan. Padahal, mencegah jauh lebih murah dan efektif daripada memperbaiki kerusakan pasca bencana.

Secara konseptual, Total Disaster Management (TDM) seharusnya menempatkan pencegahan sebagai fokus utama. Namun, di lapangan, kita lebih sering disibukkan dengan penyelamatan dan pembagian bantuan setelah kerusakan terjadi. Kita sibuk membagikan sembako, sementara hutan terus menipis.

Euforia Sesaat: Janji Manis yang Hilang

Ketika bencana terjadi, kesadaran akan kerusakan hutan di hulu memang seringkali meningkat. Organisasi lingkungan dan anggota dewan akan bersuara lantang, pemerintah mungkin akan mencabut izin pengusaha ‘nakal’ dan memberikan sanksi. Namun, euforia ini seringkali hanya bersifat sementara.

Seiring berjalannya waktu, perhatian publik akan beralih, bisnis akan berjalan seperti biasa, dan izin-izin baru mungkin akan kembali dikeluarkan. Perusakan hutan terus berulang. Selama sistem politik kita masih sangat bergantung pada kekuatan modal, akan sulit bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan yang benar-benar tegas dan berkelanjutan.

Saatnya Beralih dari ‘Build Back Better’ ke ‘Build Back Better & Greener’

Jika pembangunan pasca bencana hanya berfokus pada memperbaiki infrastruktur fisik—jalan, jembatan, rumah—tanpa menyentuh akar masalah, yaitu kerusakan hutan, maka kita hanya mengobati gejala, bukan penyebabnya. Kita memang memperbaiki korban, tetapi lupa menutup ‘pabrik’ pembuat bencana.

Konsep ‘Build Back Better’ itu baik, namun belum cukup jika belum memberikan perhatian serius pada kualitas lingkungan hidup. Sudah saatnya kita mengadopsi pendekatan ‘Build Back Better & Greener’. Ini membutuhkan keberanian dari para pengambil kebijakan untuk mengintegrasikan pemeliharaan ekosistem lingkungan hidup dalam setiap langkah pembangunan.

Langkah Nyata Menuju Pembangunan yang Lebih Hijau:

  • Moratorium Izin di Hulu DAS: Kawasan hutan penyangga DAS tidak boleh lagi menjadi lahan bisnis yang eksploitatif tanpa kendali. Menjaga hutan sama dengan menjaga nyawa.
  • Reforestasi DAS yang Terukur: Penanaman kembali pohon tidak boleh hanya untuk pencitraan. Reforestasi harus terencana, berbasis DAS, melibatkan partisipasi masyarakat lokal, dan memastikan keberlanjutannya.
  • Literasi Ekologis Sebagai Vaksin Bencana: Sekolah, media, dan pemerintah harus berhenti menyederhanakan bencana sebagai ‘musibah alam’. Ini adalah persoalan tata ruang, kebijakan, dan pilihan kita.

Jika Tidak Berubah, Bencana Akan Jadi Kalender Tahunan

Sumatera telah memberikan pelajaran berharga: bencana tidak datang tiba-tiba; ia datang setelah lama kita undang. Jika kita terus menyalahkan langit dan membiarkan hutan merana, maka setiap musim hujan, terutama dengan curah hujan ekstrem, akan menjadi pertaruhan nyawa.

Hujan akan selalu turun. Yang perlu kita jaga adalah hutan yang menyerapnya, tanah yang menahannya, dan sungai yang mengarahkannya. Ketika alam sehat, hujan tidak pernah menjadi ancaman, melainkan berkah. Sudah waktunya kita berhenti menyalahkan langit dan mulai menata ulang bumi kita. Sebab, pada akhirnya, bencana bukanlah sekadar fenomena meteorologi; bencana adalah cerminan nyata dari cara kita memperlakukan alam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa penyebab utama banjir dan longsor di Sumatera baru-baru ini?

Penyebab utama bukan hanya hujan ekstrem, melainkan kerusakan parah pada hutan di daerah hulu sungai akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur industri. Hilangnya vegetasi hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air, meningkatkan erosi, dan mempercepat aliran permukaan.

BACA JUGA:

Kolonel Anggit Pimpin Peninjauan Porprov Dirgantara Sumbar 2026: Fokus Pembinaan Atlet dan Keselamatan

Gempa M4,6 Guncang Laut Selatan Malang, Getaran Meluas hingga Lumajang dan Jember

Gempa Magnitudo di Atas 3,0 di Indonesia: Laporan 24 Jam Terakhir (Hingga 19 September 2026)

Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter, Warga Jawa Timur Diimbau Waspada

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke Barat Daya: Dampak Udara dan Penerbangan di Banten

2. Mengapa hutan begitu penting dalam mencegah bencana banjir dan longsor?

Hutan berfungsi sebagai ‘spons’ alami yang menyerap air hujan, menahan tanah dengan akarnya, dan mengendalikan erosi. Tanpa hutan, air hujan tidak terserap dan mengalir deras ke hilir, menyebabkan banjir dan meningkatkan risiko longsor.

3. Apa yang dimaksud dengan ‘ketidakadilan ekologis’ terkait bencana alam?

Ketidakadilan ekologis terjadi ketika kelompok masyarakat yang paling rentan dan tidak bersalah harus menanggung dampak bencana yang disebabkan oleh keputusan ekonomi-politik pihak lain. Dalam kasus ini, masyarakat hilir yang menderita akibat kerusakan hutan yang disebabkan oleh izin konsesi perusahaan di hulu.

4. Mengapa Indonesia lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk penanganan bencana daripada pencegahan?

Sistem penanggulangan bencana di Indonesia cenderung reaktif, fokus pada respons darurat setelah bencana terjadi daripada proaktif melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan. Padahal, investasi dalam pencegahan jauh lebih hemat biaya dan efektif dalam jangka panjang.

5. Apa solusi konkret untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan?

Solusi konkret meliputi moratorium izin di hulu DAS, reboisasi DAS yang terencana dan melibatkan masyarakat, serta peningkatan literasi ekologis agar masyarakat memahami bahwa bencana bukan sekadar musibah alam tetapi akibat dari pilihan tata ruang dan kebijakan.

6. Bagaimana peran masyarakat dalam mencegah bencana?

Masyarakat memiliki peran penting melalui partisipasi aktif dalam program reboisasi, menjaga kelestarian hutan di lingkungan mereka, meningkatkan kesadaran ekologis, dan menuntut akuntabilitas dari pemerintah dan pelaku usaha terkait pengelolaan lingkungan hidup.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: AcehBanjirbencana alamkerusakan hutanketidakadilan ekologislongsorMitigasi BencanaPembangunan BerkelanjutanSumatera BaratSumatera Utara
Share12Tweet8Send

ARTIKEL TERKAIT

Sebuah hutan yang padat dengan asap bercampur dari beberapa area, menunjukkan adanya kebakaran hutan yang terus berlangsung. Di latar belakang, sebuah tim pekerja hutan berpakaian perlindungan yang me

Menhut: Modifikasi Cuaca Terus Dilakukan untuk Tangani Karhutla di Kalteng

14/10/2026
RR. Nur duduk di sebuah meja park di taman kota, wajahnya tampak tegang dan tangannya menekan dahinya. Latar belakang menunjukkan langit cerah dengan sedikit awan, tetapi udara panas membuat suasana t

Gelombang Panas: Dampak Stres dan Kesehatan Mental yang Menakutkan

13/10/2026
RR. Nur, standing in a hot, sunny environment with a frown and sweat on her forehead, in a tropical setting with palm trees and a sandy beach in the background, illustrating the discomfort and irritab

Mengapa Cuaca Panas Membuat Kita Mudah Marah? Penjelasan Ilmiah dari Wartakita.id

12/10/2026
Seorang wanita muda duduk di depan komputer, tampak berpikir. Layar komputer menampilkan percakapan dengan ChatGPT tentang masalah kesehatan mental. Latar belakang menampilkan pemandangan kota modern

Curhat Kesehatan Mental Melalui ChatGPT: Aman atau Berbahaya?

11/10/2026
Seorang meteorologis berdiri di depan layar besar yang menampilkan peringatan cuaca berat untuk wilayah tertentu pada 11-12 Oktober 2026. Di latar belakang, peta menunjukkan area yang berpotensi terke

BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

10/10/2026
Banjir dan Longsor: Alam Tak Peduli, Ini Akar Masalahnya - Featured

Status Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla di Sidrap Diperpanjang Hingga 2026: Ancaman Berkelanjutan dan Langkah Penanganan

09/10/2026
Pemandangan jurnalistik profesional di Cirebon, dengan langit biru cerah berawan putih sedikit, matahari bersinar terang, dan indikator suhu di dashboard mobil menunjukkan 32°C. Gambar menangkap jalan

Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini: Suhu Mencapai 32°C, Perhatikan Antisipasi Panas

09/10/2026
A professional foto jurnalistik menunjukkan langit dramatis dengan awan cumulonimbus yang membentuk, asap tebal di udara, dan awan tinggi atau gelombang udara yang terlihat. Pemandangan ini disetel pa

Waspadai Awan Cumulonimbus, Asap, dan Gelombang Tinggi di Cuaca Besok, 9 Oktober 2026

09/10/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Banjir dan Longsor: Alam Tak Peduli, Ini Akar Masalahnya - Featured

    Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    110 shares
    Share 44 Tweet 28
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    501 shares
    Share 200 Tweet 125
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Punya Gadget Nganggur? Bisa Tukar Tambah dengan Galaxy Z Fold8 Serie

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    841 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Perampokan Sadis di Bekasi: Bos Rongsok Dianiaya, Uang Rp100 Juta Raib

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kualitas Udara Sulsel Masih Tidak Sehat, BMKG Prediksi Perbaikan 15 Oktober

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Siswi SMP di Sidrap Sulsel Korban Perundungan 10 Temannya, Ortu Laporkan Polisi

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • 90 Persen Orang dengan Depresi di Indonesia Belum Terjangkau Pengobatan

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Letkol Arman Ditahan Mabes TNI, Rumah Dinasnya Diduga Jadi Markas Judi Online

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.