Ternate, Wartakita.id – Banjir bandang disertai longsor menerjang Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, pada Rabu (7/1/2026). Bencana alam ini dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa (6/1/2026) sore hingga dini hari. Akibatnya, dua warga meninggal dunia, puluhan rumah rusak berat, dan ribuan penduduk terdampak.
Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara, banjir merendam beberapa kecamatan utama, termasuk Kecamatan Ibu, Ibu Selatan, Ibu Utara, Sahu, dan Sahu Timur. Kondisi terparah terjadi di Kecamatan Ibu, di mana tiga desa—Desa Kampung Cina, Tabaru, dan Tongute Ternate—tergenang air hingga ketinggian tiga meter. Sekitar 80 persen rumah warga di desa-desa tersebut terendam, menyebabkan pemadaman listrik, gangguan sinyal internet, dan lumpuhnya aktivitas sehari-hari.
Dampak Banjir dan Longsor di Halmahera Barat
Bencana ini tidak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga longsor di beberapa titik, seperti di Desa Kedi, Kecamatan Loloda. Dua korban jiwa dilaporkan akibat longsor yang menimpa sebuah rumah, di mana seorang cucu dan kakek tewas tertimbun. Selain itu, puluhan rumah rusak parah, jembatan ambruk, dan lahan pertanian hancur. Tim SAR Ternate telah dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak, termasuk lansia dan anak-anak, menggunakan perahu karet di tengah arus deras.
Data sementara dari BPBD menyebutkan:
- Korban jiwa: 2 orang (akibat longsor).
- Rumah rusak: Lebih dari 50 unit, sebagian besar di Kecamatan Ibu.
- Warga terdampak: Ribuan jiwa, dengan evakuasi ke posko darurat di sekolah dan masjid terdekat.
- Infrastruktur: Pemadaman listrik dan internet di wilayah terdampak, serta akses jalan terputus akibat genangan air dan material longsor.
Pemkab Halmahera Barat telah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempercepat penanganan. Bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan mulai didistribusikan oleh relawan dan aparat setempat. Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Maluku Utara juga turut serta dalam operasi SAR, membersihkan lumpur dari rumah warga, dan memantau situasi melalui patroli.
Lihat postingan ini di Instagram
Penyebab dan Peringatan Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa hujan lebat dipicu oleh fenomena La Nina yang masih berlangsung di awal 2026, ditambah dengan faktor lokal seperti deforestasi di hulu sungai. Wilayah Maluku Utara termasuk dalam zona rawan bencana hidrometeorologi, dengan riwayat banjir bandang serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan deras hingga akhir pekan ini. “Hindari aktivitas di sekitar sungai dan lereng bukit, serta ikuti arahan evakuasi dari petugas,” ujar Kepala BMKG Stasiun Ternate.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Gubernur Maluku Utara telah menginstruksikan koordinasi lintas sektor untuk penanganan darurat. Bantuan dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diharapkan segera tiba, termasuk alat berat untuk pembersihan dan tenda pengungsian. Komunitas lokal dan organisasi seperti Rumah Zakat juga mulai menggalang donasi untuk korban banjir Halmahera Barat.
Warga setempat, seperti yang diungkapkan dalam video yang beredar di media sosial, menyatakan kepanikan saat air naik secara tiba-tiba. “Kami butuh bantuan segera, banyak anak-anak yang sakit karena kedinginan,” kata salah seorang warga di Desa Tongute Ternate.
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di wilayah timur Indonesia. Pemerintah diharapkan memperkuat infrastruktur pencegahan, seperti normalisasi sungai dan reboisasi, untuk mengurangi risiko di masa depan.
Pantau terus Wartakita.id untuk update terkini mengenai banjir bandang Halmahera Barat dan bencana alam lainnya di Indonesia.























