Di tengah riuh rendah politik nasional yang kian bising namun terasa hampa, satu kegelisahan tumbuh dan mengendap dalam benak Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM). Baginya, seluruh prasyarat lahirnya sebuah perubahan besar yang pernah disebut reformasi kini telah terpenuhi secara simultan.
Kegelisahan itu tidak sekadar lewat. Ia berkelindan dalam pikiran, berkecamuk, lalu menjelma imajinasi tentang Reformasi Jilid II. Sebuah fase sejarah yang, menurut Tiyo, bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman yang nyata bila negara terus berjalan tanpa koreksi radikal.
Tiga Syarat Mutlak: Demokrasi, Politik, dan Ekonomi
Dalam diskusi mendalam di Omah Dongeng Marwah, Kamis (26/2/2026), Tiyo memetakan tiga fondasi yang ia anggap sebagai pemicu ledakan sosial: ketidakpercayaan pada pemimpin, lembaga negara yang lumpuh, dan ekonomi di ambang krisis.
“Rakyat tidak percaya dengan pemimpinnya, lembaga negara tidak berfungsi, dan ekonomi menjelang krisis,” tutur Tiyo. Kalimat ini bukan sekadar retorika aktivis, melainkan sebuah sintesis dari fenomena yang terjadi di lapangan.
1. Cermin Retak Demokrasi Indonesia
Argumen Tiyo diperkuat oleh data internasional. Laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan Indonesia dalam kategori “demokrasi cacat”. Dengan skor 6,44 dari 10, Indonesia merosot ke peringkat 59 dunia.
Penurunan dari skor sebelumnya (6,53) menandakan bahwa regresi demokrasi bukan lagi sekadar narasi oposisi, melainkan fakta empiris. Demokrasi kita tidak sedang tumbuh, melainkan berjalan mundur dalam sunyi.
2. Krisis Politik: Apatisme yang Berbahaya
Krisis politik saat ini tidak selalu bermanifestasi dalam kerusuhan massa di jalanan, melainkan dalam bentuk yang lebih mematikan: apatisme publik. Tiyo melihat masyarakat mulai lelah. Janji perubahan setiap lima tahunan terasa hambar ketika lapangan kerja kian sulit dan biaya hidup mencekik.
Ketidaksolidan internal pemerintah pun menjadi sorotan. Konflik terbuka antara Menkeu Purbaya dan Menteri Trenggono menunjukkan rapuhnya koordinasi di level eksekutif. Jika di puncak kekuasaan saja terjadi turbulensi, bagaimana rakyat bisa merasa tenang?
Bayang-bayang 1998 dan Jebakan Utang
Syarat ketiga yang paling mencekam adalah ekonomi. Tiyo menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait utang negara yang terus membengkak. Alih-alih menenangkan, pembelaan pemerintah bahwa utang diambil untuk “menghindari krisis 1998” justru dibaca Tiyo sebagai pengakuan tersirat akan bahaya yang sedang mengintai.
“Jika negara harus terus berutang hanya untuk bertahan, maka krisis sesungguhnya hanyalah masalah waktu yang sedang ditunda,” ungkapnya.
Bahaya Tersembunyi dari Rakyat yang Sabar
Tiyo memberikan peringatan keras kepada penguasa untuk tidak salah membaca “diamnya” rakyat Indonesia. Kesabaran kolektif memiliki ambang batas. Ia mencontohkan fenomena pembangkangan warga di Jawa Tengah, seperti pemboikotan pajak kendaraan dan protes di Pati, sebagai sinyal akumulasi frustrasi.
Salah satu kritik paling tajam yang ia lontarkan adalah terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan diksi yang provokatif, ia menjuluki program tersebut sebagai “Maling Berkedok Gizi”. Tiyo menilai program ini salah prioritas karena memangkas anggaran pendidikan demi kebijakan populis yang membebani pajak rakyat.
Analisis Penutup: Reformasi Sebagai Alarm, Bukan Tujuan
Bagi Tiyo Ardianto, menyuarakan kritik di tengah tekanan bukanlah pilihan yang mudah. Namun, ia memegang kredo: “Semakin ditekan semakin melawan, semakin diteror semakin gacor.”
Reformasi Jilid II dalam konteks ini harus dilihat sebagai sebuah alarm keras. Sejarah mencatat bahwa perubahan besar selalu didahului oleh peringatan-peringatan kecil yang diabaikan. Jika pemerintah terus menutup telinga terhadap penurunan kualitas demokrasi dan beban ekonomi rakyat, maka imajinasi Tiyo tentang perubahan besar bisa jadi akan segera menemukan momentumnya di dunia nyata.
Disclaimer: Artikel ini merupakan analisis mendalam terhadap pernyataan publik tokoh mahasiswa dan data indeks demokrasi internasional. Isi artikel bertujuan sebagai sarana edukasi dan informasi bagi pembaca.
Apa pendapat Anda? Apakah prasyarat reformasi memang sudah terpenuhi, atau ini hanya alarm yang terlalu dini? Sampaikan opini Anda di kolom komentar.























