Makassar, Wartakita.id – Wali Kota Makassar, Moh. Munafri Arifuddin, memimpin inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Selasa pagi, 11 November 2025. Tindakan tegas ini mengungkap permasalahan disiplin aparatur dan kualitas pelayanan publik yang mendasar, termasuk tingkat absensi rendah dan penataan ruang kerja yang tidak optimal di dinas-dinas vital seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Tata Ruang.
Sidak yang berlangsung antara pukul 08.00 hingga 10.00 WITA ini dilakukan tepat di awal minggu kerja setelah peringatan Hari Pahlawan, menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk meningkatkan efisiensi birokrasi dan akuntabilitas. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap keluhan masyarakat mengenai lambatnya administrasi dan merupakan bagian integral dari visi Wali Kota untuk mewujudkan “Makassar Kota Pintar” melalui pelayanan publik yang prima dan profesional.
Temuan Kunci dan Arahan Wali Kota untuk Perbaikan Segera
Dalam sidak yang berpusat di Kantor Balai Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani, dan meluas ke lima OPD utama di pusat kota, tim Wali Kota secara cermat memeriksa ruang pelayanan publik yang kerap dipadati pengunjung. Metode sidak meliputi pengecekan sistem absensi digital, wawancara langsung dengan sejumlah pegawai, serta observasi menyeluruh terhadap fasilitas dan lingkungan kerja. Observasi difokuskan pada area yang memiliki interaksi langsung dengan publik untuk menilai efektivitas dan kenyamanan layanan.
Hasil temuan menunjukkan adanya indikasi absensi pegawai yang tidak konsisten dan kondisi penataan ruang kerja yang kurang tertib. Masalah ini berpotensi menghambat alur kerja, menciptakan ketidaknyamanan bagi masyarakat, serta memperlambat proses pelayanan. Wali Kota Munafri Arifuddin, yang berinteraksi langsung dengan para aparatur, tidak segan memberikan teguran lisan kepada dua pegawai yang terbukti melanggar disiplin. Ia menekankan pentingnya komitmen terhadap jadwal kerja dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat dengan integritas.
Lebih lanjut, Wali Kota menginstruksikan seluruh OPD untuk segera melakukan perbaikan internal, termasuk optimalisasi pemanfaatan sistem e-government untuk monitoring disiplin dan kinerja secara berkelanjutan. “Disiplin bukan hanya soal kehadiran, tetapi juga tentang etos kerja, kecepatan respons, dan kualitas pelayanan yang kita berikan kepada warga Makassar. Program ‘Makassar Kota Pintar’ tidak akan terwujud tanpa aparatur yang profesional dan berintegritas,” tegas Munafri dalam rapat internal yang membahas hasil sidak pada siang harinya.
Dampak Langsung Sidak terhadap Pelayanan Publik di Makassar
Sangat penting dalam memahami urgensi sidak ini bagi warga Makassar. Keterlambatan dalam pengurusan berkas di Dinas Pendidikan, misalnya, dapat menghambat proses pendaftaran sekolah atau pencairan dana bantuan bagi ribuan siswa di Makassar, khususnya dari keluarga kurang mampu yang sangat bergantung pada layanan tersebut. Demikian pula di Dinas Kesehatan, absensi pegawai berpotensi memperlambat penanganan pasien di puskesmas atau rumah sakit daerah yang menjadi tumpuan warga kota dalam mendapatkan layanan kesehatan dasar yang cepat dan akurat.
Masalah penataan ruang kerja yang buruk juga bukan sekadar estetika; ini berdampak pada efisiensi layanan dan kenyamanan masyarakat. Ruangan yang tidak tertata rapi dapat memperlambat pencarian dokumen, mengganggu konsentrasi pegawai, dan menciptakan kesan ketidakprofesionalan di mata publik, yang pada gilirannya menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.
Respons Terhadap Keluhan Warga dan Dorongan Efisiensi Birokrasi
Sidak ini bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan Pemkot Makassar untuk menjawab keluhan warga mengenai lambatnya birokrasi dan proses administrasi yang berbelit. Data dari laporan pengaduan masyarakat menunjukkan tren peningkatan keluhan terkait responsivitas layanan pemerintah kota dalam beberapa waktu terakhir. Oleh karena itu, sidak disiplin ini sejalan dengan program efisiensi birokrasi yang lebih luas, bertujuan untuk mencegah potensi praktik korupsi, dan secara signifikan meningkatkan indeks pelayanan dasar kota.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah yang menjadi tantangan bagi banyak pemerintah daerah, optimalisasi kinerja aparatur sipil negara (ASN) menjadi krusial. Setiap pegawai diharapkan mampu memberikan kontribusi maksimal, sehingga anggaran yang terbatas dapat menghasilkan dampak pelayanan yang optimal bagi masyarakat. Rencana pelatihan disiplin yang dijadwalkan bulan depan menjadi indikasi serius Pemkot Makassar untuk memperbaiki budaya kerja secara sistematis dan berkelanjutan.
Reaksi Publik dan Tantangan Implementasi Kebijakan
Inisiatif Wali Kota Munafri Arifuddin mendapat sambutan positif dari sebagian warga Makassar, terutama yang aktif di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), yang memuji ketegasan Pemkot dalam menindaklanjuti masalah disiplin. Namun, sebagian pengamat kebijakan publik dan akademisi menyoroti bahwa sidak semacam ini, meskipun penting sebagai langkah awal, perlu ditindaklanjuti dengan serangkaian kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk benar-benar mengubah budaya kerja di lingkungan birokrasi. Mereka menyarankan perlunya evaluasi kinerja yang transparan, sistem penghargaan dan hukuman yang jelas, serta pengembangan kapasitas pegawai secara terus-menerus.
Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa teguran dan rencana pelatihan tidak hanya bersifat insidental, melainkan menjadi bagian dari sistem pengawasan dan evaluasi kinerja yang transparan, adil, dan berkesinambungan. Hanya dengan demikian, tujuan peningkatan disiplin dan kualitas pelayanan publik di Kota Makassar dapat tercapai secara efektif dan jangka panjang, mewujudkan harapan masyarakat akan birokrasi yang responsif, akuntabel, dan berintegritas.
Langkah Proaktif
Sidak yang dilakukan Wali Kota Makassar, Moh. Munafri Arifuddin, adalah langkah proaktif dan mendesak untuk mengatasi masalah disiplin dan efisiensi di tubuh Organisasi Perangkat Daerah. Dengan temuan yang konkret dan instruksi perbaikan yang jelas, Pemkot Makassar menunjukkan keseriusan dalam menanggapi keluhan publik dan mengimplementasikan visi “Makassar Kota Pintar.” Keberhasilan jangka panjang inisiatif ini akan sangat bergantung pada komitmen berkelanjutan, tidak hanya dari pimpinan daerah, tetapi juga dari seluruh jajaran aparatur untuk beradaptasi dan menerapkan standar pelayanan publik yang lebih tinggi, demi kemajuan Kota Makassar dan kesejahteraan warganya.























