Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) menargetkan UIN Alauddin Makassar untuk menjadi motor penggerak pengembangan ilmu pengetahuan di kawasan Indonesia Timur. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Kemenag dalam membangun pusat keunggulan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) nasional.
Poin Penting
- UIN Alauddin Makassar didorong menjadi pusat keunggulan ilmu pengetahuan di Indonesia Timur oleh Diktis Kemenag.
- Rencana ini sejalan dengan strategi Kemenag untuk membangun minimal satu center of excellence di setiap wilayah Indonesia.
- Potensi UIN Alauddin dinilai kuat berkat keberagaman fakultas, termasuk kedokteran dan rumah sakit pendidikan.
- Fokus utama meliputi peningkatan kualitas SDM, inovasi keilmuan, dan internasionalisasi kampus.
- Integrasi keilmuan, khususnya di Fakultas Kedokteran, diharapkan memadukan nilai Islam dengan keunggulan profesional.
Dorongan Strategis Menuju Pusat Keunggulan
Direktur Diktis Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, MA, menegaskan komitmen Kemenag untuk mengembangkan PTKIN menjadi pusat-pusat keunggulan. Dalam Rapat Kerja UIN Alauddin Makassar, ia mengapresiasi capaian dan inovasi kampus tersebut di tahun 2025, menyebutnya sebagai indikator potensi besar untuk tumbuh dan memberikan manfaat luas.
“Pengembangan ini tentu dilakukan bertahap. Tidak semua perguruan tinggi bisa dikembangkan sekaligus, sehingga harus dipilih kampus yang paling siap dan potensial,” ujar Prof. Sahiron. UIN Alauddin Makassar dinilai memiliki modal kuat untuk mengemban peran ini, utamanya karena memiliki fakultas yang beragam, mulai dari disiplin ilmu keislaman, sosial, hingga Fakultas Kedokteran yang dilengkapi rumah sakit pendidikan.
Tiga Tugas Utama Perguruan Tinggi dan Inovasi Keilmuan
Prof. Sahiron mengingatkan tiga tugas fundamental perguruan tinggi: transfer ilmu pengetahuan melalui pendidikan, pengembangan ilmu melalui penelitian, serta pembangunan karakter sivitas akademika. Ia menekankan bahwa penelitian dosen harus lebih dari sekadar pemenuhan administrasi, melainkan harus memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan solusi permasalahan masyarakat. Konsep inovasi keilmuan pun disorot, dengan contoh pendekatan Ma’na-Cum-Maghza yang mengintegrasikan studi klasik Al-Qur’an dengan hermeneutika modern sebagai bentuk pembaruan akademik.
Penguatan SDM dan Internasionalisasi
Diktis Kemenag juga berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia di PTKIN. Ini mencakup penguatan kemampuan bahasa asing, peningkatan kapasitas akademik, hingga program pertukaran dosen dan profesor ke luar negeri melalui studi lanjut dan visiting professor. Selain itu, UIN Alauddin didorong untuk memperkuat internasionalisasi melalui akreditasi internasional dan perluasan kerja sama global.
Integrasi Keilmuan sebagai Kekhasan
Untuk tahun 2026, salah satu fokus utama Diktis adalah penguatan integrasi keilmuan. Prof. Sahiron mengharapkan Fakultas Kedokteran UIN Alauddin memiliki kekhasan unik, yakni memadukan nilai-nilai Islam dan tradisi intelektual klasik dengan keunggulan medis. Integrasi serupa diharapkan diterapkan di seluruh disiplin ilmu untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara profesional tetapi juga kuat dalam karakter keislaman. Kolaborasi dan penguatan kapasitas kelembagaan menjadi kunci agar UIN Alauddin benar-benar mampu menjadi center of excellence di Indonesia bagian tengah dan timur.























