Sabtu, 3 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Alam dan Lingkungan Hidup

PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun

by Pewarta Warga
02/09/2021
in Alam dan Lingkungan Hidup, Arsip 2021, Internasional
Reading Time: 4 mins read
A A
solar energy

Organisasi Meteorologi Dunia PBB menyebut dalam laporannya, bencana iklim melanda dunia lebih sering dan menyebabkan kerugian yang lebih banyak. Namun, bencana tersebut sebabkan lebih sedikit korban jiwa.

Bencana iklim melanda dunia empat hingga lima kali lebih sering dan menyebabkan kerusakan tujuh kali lipat lebih banyak dibanding tahun 1970an, menurut Badan Meteorologi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tetapi bencana-bencana iklim ini merenggut nyawa lebih sedikit.

Pada tahun 1970an dan 1980an misalnya, rata-rata menyebabkan kematian 170 jiwa setiap harinya di seluruh dunia. Sementara pada tahun 2010an, angka tersebut turun menjadi sekitar 40 per hari, kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang meninjau lebih dari 11.000 bencana iklim dalam setengah abad terakhir.

Laporan WMO ini muncul di periode musim panas yang dipenuhi bencana secara global, termasukbanjir mematikan di Jerman , gelombang panas di Mediterania, Badai Ida, dan serangan kebakaran hutan yang diperparah oleh musim kering yang melanda Amerika Serikat (AS).

“Kabar baiknya adalah kita telah bisa meminimalkan jumlah korban di saat kita mulai mengalami kenaikan jumlah bencana: gelombang panas, banjir, musim kering, dan terutama… badai tropis ekstrem seperti Ida, yang baru-baru ini melanda Louisiana dan Mississippi di Amerika Serikat,” kata Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO, dalam sebuah konferensi pers.

“Namun, kabar buruknya adalah kerugian ekonomi telah meningkat dengan cepat dan peningkatan ini diperkirakan akan terus berlanjut,” tambahnya. “Kita akan semakin sering menyaksikan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, dan tren negatif dalam iklim ini akan berlanjut dalam beberapa dekade mendatang.”

Pada tahun 1970an, dunia rata-rata mengalami 711 bencana iklim dalam setahun. Tapi dari tahun 2000 hingga 2009 angka tersebut naik menjadi 3.536 bencana dalam setahun atau hampir 10 bencana dalam satu hari, demikian menurut laporan yang menggunakan data dari Pusat untuk Riset Epidemiologi Bencana (Centre for Research on the Epidemiology of Disasters) di Belgia itu. Laporan itu juga menyebutkan bahwa jumlah rata-rata bencana tahunan mengalami sedikit penurunan pada tahun 2010an, yakni menjadi 3.165 bencana.

Laporan itu juga mengungkap bahwa banyak dari kematian dan kerusakan selama 50 tahun bencana iklim disebabkan oleh badai, banjir, dan musim kering.

Dari lebih dari 2 juta kematian, 90% di antaranya terjadi di negara-negara yang dikategorikan PBB sebagai negara berkembang, sementara hampir 60% kerugian ekonomi terjadi di negara-negara kaya.

PBB menemukan bahwa pada tahun 1970an bencana iklim menyebabkan kerugian sekitar 175 miliar dolar AS secara global, jika disesuaikan dengan nilai dolar pada tahun 2019. Jumlah tersebut naik menjadi 1,38 triliun dolar AS untuk periode tahun 2010 hingga 2019.

Menurut WMO, hal yang mendorong kehancuran tersebut adalah karena semakin banyak orang pindah ke daerah berbahaya, dengan perubahan iklim menyebabkan bencana iklim lebih kuat dan makin sering. Meski begitu, para pakar menyebutkan bahwa peringatan cuaca yang lebih baik serta kesiapsiagaan telah berhasil mengurangi jumlah kematian.

Susan Cutter, Direktur Hazards and Vulnerability Research Institute di University of South Carolina melihat ada kemajuan dalam hal belajar hidup dengan risiko dan juga melindungi diri sendiri.

“Di sisi lain, kita masih membuat keputusan bodoh tentang peletakan infrastruktur,” kata Cutter. “Tapi tidak apa-apa. Kita tidak kehilangan nyawa, kita hanya kehilangan benda-benda.”

Angka korban jiwa akan terus menurun?

Samantha Montano, seorang profesor manajemen darurat di Akademi Maritim Massachusetts dan penulis buku “Disasterology”, mengatakan ia khawatir bahwa jumlah kematian mungkin akan berhenti menurun karena peningkatan cuaca ekstrem yang disebabkan perubahan iklim melanda terutama negara-negara miskin.

“Kesenjangan di mana negara-negara telah memiliki fasilitas atau cara yang didedikasikan untuk meminimalkan kematian akibat bencana adalah kekhawatiran besar, terutama karena perubahan iklim,” tutur Montano. “Menurunnya kematian dalam beberapa dekade terakhir tidak berarti hal itu akan berlanjut, kecuali kita terus berinvestasi dalam upaya tersebut.”

Badai Ida merupakan sebuah contoh bencana yang menyebabkan kerusakan besar dan mungkin korban jiwa yang lebih sedikit dibanding badai-badai besar sebelumnya, kata Cutter. Ia menambahkan bahwa tahun ini, bencana iklim “tampaknya melanda tiap beberapa minggu,” seperti misalnya Ida, kebakaran hutan AS dan banjir di Jerman, Cina, dan Tennessee.

Lima bencana iklim paling mahal sejak tahun 1970 merupakan badai di AS, dengan Badai Katrina pada tahun 2005 menduduki peringkat pertama. Sedangkan lima bencana iklim paling mematikan terjadi di Afrika dan Asia, di mana kekeringan dan kelaparan di Etiopia pada pertengahan 1980an dan Siklon Bhola di Bangladesh pada tahun 1970 menempati posisi teratas.

BACA JUGA:

Delegasi Indonesia Trending di X.com: Menimbang Ketegasan Politik dan Prospek Diplomasi Ekonomi di Kancah Global

Ancaman Trump ke Iran: Tekanan Paksaan atau Pemicu Perang Skala Penuh?

PBB Ungkap Pola Mengerikan: Bayi dan Anak-anak Diduga Sengaja Ditargetkan dalam Serangan Israel di Gaza

Gempa Dahsyat Venezuela Tewaskan Ribuan Jiwa: Pelajaran Kesiapsiagaan Global dan Tantangan Bantuan

Laporan PBB: Israel Diduga Sengaja Targetkan Anak-anak Gaza, Menuju Genosida

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: climate changePBBWMO
Share5Tweet3Send

ARTIKEL TERKAIT

PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Mikroplastik Ancam Perairan Sulawesi Selatan: Dampak Lingkungan dan Solusi Terpadu

02/10/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di Maros, Sulsel

02/10/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Nakhoda Budaya: Revitalisasi Maritim Bugis-Makassar di Pontianak, Menjembatani Identitas dan Peluang Ekonomi

01/10/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Sulawesi Selatan Siap Hadapi Udara Panas Ekstrem: Ini Prediksi BMKG 24-26 September 2026

26/09/2026
semangka-5

Delegasi Indonesia Trending di X.com: Menimbang Ketegasan Politik dan Prospek Diplomasi Ekonomi di Kancah Global

25/09/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

1.200 Ton Sampah Menggunung di Gowa: Krisis BBM dan Akses TPA Lumpuhkan Pengelolaan Limbah

23/09/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Warga Sangatta Diserang Buaya 4,4 Meter: Polisi Keluarkan Imbauan Keras

21/09/2026
PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

Harga Beras Premium Naik 15% Jelang Akhir Tahun 2026, Ini Penyebabnya

20/09/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • PBB: Frekuensi dan Kerugian Bencana Iklim Naik, Korban Jiwa Turun - Featured

    Asian Games 2026: Atlet Sulsel Jadi Tumpuan Indonesia, Bidik Emas di Tengah Ketatnya Persaingan Nagoya

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    373 shares
    Share 149 Tweet 93
  • Guruh Soekarnoputra Berpulang: Seniman Multitalenta Mengembuskan Napas Terakhir Setelah Perjuangan Panjang

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Hilirisasi Nikel Indonesia 2026: Target Ambisius Jadi Pusat Baterai EV Dunia, Mampukah Wujudkan Ekosistem Terintegrasi?

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Harga Kopra Sulawesi Bergerak Liar: Petani Kelapa Terjepit, Hilirisasi Jadi Harapan

    111 shares
    Share 44 Tweet 28
  • #CekFakta Rumput Paragis untuk Menyembuhkan Kanker

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Sulsel Perkuat Pendidikan Vokasi, Jawab Tantangan Industri 4.0 dan Pengangguran

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Oops! Noda Cat Rambut Nempel di Baju? Salwa Punya Jurus Anti-Gagal Nih!

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
  • DKI Jakarta Perluas Transportasi Gratis untuk 21 Golongan Mulai 2027

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.