Wartakita.id, JAKARTA — Harga batu bara global kembali tertekan, melanjutkan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut hingga menyentuh level terendah sejak 25 September 2026. Pada Rabu, 4 November 2026, harga komoditas energi ini ditutup pada angka USD145,15 per ton, merosot 1,6% dari perdagangan sebelumnya. Dalam rentang tiga hari perdagangan terakhir, akumulasi penurunan harga batu bara mencapai 4,8%, mengindikasikan sentimen pasar yang kian melemah.
Anjloknya harga batu bara ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling terkait: kejatuhan harga minyak mentah dunia dan melemahnya permintaan dari negara-negara konsumen utama seperti China dan India. Pada hari yang sama, harga minyak mentah dunia dilaporkan ambles lebih dari 8%, sebuah fenomena yang secara langsung mengurangi daya tarik batu bara sebagai komoditas energi substitusi. Ketika harga minyak turun drastis, insentif bagi industri untuk beralih atau meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi menjadi berkurang.
Intinya
- Harga batu bara global mengalami penurunan signifikan selama tiga hari berturut-turut, mencapai level terendah sejak 25 September 2026, ditutup pada USD145,15 per ton pada 4 November 2026.
- Penurunan ini dipicu oleh kejatuhan harga minyak mentah dunia lebih dari 8% dan melemahnya permintaan dari China serta India.
- Pasar batu bara kokas di China belum pulih akibat permintaan musiman yang lemah, sikap hati-hati pembeli, dan pelemahan harga lelang.
- Perlambatan industri baja di China berdampak pada penurunan produksi besi cair dan aktivitas pabrik kokas, mengurangi kebutuhan batu bara.
- Impor batu bara India menurun 7% pada Januari-Oktober 2026 akibat pelemahan nilai tukar rupee dan kenaikan harga batu bara, meskipun kebutuhan pembangkit listrik tetap tinggi.
- Di tengah pelemahan pasar global, ekspor batu bara termal Australia pada Oktober 2026 justru meningkat 17,6% dibandingkan September.
Di China, pasar batu bara kokas masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Melemahnya permintaan musiman, ditambah dengan sikap hati-hati para pembeli, serta pelemahan harga lelang batu bara kokas, semakin menekan harga. Situasi ini diperparah oleh perlambatan industri baja di negara tirai bambu tersebut. Penurunan produksi besi cair dan aktivitas pabrik kokas secara otomatis mengurangi kebutuhan bahan baku utama berupa batu bara.
Sementara itu, India, salah satu konsumen batu bara terbesar dunia, juga menunjukkan tren penurunan impor. Data menunjukkan bahwa impor batu bara India sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mengalami penurunan sebesar 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan nilai tukar mata uang rupee terhadap dolar Amerika Serikat, ditambah dengan kenaikan harga batu bara, menjadi faktor utama di balik penurunan impor ini, meskipun kebutuhan energi dari sektor pembangkit listrik di India dilaporkan masih tetap kuat.
Menariknya, di tengah tekanan pasar global, ekspor batu bara termal dari Australia pada Oktober 2026 justru menunjukkan tren positif. Negara benua ini berhasil mengekspor sebanyak 19,20 juta ton batu bara termal, sebuah peningkatan sebesar 17,6% dibandingkan dengan volume ekspor pada bulan September. Fenomena ini mengindikasikan bahwa meskipun pasar global sedang lesu, beberapa produsen masih mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan volume penjualannya, kemungkinan karena kontrak jangka panjang atau permintaan spesifik dari pasar lain.
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa harga batu bara global sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah?
J: Batu bara dan minyak mentah adalah komoditas energi substitusi. Ketika harga minyak turun drastis, batu bara menjadi kurang kompetitif sebagai alternatif energi, sehingga permintaan dan harganya cenderung ikut melemah.
T: Apa dampak perlambatan industri baja China terhadap pasar batu bara?
J: Industri baja menggunakan batu bara sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya, terutama untuk pembuatan kokas. Perlambatan industri baja berarti penurunan produksi besi cair dan aktivitas pabrik kokas, yang secara langsung mengurangi permintaan batu bara.
T: Mengapa India mengurangi impor batu bara meskipun kebutuhan pembangkit listriknya tinggi?
J: Pelemahan nilai tukar rupee membuat impor menjadi lebih mahal bagi India. Ditambah dengan kenaikan harga batu bara itu sendiri, hal ini mendorong India untuk mengurangi volume impornya, meskipun kebutuhan energi untuk pembangkit listrik tetap ada.
Kontributor: H. Gunadi
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























