Wartakita.id, Vanuatu — Dalam 24 jam terakhir hingga Sabtu malam, 24 Oktober 2026, aktivitas seismik global didominasi oleh gempa bermagnitudo 6,9 yang mengguncang kawasan Vanuatu di Pasifik Selatan. Sementara itu, Indonesia relatif tenang dari gempa besar, meskipun berbagai peristiwa alam lain seperti badai tropis dan kebakaran hutan mewarnai kondisi global.
Gempa utama terjadi pada 24 Oktober 2026 sekitar pukul 02:31 UTC atau 11:31 WIB, berpusat sekitar 197 km barat laut Port-Olry, Vanuatu, dengan kedalaman dangkal 10 km. Beberapa lembaga seismik internasional mencatat magnitudo mendekati 7,0. Gempa ini memicu evaluasi tsunami otomatis, namun hingga kini belum dilaporkan dampak tsunami besar di kawasan tersebut. Gempa susulan bermagnitudo 6,3 tercatat di lokasi berdekatan beberapa menit kemudian, diikuti rangkaian gempa dengan magnitudo 5,0 hingga 5,9. Wilayah Vanuatu aktif secara seismik karena berada di zona subduksi Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik.
Intinya
- Gempa bermagnitudo 6,9 mengguncang Vanuatu pada 24 Oktober 2026, pukul 11:31 WIB.
- Gempa susulan bermagnitudo 6,3 dan rangkaian gempa M5,0-5,9 terjadi di area yang sama.
- Indonesia tidak mencatat gempa bermagnitudo 6 atau lebih besar dalam 24 jam terakhir.
- Badai tropis Vance aktif di Samudra Pasifik Timur, sementara kebakaran hutan mendominasi bencana di Indonesia.
Di luar Vanuatu, tidak ada gempa signifikan bermagnitudo 6 atau lebih besar yang dilaporkan dalam rentang waktu 24 jam terakhir. Gempa M7,0 di perbatasan China (Xizang-Qinghai) pada 22 Oktober 2026, yang menyebabkan korban jiwa, dipastikan tidak berdampak ke Indonesia dan tidak berpotensi tsunami oleh BMKG. Secara global, USGS mencatat puluhan hingga ratusan gempa M2,5 ke atas setiap hari, dengan Vanuatu menjadi titik paling aktif dalam periode ini.
Di Indonesia, BMKG dan InaTEWS mencatat beberapa gempa kecil hingga sedang di Flores, Sumatera, Sulawesi, dan Laut Banda, dengan magnitudo berkisar 2,6–4,1. Gempa yang dirasakan menonjol adalah magnitudo 5,2 di Lebong, Bengkulu, pada 22 Oktober 2026, namun dengan kedalaman 120 km sehingga dampaknya terbatas. Meskipun Indonesia rawan gempa karena berada di Cincin Api Pasifik, ketiadaan gempa besar dalam sehari terakhir memberikan sedikit jeda. Masyarakat diimbau tetap waspada dan memantau informasi resmi BMKG.
Selain aktivitas seismik, dunia juga menghadapi peristiwa hidrometeorologi. Hurricane Vance masih aktif sebagai badai kategori 2 di Samudra Pasifik Timur, mendekati Meksiko. Peringatan badai ekstrem dikeluarkan di Irlandia, dan Thailand menghadapi risiko hujan ekstrem. Deteksi satelit menunjukkan aktivitas kebakaran di beberapa wilayah, termasuk sekitar Singapura, serta peringatan banjir dan cuaca dingin di Amerika Serikat dan Eropa Utara.
Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi isu utama, dengan ribuan hektare terdampak, terutama di Kalimantan. Kebakaran di Gunung Sumbing, Wonosobo, juga masih dalam penanganan. BNPB melaporkan penambahan titik kebakaran di Jawa, Sulawesi, dan Sumatera. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan sembarangan. Potensi hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa perairan Indonesia juga terus dipantau BMKG.
Rangkaian kejadian ini mengingatkan akan dinamika bumi. Pemerintah melalui BMKG dan BNPB terus melakukan pemantauan. Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi tidak terverifikasi dan selalu mengandalkan saluran resmi untuk kesiapsiagaan menghadapi ketidakpastian alam.
Kerap Ditanyakan
T: Apakah ada gempa besar yang terjadi di Indonesia dalam 24 jam terakhir?
J: Tidak, dalam 24 jam terakhir hingga Sabtu malam, 24 Oktober 2026, tidak tercatat gempa bermagnitudo 6 atau lebih besar di wilayah Indonesia.
T: Apa saja kejadian alam lain yang dilaporkan di dunia selain gempa di Vanuatu?
J: Kejadian alam lain meliputi Hurricane Vance di Samudra Pasifik Timur, peringatan badai ekstrem di Irlandia, risiko hujan ekstrem di Thailand, aktivitas kebakaran di beberapa wilayah, serta peringatan banjir dan cuaca dingin di Amerika Serikat dan Eropa Utara.
Kontributor: Redaksi Wartakita
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























