Wartakita.id, Banyuwangi — Potensi kolaborasi di sektor pertanian semakin terbuka lebar antara Indonesia dan Malaysia. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjadi tuan rumah kunjungan delegasi Pemerintah Selangor, Malaysia, yang dipimpin langsung oleh Exco Pertanian Negeri Selangor, Datuk Izham bin Hashim, pada Sabtu, 7 November 2026. Pertemuan yang digelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan ini bertujuan untuk menjajaki kerja sama teknologi pertanian, khususnya dalam pengelolaan sawah dan budidaya padi rendah emisi.
Delegasi Selangor disambut hangat oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari ketertarikan Pemerintah Selangor untuk mempelajari langsung berbagai inovasi pertanian yang telah diterapkan di Banyuwangi. Sektor pertanian di Banyuwangi memang dikenal memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam hal efisiensi dan produktivitas. Kemampuan petani setempat untuk menanam padi hingga tiga hingga empat kali dalam setahun menjadi salah satu daya tarik utama.
Intinya
- Pemerintah Selangor, Malaysia, menjajaki kerja sama teknologi pertanian dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Banyuwangi, pada Sabtu, 7 November 2026.
- Delegasi Selangor, yang dipimpin Exco Pertanian Negeri Selangor, Datuk Izham bin Hashim, tertarik mempelajari sistem pengelolaan sawah, penggunaan pupuk, pemilihan benih, manajemen budidaya, serta inovasi beras biofortifikasi di Banyuwangi.
- Ketertarikan ini didasari oleh potensi penerapan teknologi pertanian Banyuwangi di wilayah Selangor yang memiliki sekitar 18.000 hektare lahan persawahan, terutama terkait praktik pertanian rendah emisi dan kemampuan tanam padi berkali-kali dalam setahun.
- Selain pertanian, penjajakan kerja sama juga meluas ke sektor pariwisata, ekowisata, peternakan, dan perdagangan.
- Inovasi beras biofortifikasi dengan prinsip Low Carbon Agriculture yang dikembangkan Pandawa Agri Indonesia (PAI) melalui Teknologi Pendampingan PAI (PPAI) menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut.
- Acara ini turut dihadiri perwakilan organisasi petani nasional Malaysia (NAFAS) dan CEO Pandawa Agri Indonesia (PAI) Kukuh Roxa Putra.
Datuk Izham bin Hashim mengungkapkan bahwa Selangor memiliki lahan persawahan seluas kurang lebih 18.000 hektare. Ia melihat Banyuwangi sebagai contoh yang sangat baik dalam mengelola lahan tersebut secara efektif, termasuk dalam hal praktik pertanian rendah emisi. “Kami sangat tertarik dengan bagaimana Banyuwangi bisa menanam padi berkali-kali dalam setahun, serta bagaimana mereka mengelola pupuk dan benih. Ini adalah ilmu yang sangat berharga untuk kami bawa pulang,” ujar Datuk Izham bin Hashim melalui penerjemah.
Lebih lanjut, fokus utama kunjungan ini adalah pada inovasi beras biofortifikasi yang dikembangkan oleh Pandawa Agri Indonesia (PAI) di Banyuwangi. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi beras untuk pencegahan stunting, tetapi juga mengedepankan prinsip pertanian rendah emisi atau Low Carbon Agriculture. Melalui Teknologi Pendampingan PAI (PPAI), petani dibimbing dalam 10 tahapan budidaya padi yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus ketahanan terhadap perubahan iklim. Pendampingan ini mencakup penggunaan pupuk yang tepat, pemilihan benih unggul, hingga manajemen budidaya yang efisien.
Selain sektor pertanian, pertemuan bilateral ini juga membuka pintu untuk kolaborasi di bidang lain. Potensi kerja sama di sektor pariwisata, ekowisata, peternakan, dan perdagangan turut menjadi agenda diskusi. Hal ini menunjukkan komitmen kedua belah pihak untuk mempererat hubungan dan saling memanfaatkan keunggulan masing-masing.
CEO Pandawa Agri Indonesia (PAI), Kukuh Roxa Putra, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menyatakan kesiapannya untuk berbagi pengalaman dan teknologi. “Kami bangga bisa menjadi bagian dari upaya Banyuwangi dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan. Kami siap mendukung Pemerintah Selangor dalam mengadopsi praktik-praktik terbaik yang telah terbukti berhasil di sini,” kata Kukuh Roxa Putra.
Kerap Ditanyakan
T: Apa yang menjadi fokus utama penjajakan kerja sama antara Pemerintah Selangor dan Banyuwangi?
J: Fokus utama adalah pada teknologi pertanian, khususnya sistem pengelolaan sawah, penggunaan pupuk, pemilihan benih, manajemen budidaya, serta inovasi beras biofortifikasi dan praktik pertanian rendah emisi.
T: Mengapa Pemerintah Selangor tertarik dengan teknologi pertanian Banyuwangi?
J: Pemerintah Selangor tertarik karena Banyuwangi memiliki kemampuan menanam padi hingga tiga sampai empat kali dalam setahun dan praktik pertanian rendah emisi, yang ingin mereka terapkan di lahan persawahan Selangor yang luas.
T: Bidang kerja sama apa saja selain pertanian yang dibahas?
J: Selain pertanian, kedua belah pihak juga menjajaki peluang kolaborasi di bidang pariwisata, ekowisata, peternakan, dan perdagangan.
Kontributor: Budi S.
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























