Pemerintah Kota Makassar menunjukkan komitmen serius dalam revitalisasi kota dengan menggandeng para ahli Arborist. Langkah ini krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem pohon yang ada, memastikan setiap individu pohon mendapatkan perawatan yang tepat sesuai kondisi dan karakternya.
- Tim ahli Arborist dilibatkan untuk menata dan menyelamatkan ekosistem pohon kota.
- Setiap pohon ditangani sesuai usia dan karakteristiknya, mengingat adanya pohon tua dan baru.
- Penggantian pohon fokus pada jenis adaptif, natif Indonesia, dan memiliki keterkaitan budaya Sulawesi.
- Prioritas utama penggantian pohon adalah potensi konflik akar dengan infrastruktur dan utilitas, serta isu keselamatan publik.
- Pohon natif Sulawesi seperti Bitti, Padiasa, dan Elaeocarpus diusulkan sebagai pengganti yang lebih sesuai.
Peran Krusial Arborist dalam Revitalisasi Kota Makassar
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, menegaskan pentingnya keterlibatan Arborist. Ia menjelaskan bahwa keragaman usia pohon di Makassar, dari yang paling tua hingga yang baru ditanam, menuntut metode penanganan yang spesifik. “Yang pasti, ahli Arborist itu tahu apa yang harus dilakukan. Setiap pohon punya karakteristiknya sendiri karena ada banyak pohon tua dan pohon baru dimana penanganannya pasti itu berbeda. Makanya, ahlinya dilibatkan,” ujar Helmy, menggarisbawahi kompleksitas pengelolaan vegetasi perkotaan.
Pengalaman saya sebagai pengamat lingkungan perkotaan seringkali menunjukkan bahwa pengelolaan pohon tanpa keahlian khusus dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Pengetahuan mendalam tentang botani, patologi pohon, dan mekanika pohon yang dimiliki Arborist adalah kunci untuk mencegah kerusakan infrastruktur dan menjaga kesehatan pohon.
Lebih dari Sekadar Ukuran: Pertimbangan Mendalam dalam Penggantian Pohon
Faris, salah satu perwakilan tim Arborist, memberikan pandangan mendalam mengenai kriteria penggantian pohon. Ia menekankan bahwa pemilihan jenis pohon pengganti akan memprioritaskan tanaman asli Indonesia (natif) yang terbukti adaptif dan memiliki resonansi kuat dengan ekosistem serta warisan budaya Sulawesi. Penggantian beberapa pohon, terutama ketapang kencana di depan kawasan Karebosi, bukanlah keputusan sepele yang didasarkan pada ukuran semata.
Faris merinci bahwa isu utama yang mendasari keputusan ini adalah kondisi fisik sebagian pohon dan potensi konflik antara sistem perakaran pohon dengan infrastruktur bawah tanah serta jaringan utilitas di area pedestrian. Ia memberikan contoh adanya pohon yang telah mengalami kerusakan signifikan, seperti rongga yang meluas dan kemiringan yang mencolok (sekitar 40 derajat), yang secara inheren menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat.
“Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja,” ungkap Faris, sebuah pengingat gamblang akan pentingnya aspek keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap perencanaan kota. Potensi dampak fatal dari pohon yang tidak terawat atau tidak sesuai lokasinya tidak bisa diabaikan.
Lebih lanjut, karakter pertumbuhan akar ketapang kencana yang agresif ketika mendapat suplai air dan nutrisi yang melimpah dari sistem drainase baru menjadi pertimbangan krusial. Jika pohon ini dipertahankan dalam konteks sistem drainase yang diperbarui, akarnya berpotensi menyumbat saluran air, yang dalam jangka panjang dapat berujung pada peningkatan biaya pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur kota. “Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada,” jelas Faris, merangkum kompleksitas teknis di balik keputusan ini.
Pilihan Lokal yang Adaptif dan Kaya Budaya
Menjawab tantangan tersebut, solusi yang ditawarkan adalah penggantian jenis pohon dengan varietas yang lebih harmonis dengan karakter kawasan, tanpa mengorbankan fungsi vitalnya sebagai elemen penghijauan kota. Faris mengusulkan beberapa jenis pohon natif Sulawesi yang memiliki keunggulan ekologis dan kultural:
- Pohon Bitti (Vitex cofassus): Pohon ini memiliki nilai kultural yang sangat kuat di Sulawesi Selatan, bahkan menjadi material penting dalam pembuatan kapal pinisi yang legendaris. Keberadaannya dapat memperkuat identitas lokal kota.
- Padiasa (Kleinhovia hospita): Dikenal luas karena memiliki beragam manfaat bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun ekologis.
- Elaeocarpus (Jati Tri/Jelatri): Menawarkan alternatif vegetasi yang juga kaya akan keunggulan tersendiri dalam konteks pelestarian lingkungan perkotaan.
Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya mampu menjaga dan meningkatkan estetika visual kota Makassar, tetapi juga secara signifikan memperkuat ketahanan ekosistem lokal serta menjamin keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang di kota Anging Mammiri.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: Budi S.























