Wartakita.id, Jakarta — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria pada Sabtu, 17 Oktober 2026, menyampaikan peringatan serius mengenai potensi risiko ketergantungan anak pada kecerdasan artifisial (AI). Imbauan ini dilontarkan sebagai respons terhadap perkembangan teknologi AI yang semakin meresap dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di era digital.
Ancaman Ketergantungan Anak pada AI
Perkembangan pesat teknologi kecerdasan artifisial (AI) memang menawarkan berbagai kemudahan dan inovasi. Namun, di balik potensi positif tersebut, tersimpan pula risiko yang perlu diwaspadai, khususnya bagi anak-anak. Nezar Patria menekankan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan kognitif dan kemandirian anak. Tanpa adanya kontrol dan pendampingan yang memadai, anak-anak berisiko menjadi terlalu bergantung pada solusi yang ditawarkan oleh AI, sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk mencari jawaban atau menyelesaikan masalah secara mandiri.
Lebih lanjut, Wamenkomdigi menyoroti bahwa ketergantungan pada AI dapat mengikis kemampuan berpikir kritis anak. Ketika anak terbiasa mendapatkan jawaban instan atau solusi yang sudah diformat oleh AI, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk menganalisis informasi, mengevaluasi berbagai sudut pandang, dan merumuskan pemikiran orisinal. Kemampuan berpikir kritis merupakan fondasi penting bagi perkembangan intelektual dan adaptasi anak di masa depan, yang sangat krusial dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.
Peran Krusial Pendampingan Digital Orang Tua
Menyadari kompleksitas lingkungan digital yang dihadapi generasi muda, Nezar Patria menegaskan pentingnya peran aktif orang tua dalam memberikan pendampingan digital. Diperkirakan sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh dan berkembang di tengah ekosistem digital yang semakin canggih. Angka ini menunjukkan betapa vitalnya literasi digital tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua agar mampu membimbing buah hati mereka secara efektif. Pendampingan ini bukan sekadar mengawasi penggunaan gawai, melainkan juga edukasi mengenai etika digital, keamanan siber, dan cara bijak memanfaatkan teknologi.
Keterlibatan orang tua dalam pendampingan digital menjadi kunci agar anak dapat memanfaatkan teknologi AI secara aman dan bertanggung jawab. Hal ini mencakup diskusi terbuka mengenai konten yang diakses, batasan waktu penggunaan, serta pemahaman tentang cara kerja AI. Dengan pendampingan yang kuat, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan salah, serta mendorong mereka untuk tetap aktif berpikir dan berinteraksi di dunia nyata, bukan hanya terpaku pada layar gawai.
Kolaborasi untuk Keamanan Digital Keluarga
Menghadapi tantangan ini, pemerintah tidak tinggal diam. Upaya peningkatan kesadaran dan literasi digital terus digalakkan. Salah satu bentuk kolaborasi yang dilakukan adalah antara pemerintah dan platform teknologi seperti WhatsApp. Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem keamanan digital, terutama bagi keluarga. Melalui berbagai program edukasi dan penyediaan fitur keamanan, diharapkan orang tua dan anak-anak dapat merasa lebih terlindungi saat berinteraksi di dunia maya.
Kolaborasi semacam ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk penyedia layanan teknologi, diharapkan masyarakat dapat lebih melek digital dan mampu mengadopsi teknologi, termasuk AI, secara positif. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi digital dapat memberikan manfaat maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa menimbulkan dampak negatif yang merugikan, terutama bagi generasi penerus bangsa.
Intinya
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan risiko ketergantungan anak pada kecerdasan artifisial (AI) karena penggunaan berlebihan dapat memengaruhi perkembangan kemandirian dan kemampuan berpikir kritis.
- Diperkirakan 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di era digital yang kompleks, sehingga pendampingan digital oleh orang tua menjadi sangat krusial untuk memastikan pemanfaatan teknologi yang aman dan bertanggung jawab.
- Pemerintah berkolaborasi dengan platform seperti WhatsApp untuk meningkatkan keamanan digital keluarga dan mendorong literasi digital guna menghadapi tantangan era digital yang semakin canggih.
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa ketergantungan pada AI dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis anak?
J: Ketergantungan pada AI dapat membuat anak terbiasa mendapatkan jawaban instan tanpa perlu menganalisis informasi secara mendalam, mengevaluasi berbagai sudut pandang, atau merumuskan pemikiran orisinal, yang merupakan elemen penting dari berpikir kritis.
T: Bagaimana peran orang tua dalam menghadapi era digital yang semakin kompleks bagi anak?
J: Orang tua memiliki peran krusial dalam memberikan pendampingan digital, yang meliputi edukasi etika digital, keamanan siber, cara bijak memanfaatkan teknologi, serta diskusi terbuka mengenai konten yang diakses untuk memastikan anak tumbuh menjadi pengguna teknologi yang aman dan bertanggung jawab.
Kontributor: M. Ridham
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























