Kelegaan luar biasa menyelimuti keluarga besar Ashari Samadikun, kapten kapal tanker MT Honour 25, setelah mendengar kabar sang putra, bersama tiga WNI lainnya, berhasil lepas dari cengkeraman perompak Somalia. Selama lebih dari lima bulan, mereka hidup dalam ketidakpastian dan ancaman maut, sebelum akhirnya operasi penyelamatan dramatis yang dilakukan aparat bersenjata Puntland membuahkan hasil. Suara Syamsuddin, ayah Ashari, bergetar menahan haru saat pertama kali mendengar kabar kebebasan anaknya. Momen itu menjadi penantian panjang yang penuh kecemasan, namun berakhir dengan pujian syukur yang tak terhingga.
- Kapten Ashari Samadikun dan tiga WNI lainnya selamat setelah disandera perompak Somalia selama lebih dari lima bulan.
- Penyelamatan dilakukan oleh aparat bersenjata Puntland melalui operasi penyergapan yang menegangkan.
- Lima ABK dilaporkan tewas oleh perompak sebelum penyergapan, terdiri dari warga negara Pakistan, India, dan Myanmar.
- Beberapa ABK mengalami luka-luka, termasuk seorang WNI bernama Fiki Mutakin, yang segera mendapat perawatan medis.
- Operasi pembebasan berlangsung pada Selasa pagi, 29 September 2026, di lepas pantai Somalia.
Wartakita.id – Kelegaan luar biasa menyelimuti keluarga besar Ashari Samadikun, kapten kapal tanker MT Honour 25, setelah mendengar kabar sang putra, bersama tiga WNI lainnya, berhasil lepas dari cengkeraman perompak Somalia. Selama lebih dari lima bulan, mereka hidup dalam ketidakpastian dan ancaman maut, sebelum akhirnya operasi penyelamatan dramatis yang dilakukan aparat bersenjata Puntland membuahkan hasil. Suara Syamsuddin, ayah Ashari, bergetar menahan haru saat pertama kali mendengar kabar kebebasan anaknya. Momen itu menjadi penantian panjang yang penuh kecemasan, namun berakhir dengan pujian syukur yang tak terhingga. Ia berulang kali mengucapkan “Alhamdulillah”, ungkapan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan putranya dan tiga rekan senegaranya.
Kabar Kebebasan yang Mengubah Segalanya
Setelah berbulan-bulan terputus komunikasi dan hanya bisa mengandalkan kabar sporadis, momen ketika Ashari berhasil menghubungi ayahnya menjadi puncak emosional yang tak tergambarkan. Dalam kondisi yang masih kacau pasca-penyergapan, Ashari berhasil mendapatkan kembali akses ke ponselnya dan segera menghubungi keluarga. “Anak saya [Ashari] sudah ambil dia punya hp. Dia sampaikan apa yang ada. Tapi dalam kondisi yang masih kacau,” tutur Syamsuddin, menggambarkan keprihatinan sekaligus kelegaan mendalam atas komunikasi singkat tersebut.
Kapal tanker MT Honour 25, yang berlayar dengan muatan sekitar 18.500 barel minyak menuju Mogadishu, ibu kota Somalia, dibajak pada bulan April 2026. Sejak saat itu, 17 awak kapal, termasuk empat WNI, menjadi sandera para perompak yang dikenal brutal. Pembajakan ini menambah daftar panjang ancaman keamanan maritim di perairan Somalia, yang meskipun telah diupayakan penanganannya, masih menjadi medan berbahaya bagi pelayaran internasional.
Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade, dalam keterangan kepada BBC Somali, mengungkapkan fakta mengerikan bahwa sebelum aparat bersenjata Puntland berhasil melakukan penyerbuan, para perompak dilaporkan telah membunuh lima orang sandera. Korban tewas ini terdiri dari tiga warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar. Selain korban jiwa, sejumlah awak kapal lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat kekerasan yang dilakukan para perompak.
Identitas ABK dan Kondisi Pasca-Penyelamatan
Di antara 17 awak kapal MT Honour 25, empat di antaranya adalah warga negara Indonesia. Mereka adalah:
- Ashari Samadikun, Kapten Kapal, asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
- Adi Faizal, 2nd Officer, asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
- Wahudinanto, Chief Officer, asal Pemalang, Jawa Tengah.
- Fiki Mutakin, asal Bogor, Jawa Barat.
Menurut keterangan Ashari kepada ayahnya, salah satu ABK yang mengalami luka tembak adalah Fiki Mutakin. Kondisi para ABK yang berhasil dibebaskan pasca-penyergapan memerlukan penanganan medis segera. Namun, situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil di wilayah tersebut menghalangi evakuasi langsung menggunakan helikopter.
Perjalanan menuju wilayah aman seperti Bosaso, yang ditempuh melalui jalur laut, diperkirakan memakan waktu sekitar lima hari. Oleh karena itu, para ABK yang terluka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat di wilayah Gorawe untuk mendapatkan perawatan intensif. Lima ABK yang mengalami luka-luka, termasuk Fiki Mutakin, menjalani perawatan medis di sana.
Sementara itu, tujuh ABK lainnya, termasuk tiga WNI (Ashari Samadikun, Wahudinanto, dan Adi Faizal), serta empat warga negara Pakistan, dibawa menuju Bosaso dengan pengawalan ketat dari aparat. Mereka sementara waktu ditempatkan di hotel sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dan penyelesaian administrasi dari pihak perusahaan pelayaran.
Operasi Pembebasan yang Mencekam
Operasi pembebasan yang dilancarkan pada Selasa pagi, 29 September 2026, berlangsung dramatis. Baku tembak antara aparat bersenjata Puntland dan kawanan perompak tak terhindarkan. Dalam kekacauan tersebut, para perompak dilaporkan menembak mati lima ABK. Pengalaman mencekam ini terekam jelas dalam kesaksian Ashari kepada ayahnya.
“Hampir mati tadi juga. Tidak bisa bantu itu,” ujar Ashari, yang menyampaikan betapa genting situasi di atas kapal MT Honour 25. Ia menggambarkan para awak kapal yang dilanda ketakutan luar biasa, menangis histeris menyaksikan rekan-rekan mereka terluka dan gugur, sementara aparat militer berusaha mengambil alih kendali kapal.
Syamsuddin menambahkan, berdasarkan cerita Ashari, beberapa perompak juga dilaporkan meninggal dalam insiden tersebut. Operasi ini berhasil menangkap 16 terduga perompak, sementara pelaku lainnya berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran oleh otoritas setempat. Pihak berwenang Puntland membantah adanya unsur kesengajaan dalam pelarian perompak tersebut.
“Kondisi para awak kapal sangat mengkhawatirkan. Mereka hanya bertahan dengan kesabaran dan doa serta sisa beras yang harus diirit.” – Syamsuddin, Ayah Kapten Ashari Samadikun
Nasib Para ABK dan Harapan Pulang ke Tanah Air
Saat ini, prioritas utama adalah penyelesaian administrasi terkait lima jenazah korban tewas dan penanganan medis bagi para ABK yang terluka. Pihak perusahaan pelayaran diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk memfasilitasi kepulangan seluruh awak kapal, terutama para WNI, ke Indonesia.
Ashari sendiri, meskipun telah bebas, menunjukkan sikap patriotik dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Ia menyatakan belum ingin pulang ke tanah air jika rekannya, Fiki Mutakin, yang masih dalam perawatan medis, belum pulih sepenuhnya. “Yang jelas anak saya [Ashari] sudah bebas, sudah tenang. Tinggal menunggu situasi aman kembali dan penyelesaian perusahaan,” pungkas Syamsuddin, yang terus memantau perkembangan kondisi putranya.
Peristiwa pembajakan MT Honour 25 ini kembali menyoroti kompleksitas isu keamanan maritim di Somalia dan dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya. Keterlibatan lembaga internasional dan upaya kolaboratif antarnegara sangat diperlukan untuk memberantas praktik pembajakan yang merugikan dan membahayakan nyawa para pelaut.
Kronologi Penyanderaan
Kapal tanker MT Honour 25 yang diawaki 17 pelaut, termasuk empat WNI, dibajak oleh kawanan perompak bersenjata pada 21 April 2026. Selama masa penyanderaan yang berlangsung lebih dari lima bulan, para awak kapal diberikan kesempatan terbatas untuk menghubungi keluarga mereka secara bergantian. Upaya negosiasi tebusan yang diajukan oleh perompak kepada pihak perusahaan tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Kondisi di atas kapal dilaporkan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Banyak di antara para sandera yang jatuh sakit akibat keterbatasan logistik dan stres berkepanjangan. Persediaan makanan dan minuman menipis drastis, memaksa para ABK untuk hidup hemat dan mengandalkan sisa perbekalan yang ada.
Penyelamatan ini menjadi bukti keberanian dan ketahanan para awak kapal dalam menghadapi situasi yang luar biasa sulit. Kisah mereka menjadi pengingat akan risiko pekerjaan di sektor pelayaran dan pentingnya perlindungan serta dukungan bagi para pelaut yang mengabdikan hidupnya di lautan.























