MAKASSAR, Wartakita.id – Tahun 2025 membawa fenomena budaya yang mengejutkan di Sulawesi Selatan. Bukan K-Pop atau budaya Barat yang mendominasi percakapan anak muda, melainkan kebangkitan neo-tradisionalisme.
Pemicunya adalah viralnya aplikasi “Lontara Keyboard AI” yang dikembangkan oleh startup lokal di Makassar. Aplikasi ini memudahkan transliterasi dan desain menggunakan aksara Lontara. Tiba-tiba, huruf ka-ga-nga yang dulu hanya ada di buku muatan lokal yang membosankan, kini menjadi estetika visual yang hype.
Kafe-kafe di bilangan Metro Tanjung Bunga berlomba-lomba menggunakan branding Lontara minimalis. Distro lokal merilis koleksi streetwear dengan pepatah Bugis-Makassar kuno (Pappaseng) yang relevan dengan isu kesehatan mental anak muda.
“Siri’ na Pacce” (Harga diri dan solidaritas) direinterpretasi. Bukan lagi tentang kekerasan atau gengsi feodal, tapi tentang integritas dalam berkarya dan solidaritas digital. Komunitas “Lontara Project” di TikTok berhasil mengemas ulang mitos I La Galigo menjadi konten storytelling pendek yang ditonton jutaan kali.
Ini adalah bukti bahwa budaya tidak pernah mati, ia hanya perlu berganti baju. Di tangan Gen Z Sulsel tahun 2025, warisan leluhur tidak ditaruh di museum, tapi dibawa masuk ke dalam smartphone.























