Pemerintah Kota Makassar, melalui Perumda Air Minum (PDAM), tengah mengimplementasikan sebuah solusi inovatif dan strategis untuk menjawab tantangan ketersediaan air bersih yang krusial. Inisiatif utama yang kini menjadi fokus adalah pembangunan bendungan karet di Sungai Tallo, sebuah langkah yang diproyeksikan akan memperkuat pasokan air minum kota ini secara signifikan untuk dekade mendatang.
Peran Krusial Bendungan Karet dalam Menjaga Kualitas Air Baku
Sebagai seorang yang kerap mengamati dinamika penyediaan air bersih di berbagai daerah, saya melihat pembangunan bendungan karet ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ini adalah respons cerdas terhadap ancaman nyata yang dihadapi Sungai Tallo: intrusi air laut. Fenomena ini, yang mengakibatkan peningkatan kadar Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut dalam air baku, secara konsisten mengganggu operasional Intake Manggala di kawasan Moncongloe.
Menurut penuturan Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, bendungan karet ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam menaikkan dan mengatur ketinggian air di sungai. “Ini solusi jangka panjang kebutuhan air baku, itu bisa menahan air laut masuk, sehingga TDS-nya bisa menurun dan pompa kita di Intake Manggala bisa 24 jam beraktivitas,” ujar Andi Syahrum. Pernyataannya menegaskan betapa vitalnya bendungan ini dalam menstabilkan operasional pompa yang selama ini kerap terhenti akibat fluktuasi kualitas air. Penghentian operasional pompa ini berdampak langsung pada ketidakstabilan pasokan air bersih bagi warga.
Potensi Besar Sungai Tallo dan Keunggulan Sistem Baru
Potensi Sungai Tallo sebagai sumber air baku baru sangatlah menjanjikan. Andi Syahrum mengestimasi, apabila kadar TDS dapat dikendalikan berkat bendungan karet, Sungai Tallo berpotensi menyuplai air baku antara 600 hingga 1.000 liter per detik. Kapasitas ini sangat berarti, terutama dalam menghadapi musim kemarau yang kerap menjadi periode kritis bagi ketersediaan air bersih.
Lebih lanjut, pemilihan Sungai Tallo sebagai sumber air baku memiliki keuntungan efisiensi yang signifikan. Lokasinya yang lebih dekat dengan Intake Manggala dibandingkan dengan pasokan utama PDAM Makassar saat ini, yakni Bendung Lekopancing di Kabupaten Maros, akan memangkas biaya operasional dan kehilangan air dalam distribusi. Jarak tempuh dari Lekopancing ke Moncongloe mencapai sekitar 20 kilometer, di mana volume air kerap menyusut drastis hingga tersisa 40 persen selama perjalanan. Sementara itu, kebutuhan minimal air baku untuk wilayah utara dan timur Makassar sendiri berkisar 300 liter per detik. Dengan potensi suplai 600 liter per detik dari Sungai Tallo, kebutuhan krusial ini dipastikan dapat terpenuhi dengan baik.
Ringkasan 5W+1H Inisiatif Bendungan Karet Sungai Tallo:
- What (Apa): Pembangunan bendungan karet di Sungai Tallo.
- Who (Siapa): Pemerintah Kota Makassar melalui Perumda Air Minum (PDAM).
- When (Kapan): Sedang dalam tahap persiapan dan koordinasi intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI.
- Where (Di Mana): Sungai Tallo, Makassar.
- Why (Mengapa): Untuk memperkuat pasokan air baku, menahan intrusi air laut, menurunkan kadar TDS, dan menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dalam jangka panjang.
- How (Bagaimana): Melalui konstruksi bendungan karet yang berfungsi menahan air laut, menaikkan serta mengatur ketinggian air sungai secara fleksibel, dan mengoptimalkan operasional pompa di Intake Manggala.
Usulan pembangunan bendungan karet ini telah mendapatkan persetujuan dari Wali Kota Makassar dan kini dalam proses koordinasi lanjutan dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI, menandakan keseriusan pemerintah dalam memastikan keberlanjutan pasokan air bersih bagi seluruh warga Makassar.
Kontributor: RR. Nur
Penyunting: MA. Untung























