JAKARTA, Wartakita.id – Bayangkan sejenak: tahun 2025. Langit lebih biru, udara lebih bersih, dan energi yang menggerakkan kehidupan kita tak lagi dibayangi asap hitam. Ini bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah target ambisius yang kini berada di ambang kenyataan. Dunia, dipimpin oleh negara-negara G20, tengah bergerak menuju capaian monumental: 40% kebutuhan listrik global akan disuplai dari sumber energi terbarukan. Sebuah terobosan hijau yang tak hanya mengubah lanskap energi, tetapi juga harapan akan masa depan planet ini.
Perjalanan menuju 40% ini bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari komitmen global yang tak tergoyahkan untuk melawan krisis iklim. Ancaman pemanasan global yang berpotensi melampaui batas kritis 1,5°C di atas tingkat pra-industri telah menyatukan para pemimpin dunia dalam satu visi. Dari lorong-lorong konferensi iklim hingga rapat kabinet, desakan untuk dekarbonisasi semakin kuat. Target 40% listrik bersih pada 2025 ini, jika tercapai, akan menjadi pilar utama dalam mengurangi emisi global hingga 20%, membuka jalan menuju janji net-zero yang akan dideklarasikan pada COP30 di Brazil.
Gelombang Hijau dari Asia hingga Eropa
Pusaran perubahan ini terasa paling kentara di dua benua kunci: Asia dan Eropa. Eropa, dengan kebijakan iklimnya yang agresif dan investasi besar dalam energi hijau, telah lama menjadi pelopor. Sementara itu, Asia, yang merupakan pusat populasi terbesar dan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, sekaligus penyumbang emisi terbesar, kini bangkit sebagai raksasa energi terbarukan. Negara-negara G20, yang mewakili 80% ekonomi dunia dan 75% emisi global, berada di garis depan transisi ini. Mereka adalah arsitek di balik kebijakan, pendorong investasi, dan juga konsumen utama energi bersih.
Kekuatan pendorong utama di balik gelombang hijau ini tak lain adalah energi surya (solar) dan angin. Dua teknologi ini telah mengalami kemajuan pesat dalam efisiensi dan penurunan biaya produksi, menjadikannya pilihan yang semakin kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil. Subsidi pemerintah yang meningkat untuk pengembangan panel surya dan turbin angin, ditambah dengan inovasi teknologi yang berkelanjutan, telah mempercepat adopsi massal. Transformasi ini juga terlihat dari pergeseran paradigma perusahaan energi tradisional. Ambil contoh Adaro, yang dikenal sebagai salah satu raksasa batubara di Indonesia, kini mulai merambah investasi di sektor energi terbarukan. Ini adalah sinyal jelas bahwa masa depan energi ada pada dekarbonisasi, bahkan bagi pemain industri lama.
Investasi Triliunan Dolar dan Kontribusi Indonesia
Mewujudkan ambisi global ini tentu membutuhkan dana yang tak sedikit. Estimasi investasi global yang dialokasikan untuk transisi energi bersih mencapai angka fantastis, setara dengan puluhan ribu triliun Rupiah, atau lebih dari 600 miliar Dolar AS. Dana sebesar ini mengalir ke berbagai proyek, mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala besar, ladang turbin angin di darat dan lepas pantai, hingga infrastruktur transmisi dan penyimpanan energi.
Indonesia, sebagai salah satu negara G20 dan pemain penting di Asia, tidak tinggal diam. Dengan potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia berkomitmen untuk menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 5 Gigawatt (GW). Angka ini adalah bagian dari upaya lebih besar untuk mencapai bauran energi terbarukan yang lebih tinggi dalam sistem kelistrikan nasional. Proyek-proyek PLTS terapung di waduk-waduk besar, PLTS atap, hingga PLTS skala utilitas akan menjadi wajah baru energi Indonesia.
Inspirasi dari Akar Rumput: Desa Off-Grid Bali
Namun, transisi energi ini bukan hanya tentang proyek-proyek raksasa dan investasi triliunan. Kisah inspiratif juga datang dari tingkat akar rumput. Di beberapa pelosok Bali, misalnya, sejumlah desa telah berhasil mengembangkan sistem kelistrikan mandiri atau off-grid yang sepenuhnya ditenagai oleh energi surya. Desa-desa ini tidak lagi bergantung pada jaringan listrik nasional, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan keandalan pasokan listrik mereka. Keberhasilan desa-desa ini membuktikan bahwa solusi energi bersih dapat diimplementasikan secara efektif, tidak hanya di tingkat makro, tetapi juga di tingkat komunitas, memberdayakan masyarakat, dan memberikan contoh nyata kemandirian energi.
Tahun 2025 bukan sekadar angka di kalender. Ini adalah tenggat waktu yang menjadi saksi bisu upaya kolektif umat manusia untuk menyelamatkan planetnya. Dengan 40% listrik dunia berdenyut dari energi bersih, kita tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga membangun fondasi bagi ekonomi yang lebih hijau, inovasi yang tak terbatas, dan masa depan yang lebih terang bagi generasi mendatang. Tantangan masih ada, namun dengan komitmen dan kolaborasi, terobosan hijau ini akan menjadi babak baru dalam sejarah peradaban manusia.























