Wartakita.id, Jakarta — Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) pada Minggu, 18 Oktober 2026, secara tegas menekankan bahwa kemajuan teknologi di era digital harus berjalan seiring dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan empati di kalangan masyarakat. Penekanan ini muncul sebagai respons terhadap kompleksitas tantangan yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin masif.
Menavigasi Kompleksitas Era Digital
Perhumas menyoroti bahwa lanskap digital saat ini menghadirkan berbagai kemudahan, namun juga memunculkan tantangan baru yang memerlukan pendekatan yang lebih matang. Dalam konteks ini, kemampuan berpikir kritis menjadi garda terdepan untuk memilah informasi yang akurat dari disinformasi yang kerap beredar. Tanpa kemampuan ini, masyarakat rentan terjerumus dalam hoaks atau manipulasi digital yang dapat berdampak luas pada individu maupun kelompok.
Di sisi lain, empati memegang peranan krusial dalam menjaga interaksi digital tetap manusiawi. Kemampuan untuk memahami dan merasakan perspektif orang lain, bahkan dalam ruang virtual, sangat penting untuk mencegah polarisasi dan konflik. Perhumas meyakini bahwa kombinasi kedua kemampuan ini—berpikir kritis dan empati—adalah fondasi bagi masyarakat yang adaptif dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti Kemanusiaan
Organisasi yang bergerak di bidang kehumasan ini menegaskan bahwa teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang memberdayakan, bukan sebagai pengganti nilai-nilai kemanusiaan. Pemanfaatan teknologi, mulai dari media sosial hingga kecerdasan buatan, harus selalu diarahkan untuk kebaikan bersama dan tidak mengabaikan aspek etika serta moral. Penggunaan yang bijak akan memastikan bahwa kemajuan teknologi berkontribusi positif bagi pembangunan sosial dan ekonomi.
Lebih lanjut, Perhumas mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi juga menjadi agen yang aktif dalam mengarahkan penggunaannya. Edukasi berkelanjutan mengenai literasi digital yang mencakup aspek kritis dan empatik menjadi kunci. Hal ini penting agar setiap individu mampu mengidentifikasi potensi risiko dan manfaat dari setiap teknologi yang diadopsi, serta mampu menggunakannya secara konstruktif.
Membangun Masyarakat Digital yang Bertanggung Jawab
Upaya Perhumas ini sejalan dengan agenda nasional untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan produktif. Dengan membekali masyarakat melalui edukasi dan penekanan pada pentingnya keseimbangan, diharapkan tercipta masyarakat yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi akan dampak sosial dan etis dari penggunaannya. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar melayani kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab juga mencakup perlindungan data pribadi dan keamanan siber. Dalam konteks ini, berpikir kritis membantu individu untuk lebih waspada terhadap potensi ancaman keamanan, sementara empati mendorong terciptanya lingkungan digital yang saling menghormati dan melindungi. Perhumas berharap kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, dapat memperkuat narasi ini.
Intinya
- Perhumas menekankan bahwa penggunaan teknologi di era digital harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan empati untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
- Kemampuan berpikir kritis diperlukan untuk memilah informasi yang akurat, sementara empati menjaga interaksi digital tetap manusiawi dan mencegah polarisasi.
- Teknologi harus diposisikan sebagai alat pemberdayaan yang digunakan secara bertanggung jawab, etis, dan tidak mengabaikan aspek kemanusiaan demi kebaikan bersama.
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa Perhumas menekankan pentingnya berpikir kritis dan empati di era digital?
J: Perhumas menekankan hal ini karena era digital menghadirkan kompleksitas informasi dan interaksi yang memerlukan kemampuan untuk memilah kebenaran, memahami perspektif orang lain, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pemanfaatan teknologi.
T: Bagaimana masyarakat dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan empati dalam menggunakan teknologi?
J: Masyarakat dapat mengembangkan kemampuan ini melalui edukasi literasi digital yang berkelanjutan, aktif mencari sumber informasi yang kredibel, melatih diri untuk memahami sudut pandang yang berbeda, serta berpartisipasi dalam diskusi yang konstruktif di ruang digital.
Kontributor: M. Ridham
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























