Wartakita.id, Jakarta — Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai dampak serius Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhadap kesehatan anak-anak di seluruh Indonesia. Melalui serangkaian pernyataan dan upaya edukasi publik yang intensif, IDAI menyoroti bagaimana asap pekat yang dihasilkan dari fenomena tahunan ini menjadi ancaman nyata, terutama bagi kelompok usia yang paling rentan.
Ancaman ISPA dan Kerentanan Pernapasan Anak
Asap Karhutla mengandung berbagai partikel berbahaya, termasuk PM2.5, yang dapat dengan mudah terhirup dan masuk ke dalam sistem pernapasan anak. IDAI secara konsisten mengingatkan bahwa paparan langsung terhadap polusi udara ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak-anak. Gejala seperti batuk, pilek, sesak napas, hingga radang paru-paru menjadi lebih sering terjadi ketika kualitas udara memburuk akibat asap.
Kerentanan anak-anak terhadap dampak asap Karhutla memang bukan tanpa alasan. Sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan, membuat paru-paru dan saluran napasnya belum sekuat dan sematang orang dewasa. Hal ini menjadikan mereka lebih mudah teriritasi dan terinfeksi oleh partikel-partikel halus yang terkandung dalam asap, sehingga memerlukan perhatian ekstra dalam situasi bencana asap.
Dampak Jangka Panjang pada Tumbuh Kembang
Lebih dari sekadar ancaman kesehatan akut, IDAI juga menyoroti potensi dampak jangka panjang dari paparan asap Karhutla terhadap tumbuh kembang anak. Paparan polusi udara yang berulang atau berkepanjangan dapat memengaruhi perkembangan paru-paru secara permanen, bahkan berisiko menimbulkan masalah kesehatan kronis di kemudian hari, seperti asma atau penyakit pernapasan lainnya. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran besar bagi masa depan generasi penerus bangsa.
Gangguan tumbuh kembang tidak hanya terbatas pada aspek fisik pernapasan. Kualitas udara yang buruk juga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan perkembangan neurologis anak. Anak yang sering sakit atau mengalami ketidaknyamanan akibat asap mungkin akan mengalami penurunan konsentrasi, kesulitan belajar, dan keterlambatan dalam pencapaian tumbuh kembang optimal. Oleh karena itu, perlindungan dari asap Karhutla menjadi investasi penting bagi masa depan anak.
Peran IDAI dalam Edukasi dan Pencegahan
Menyadari urgensi situasi ini, IDAI mengambil peran proaktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Melalui berbagai kanal komunikasi, organisasi profesi ini berupaya menyebarkan informasi mengenai bahaya asap Karhutla, gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua dan keluarga. Edukasi ini mencakup pentingnya membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan masker yang sesuai, serta menjaga kebersihan lingkungan di dalam rumah.
Selain edukasi, IDAI juga mendorong upaya pencegahan yang lebih luas, termasuk advokasi kebijakan yang lebih kuat untuk penanggulangan Karhutla dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan. Dengan sinergi antara edukasi publik, kesadaran masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang efektif, diharapkan risiko kesehatan anak akibat asap Karhutla dapat diminimalisir secara signifikan. Perlindungan anak dari ancaman lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Intinya
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sangat berisiko bagi kesehatan anak, terutama meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
- Anak-anak lebih rentan terhadap dampak buruk asap Karhutla karena sistem pernapasan mereka yang belum matang, dan paparan jangka panjang dapat mengganggu tumbuh kembang mereka secara fisik maupun kognitif.
- IDAI menekankan pentingnya perlindungan anak dari paparan asap melalui edukasi publik mengenai bahaya, gejala, dan langkah pencegahan, serta advokasi kebijakan penanggulangan Karhutla.
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa anak-anak lebih rentan terhadap dampak asap Karhutla dibandingkan orang dewasa?
J: Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang, saluran napas yang lebih sempit, dan paru-paru yang belum sepenuhnya matang. Hal ini membuat mereka lebih mudah teriritasi dan terinfeksi oleh partikel-partikel berbahaya dalam asap, serta lebih cepat mengalami gangguan pernapasan.
T: Langkah konkret apa yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari asap Karhutla?
J: Orang tua disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruangan anak saat kualitas udara buruk, menggunakan masker yang tepat jika terpaksa keluar, menjaga ventilasi rumah tetap baik namun meminimalkan masuknya asap, serta segera memeriksakan anak ke dokter jika menunjukkan gejala ISPA.
Kontributor: RR. Nur
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























