Wartakita.id, Jakarta — Masa depan mobilitas listrik tampaknya semakin cerah dengan kabar terbaru dari raksasa produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Perusahaan ini dilaporkan tengah serius menggarap teknologi baterai lithium-air yang secara teoretis mampu mengantarkan mobil listrik melesat hingga 2.000 kilometer dalam sekali pengisian daya. Angka fantastis ini berpotensi menjadi solusi pamungkas untuk mengatasi kekhawatiran utama calon konsumen kendaraan listrik: keterbatasan jarak tempuh.
Informasi mengenai terobosan ini diungkapkan langsung oleh Chief Scientist CATL, Wu Kai, pada Sabtu, 7 November 2026, dalam forum bergengsi Equipment Powerhouse Forum 2026. Pengembangan baterai lithium-air ini merupakan bagian dari agenda riset jangka panjang CATL untuk menghadirkan solusi energi yang lebih efisien dan berkapasitas tinggi, melampaui apa yang ditawarkan oleh baterai lithium-ion konvensional yang saat ini mendominasi pasar kendaraan listrik.
Intinya
- CATL sedang mengembangkan teknologi baterai lithium-air yang secara teoretis memungkinkan mobil listrik menempuh jarak hingga 2.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.
- Potensi jarak tempuh luar biasa ini didasarkan pada perhitungan kepadatan energi teoretis baterai lithium-air, yang jauh melampaui baterai lithium-ion saat ini.
- Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan oksigen dari lingkungan sekitar sebagai reaktan pada elektroda positif, sebuah mekanisme yang berbeda dari baterai lithium-ion.
- Meskipun menjanjikan, pengembangan baterai lithium-air masih menghadapi sejumlah kendala teknis signifikan yang perlu diatasi sebelum dapat diaplikasikan secara komersial.
Perbedaan fundamental antara baterai lithium-air dan lithium-ion terletak pada cara mereka menghasilkan energi. Baterai lithium-air memanfaatkan oksigen dari udara bebas sebagai salah satu komponen kunci dalam reaksi elektrokimia. Oksigen dari lingkungan sekitar akan bereaksi dengan lithium pada elektroda positif untuk menghasilkan energi listrik. Mekanisme ini secara teoritis memungkinkan kepadatan energi spesifik yang jauh lebih tinggi, diperkirakan mencapai sekitar 3.505 Wh/kg. Sebagai perbandingan, baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik saat ini memiliki kepadatan energi yang jauh di bawah angka tersebut.
Dengan kepadatan energi yang superior ini, bukan tidak mungkin sebuah mobil listrik dapat menempuh jarak ribuan kilometer tanpa perlu mengisi daya. Namun, penting untuk dicatat bahwa angka 2.000 kilometer ini masih bersifat teoretis dan merupakan hasil perhitungan berdasarkan potensi teknologi. Belum ada pengujian pada kendaraan produksi yang menunjukkan hasil serupa.
Pengembangan teknologi baterai lithium-air bukanlah tanpa tantangan. Para peneliti dan insinyur di CATL, serta institusi riset lainnya di seluruh dunia, masih bergulat dengan berbagai kendala teknis. Salah satu isu krusial adalah pengendalian kualitas udara yang masuk ke dalam baterai. Kelembapan dan karbon dioksida (CO2) dari udara dapat mengkontaminasi komponen baterai dan menurunkan kinerjanya. Selain itu, akumulasi material hasil reaksi kimia pada elektroda, efisiensi energi secara keseluruhan, kemampuan pengisian ulang yang stabil, serta ketahanan baterai dalam jangka panjang juga menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan.
Meskipun demikian, kemajuan dalam riset baterai lithium-air terus dilaporkan. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2024 berhasil mengembangkan baterai pouch cell lithium-air dengan kepadatan energi 757,5 Wh/kg dalam pengujian laboratorium. Sementara itu, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah terkemuka, Science, pada tahun 2023, memperkenalkan rancangan baterai lithium-air yang menggunakan elektrolit padat dan diklaim mampu menjalani setidaknya 1.000 siklus pengisian dan pengosongan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun jalan masih panjang, potensi baterai lithium-air untuk merevolusi industri kendaraan listrik semakin terlihat nyata.
Kerap Ditanyakan
T: Apa perbedaan utama antara baterai lithium-air dan baterai lithium-ion?
J: Perbedaan utamanya terletak pada penggunaan oksigen dari lingkungan sekitar sebagai reaktan pada elektroda positif dalam baterai lithium-air, sementara baterai lithium-ion menggunakan katoda yang mengandung material seperti oksida logam. Hal ini membuat baterai lithium-air secara teoretis memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi.
T: Kapan baterai lithium-air akan tersedia di pasaran?
J: Belum ada jadwal pasti kapan teknologi baterai lithium-air akan siap untuk produksi massal dan diaplikasikan pada kendaraan komersial. Masih banyak tantangan teknis yang perlu diatasi sebelum teknologi ini matang.
T: Berapa jarak tempuh yang realistis jika baterai lithium-air berhasil dikembangkan?
J: Angka 2.000 kilometer yang disebutkan oleh CATL masih bersifat teoretis berdasarkan kepadatan energi. Jarak tempuh realistis pada kendaraan produksi akan sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk efisiensi kendaraan itu sendiri dan kemajuan teknologi baterai dalam mengatasi kendala yang ada.
Kontributor: M. Ridham
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























