Wartakita.id, Makassar — Hujan ringan hingga sedang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, sore hari. Fenomena ini menjadi penanda berakhirnya periode musim kemarau panjang yang telah melanda provinsi ini, membawa kelegaan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Guyuran air hujan ini, yang disertai angin kencang di beberapa lokasi, sejalan dengan prediksi BMKG Wilayah IV Makassar mengenai masa peralihan musim.
Angin Kencang Mengawali Guyuran Hujan di Gowa
Di Kabupaten Gowa, Kecamatan Pattallassang, Desa Palantikang, warga merasakan dampak langsung dari perubahan cuaca ini. Sekitar pukul 16.00 WITA, angin kencang mulai berembus, disusul oleh hujan ringan yang berlangsung konstan selama lebih dari 15 menit. Desa Palantikang sendiri berjarak sekitar 21 kilometer dari pusat Kota Makassar, menunjukkan bahwa fenomena cuaca ini tidak hanya terbatas di perkotaan, tetapi juga merambah ke wilayah penyangga.
Kejadian hujan di Desa Palantikang ini menjadi gambaran awal dari apa yang akan terjadi di wilayah lain. Intensitas hujan yang ringan di awal, namun cukup terasa setelah sekian lama hanya merasakan teriknya matahari, memberikan harapan baru bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih. BMKG Wilayah IV Makassar telah memprediksi bahwa masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan akan ditandai dengan pola cuaca seperti ini, di mana hujan turun secara sporadis namun cukup signifikan.
Sidrap Diguyur Hujan Sedang Disertai Angin Kencang Sejak Siang
Berbeda dengan Gowa, di Kabupaten Sidrap, tepatnya di Desa Tana Toro, Kecamatan Pitu Riase, hujan dengan intensitas sedang hingga curah deras disertai angin kencang telah terjadi sejak pukul 14.00 WITA. Fenomena ini menunjukkan variasi pola hujan yang terjadi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, meskipun semuanya berada dalam koridor masa peralihan musim. Hujan yang lebih deras di Sidrap ini kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan atmosfer lokal yang lebih mendukung pembentukan awan hujan.
Turunnya hujan di Sidrap, yang merupakan salah satu sentra pertanian di Sulsel, tentu menjadi kabar gembira bagi para petani. Kekeringan yang melanda sebelumnya tentu berdampak pada hasil panen dan ketersediaan air untuk irigasi. Hujan kali ini diharapkan dapat memulihkan kondisi tanah dan sumber air, serta memberikan dorongan positif bagi produktivitas pertanian di wilayah tersebut. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Makassar dan 10 Daerah Lainnya Ikut Rasakan Hujan
Kota Makassar, sebagai ibu kota provinsi, tidak ketinggalan merasakan guyuran hujan ringan pada Sabtu sore ini. Kehadiran hujan di Makassar, meskipun ringan, memberikan sedikit jeda dari cuaca panas yang kerap menyelimuti kota metropolitan ini. Secara keseluruhan, BMKG Wilayah IV Makassar melaporkan bahwa total 12 daerah di Sulawesi Selatan mengalami hujan ringan pada hari yang sama. Data ini mencakup wilayah-wilayah yang disebutkan sebelumnya, serta sepuluh daerah lainnya yang tersebar di berbagai kabupaten.
Pola hujan yang terjadi ini merupakan bagian dari siklus alam yang normal, namun menjadi sangat berarti setelah periode kemarau yang cukup panjang. BMKG Wilayah IV Makassar mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang cepat, termasuk kemungkinan angin kencang susulan atau hujan dengan intensitas yang lebih tinggi di beberapa area. Informasi prakiraan cuaca yang akurat sangat penting untuk perencanaan aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor outdoor atau yang bergantung pada kondisi cuaca.
Intinya
- Hujan ringan hingga sedang mengguyur 12 daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Makassar, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, menandai berakhirnya musim kemarau panjang.
- Fenomena ini diawali angin kencang di beberapa lokasi seperti Gowa dan Sidrap, dengan intensitas hujan bervariasi dari ringan hingga sedang/deras.
- BMKG Wilayah IV Makassar menyatakan bahwa kejadian ini sejalan dengan prediksi masa peralihan musim dari kemarau ke musim hujan.
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa hujan turun di Sulawesi Selatan setelah musim kemarau panjang?
J: Hujan turun karena Sulawesi Selatan sedang memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke musim hujan, sesuai dengan prediksi BMKG Wilayah IV Makassar.
T: Apakah hujan ini berbahaya bagi masyarakat?
J: Hujan ini umumnya ringan hingga sedang dan membawa kelegaan, namun BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi angin kencang susulan atau perubahan cuaca yang cepat.
Kontributor: Budi S.
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























