Beranda Fiksi

Seketika **

Ketika hujan tak berjeda, bilamana awan gelap menyelimuti matahari, kala halilintar dan guruh bersahutan. Seorang gadis kecil menari riang dalam badai.

Semua tahu dia siapa. Tariannya seringkali membuat badai malu mengiringi, seketika meminta matahari mendampingi. Benang-benang cahaya menjulur di antara awan gelap mengikuti langkah kakinya.

Gadis kecil itu memasuki sebuah negeri yang sedamai nisan. Sambil melompat kecil, terdengar ia menggumam. Mungkin bersiul. Nadanya riang, kembang Jepun berguguran karenanya.

Bila kelak engkau bahagia sentosa
Janganlah lupa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Sabar dan tegarlah
Jalani qada dan qadarmu

Orang-orang mulai menari bersamanya. Kepada setiap orang yang menari ia bertanya, “Kemana mencari kebun Mawar, durinya melukaiku sebelum wanginya kuhirup.”

Seketika orang-orang terdiam membeku. Seorang lelaki tua penduduk negeri menghampiri, “Jangan ke sana, negeri ini riang gembira sebelum kami menemukan kebun mawar yang kau cari.”

Ia tersenyum tetap menari walau tak ada lagi yang mengiringi. Ia tak peduli. Seketika angin membawa wangi mawar menuntun langkahnya.

***

Ketika hujan tak berjeda, bilamana awan gelap menyelimuti matahari, kala halilintar dan guruh bersahutan. Seorang gadis kecil menari riang gembira bersama badai. Ia terus menari hingga badai kembali malu mengiringi.

Di sebuah padang rumput ia bertanya kepada seorang perempuan yang kehilangan sepatu, kakinya penuh duri. “Jangan ke sana, dulu aku seriang dirimu sebelum tarianku dicuri badai di depan kebun mawar.”

Ia tak peduli. “Tunggulah di sini, akan kubawa kelopak mawar pengobat luka dan sepatu yang terbawa badai.”

Di sebuah perjamuan pernikahan di tepi hamparan padang rumput, gadis kecil itu ikut menari bersama sepasang pengantin. Tersenyum kecil mendengar tetamu dan pengantin berbisik, “Dia yang berikutnya ataukah yang terakhir.”

Ia tak peduli. “Aku bukan urutan, juga bukan giliran, tetapi tujuan.”

***

Ketika hujan tak berjeda, bilamana awan gelap menyelimuti matahari, kala halilintar dan guruh bersahutan. Seorang gadis kecil menari riang gembira bersama badai. Ia terus menari hingga badai kembali malu mengiringi.

“Kenapa berhenti, menarilah bersamaku.”

“Jiwamu lebih tua dari kami, biarlah matahari yang mendampingi.”

“Hei, aku ini hanya seorang gadis kecil yang menari menuju kebun mawar.”

Badai tak peduli. Meminta matahari mendampingi. Benang-benang cahaya menjulur di antara awan gelap mengikuti langkah kakinya.

Gadis kecil itu terus menari, melewati badai demi badai yang semakin malu mengiringi tariannya. Ia menuju sebuah bukit mawar.

***

Di dalam kebun mawar yang hampir semuanya layu, gadis kecil itu masih riang menari. Seketika hujan tak berjeda, bilamana awan gelap menyelimuti matahari, kala halilintar dan guruh bersahutan.

Di depan setangkai mawar yang sebentar lagi juga layu, ia berhenti menari.

Duhai suka cita, mari
Ikutlah menari
Bersamaku pulang ke rumah

***

 

**) Fiksi AB, mengusili “Pada Suatu Ketika

Komentar

BERBAGI