Beranda Alam

BNPB : Sejak Januari – September 2018 Tercatat 1.999 Kejadian Alam dan Bencana

Waspada dan selalu siap kita hidup di negeri yang berada di cincin api. Kenali karakter setiap kejadian alam dan tanggap mitigasi bencana melalui beberapa video animasi resmi dari BNPB.

Puing-puing rumah korban gempa dan tsunami di Loli, Donggala. (Foto: Kontributor Wartakita)

Wartakit.ID, Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan dari Januari hingga 24 September 2018 tercatat ada 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Menurut Sutopo jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang.

“Dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar,” kata Sutopo dalam keterangan tertulis, Kamis, 25 Oktober 2018.

Video animasi tanggap erupsi gunung berapi:

Sutopo mengatakan dari bencana yang terjadi tahun ini, terdapat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang; 13.112 orang luka-luka; 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana; 339.969 rumah rusak berat; 7.810 rumah rusak sedang; 20.608 rumah rusak ringan; dan ribuan fasilitas umum rusak.

Video animasi tanggap gempa bumi:

Sutopo mengatakan Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Menurut Dia berbagai bencana selalu menyertai setiap tahun. Sutopo melihat tren bencana juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

“Tingginya bahaya bencana, seperti gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, dan cuaca ekstrem, juga masih tingginya kerentanan dan masih rendahnya kapasitas menyebabkan tingginya risiko bencana,” ujar Sutopo.

Tas siaga bencana atau Emergency Preparedness Kit, berisi kumpulan barang-barang kebutuhan yang dipersiapkan sebelum terjadi bencana dan diperlukan dalam keadaan darurat.

Tas siaga bencana diperlukan setelah terjadi keadaan darurat, bersiaplah untuk kondisi terburuk untuk bertahan setidaknya dalam kurun waktu selama 72 jam (3 hari pertama) yang diperlukan dalam keadaan darurat. Untuk mempersiapkan tas siaga bencana, Anda tinggal menyimpan semua barang yang diperlukan ke dalam kantong plastik kedap air dan memasukkannya ke dalam tas ransel.

Kebutuhan dasar minimum yang direkomendasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI untuk dimasukkan ke dalam tas siaga bencana yang pertama adalah dokumen-dokumen penting seperti foto copy kartu keluarga, tanda pengenal (KTP, SIM, paspor), polis asuransi, buku tabungan, dan surat/sertifikat berharga dengan ijazah dimasukkan ke dalam plastik kedap air.

Berikutnya berisi perbekalan antara lain air minum kemasan, makanan siap saji, pakaian ganti (baju lengan panjang, celana panjang, pakaian dalam), senter dan baterai cadangan, dan kotak P3K. Kemudian ada perlengkapan lain seperti uang tunai, kertas dan pensil, foto anggota keluarga, tas ransel, peluit untuk memberi sinyal bantuan, jas hujan plastik, pisau lipat serba guna, tali nilon, peta, serta telepon seluler dengan pengisi daya (charger) plus baterai cadangan/power bank.

Menurut Sutopo, bencana adalah multidisiplin, multisektor, multidimensi dan multikompleks yang satu sama lain saling berkaitan sehingga memerlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Selama tahun 2018, kata Sutopo, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar, yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26 Februari yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah, pada 22 Februari yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang. Banjir bandang di Mandailing Natal pada 12 Oktober 2018 menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang.

Video animasi tanggap banjir:

Juga, menurut Sutopo, gempa bumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada 29 Juli, 5 Agustus, dan 19 Agustus menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi.
“Bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi,” ujar Sutopo.
Saat ini, menurut Sutopo wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan.

Sutopo memperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Dia mengatakan gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Sutopo melihat rata-rata dalam setahun terjadi 5-6 ribu kali gempa.

Video animasi tanggap tsunami:

“Gempa bumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya,” ujar Sutopo.

Komentar